Selasa, 19 Maret 2019

Hai to Gensou no Grimgar (Indonesia):Volume 1. Kehilangan dan Tak Punya Pilihan., Yorozu, Menikmati Kehidupan di Guild dan Pertemuan

Hai to Gensou no Grimgar (Indonesia):Volume 1

Contents

    • Kehilangan dan Tak Punya Pilihan.
    • Yorozu
    • Menikmati Kehidupan di Guild.
    • Pertemuan
    • Bersambung.......???

Ilustrasi

Kehilangan dan Tak Punya Pilihan.


Sepertinya, pilihan terbaik adalah meninggalkan markas Crimson Moon, namun ke mana mereka harus pergi? Walaupun mencaritahu lebih banyak informasi tentang Altana adalah langkah pertama, Haruhiro dan yang lainnya tidak tahu dari manakah mereka harus memulai. Mereka juga tidak tahu siapakah yang bisa dimintai bantuan. Kelompok Renji, Kikkawa, Manato, bahkan Raghill dan Mogzo tak tahu sudah pergi ke mana. Sepertinya semuanya sudah berpisah untuk menapaki jalannya masing-masing.

Haruhiro, Ranta, Shihoru, dan Yume berdiri di luar markas Crimson Moon dalam keadaan linglung selama beberapa waktu.

Shihoru lah yang pertama kali berbicara untuk memecah keheningan.”... .Apa yang harus kita lakukan sekarang?"

Mengapa bertanya? Justru aku lah orang yang harus bertanya padamu, Haruhiro ingin menyelatuk seperti itu, namun atas dasar kesopanan terhadap gadis, dia pun membalas pertanyaan itu,

"Pertanyaan bagus. Apa yang harus kita lakukan sekarang…"

"Apa ... yang harus kita lakukan?" Ulangnya.

"Kalian ..." Ranta menghela napas berat.”Kalian harus lebih… yahhh kalian tahu… lebih mandiri atau semacamnya. Sekarang bukan waktunya untuk bertanya tentang apa yang harus dilakukan…."

"Kalau begitu, apakah kau punya ide?" Kata Haruhiro.

"Aku sedang berpikir keras tentang itu."

Yume terkikik.”B’rarti, kamu juga ndak punya ide."

Ranta menggosok bagian bawah hidungnya dengan jari.”Sialnya, aku masih belum punya ide.”

Ini sungguh menyebalkan, Haruhiro hanya bisa berpikir seperti itu. Mungkin Raghill benar; mungkin mereka hanyalah ampas yang tak berguna. Mereka adalah empat ampas yang tidak bisa membuat keputusan atau melakukan suatu hal pun secara mandiri. Bahkan sejak awal, mereka belum tentu bisa bekerjasama, dan yang mereka lakukan saat ini hanyalah terpaku di depan markas Crimson Moon bersama-sama. Jika dibandingkan dengan yang lain, mungkin ini adalah pilihan terburuk.

"Mogzo sangat beruntung," kata Ranta, dan dalam hati, Haruhiro setuju dengannya. ”Raghill tampak seperti semacam tempat berteduh baginya, lagipula dia adalah seorang veteran. Mogzo bisa tinggal di tempatnya dengan gratis. Bahkan mungkin, dia akan mendapatkan kemudahan karena telah bergabung dengan Party veteran yang tahu berbagai hal. Mengapa dia dipilih? Akulah yang seharusnya mereka ambil. Aku sungguh lebih berguna daripada dia. Serius.”

"Ndak tau deh," kata Yume dengan ramah, dan Haruhiro menimpali, "Aku meragukannya."

Ranta menuding pada mereka berdua secara bergiliran. "Kalian berkata begitu karena kalian tidak pernah tahu tentang apa yang mampu aku lakukan! Jangan lupa ini: Aku adalah seorang pria yang penuh bakat! Aku sudah terkenal bahwa aku memiliki potensi tersembunyi sejak lahir!”

"Potensimu tidak akan tersembunyi jika kau terkenal," Kata Haruhiro.

"Tidak sopan! Kau akan kelelahan jika menganalisis semua kelebihanku secara mendetail."

"Aku malah lelah karena mendengar ocehanmu."

"Kau sama sekali tidak punya stamina, Haruhiro. Tidak berguna sama sekali. Buruk sekali, buruk, buruk, buruk.”

"Hanya perkataan macam itu yang bisa keluar dari mulut seorang pria berambut berantakan."

"Jangan sebut rambutku berantakan!"

"Hei, bukankah rambut berantakan juga merupakan hal yang bisa kau banggakan?”

"Sungguh? Apakah rambut berantakan sekeren itu? Aku tidak benar-benar percaya padamu…"

"Tapi rambut Yume lurus, iya toh?" Kata Yume. ”Yume selalu cemburu pada rambut keriting alami seperti itu. Jadi, aku tidak memasalahkan rambut Ranta yang berantakan!”

"Sungguh? Apakah rambutku benar-benar keren? Serius?”

"Ya! Rambut berantakan berarti pikirannya juga berantakan, dan itu sungguh menawan!”

"Menawan? Aku baru tahu bahwa ada pria yang disebut menawan oleh seorang gadis ... tapi itu tidak buruk, aku kira. Namun, pikiran yang berantakan membuat diriku terkesan seperti orang idiot ...”

Suatu suara dengusan pelan bisa didengar. Haruhiro berbalik dan melihat Shihoru menyembunyikan wajah di balik tangannya, dan bahunya sedikit bergetar

"Whoa." Ranta menatap dengan heran.

Yume juga memandang Shihoru, dan dia berkedip. Tentu saja, Haruhiro juga terkejut. Ternyata Shihoru sedang menangis.

"A-apa yang salah?" Tanya Haruhiro sembari mengulurkan tangan untuk menenangkan bahu si gadis mungil yang terus bergetar. Mungkin, bukanlah ide yang baik untuk melakukan kontak fisik. Bagaimanapun juha, dia hanyalah seorang gadis kecil.

"... T……Tidak….apa…apa." Shihoru menjawab dengan terpatah-patah. ”Sungguh… tidak apa-apa ... Aku hanya sedikit khawatir, itu saja ...”

"Ah ..." kata Haruhiro.

Dia tidak bisa berkata apapun. Bahkan dalam keadaan seperti ini, mereka bertiga bisa bergurau dengan lepas tanpa mempedulikan sekitar. Setidaknya Shihoru ingin mengatakan bahwa dia begitu peduli tentang situasi yang tengah mereka hadapi saat ini.

"Cup…cup," Yume dengan lembut menepuk punggung Shihoru.”Gadis baik, gadis baik, ndak apa-apa kok. Semuanya akan baik-baik saja. Yume sendiri ndak paham sih, tapi ...”

Ranta mengerutkan kening.”Kau tidak bisa meyakinkannya ..."

Haruhiro mengusap bagian belakang lehernya.”Tapi, kita memang tidak bisa berdiri terus di sini tanpa melakukan apapun. Walaupun kita berhenti berbicara, itu tidak akan membantu. Mungkin kita harus…. Yahh, kau tahu… eh ... Sepertinya kita harus menemukan anggota Crimson Moon veteran lainnya seperti Raghill. Mungkin ... kita bisa mencari seseorang seperti itu dan mengajukan beberapa permohonan.”

"Kalau begitu, carilah!" Ranta menampar punggung Haruhiro. "Cari orang seperti itu dan dapatkan info tentang mereka! Akan kuserahkan semuanya padamu, Haruhiro!”

"Pintar sekali kau… menyuruh orang lain bekerja."

"Sepintar profesor!"

"Kau benar-benar membuatku kesal."

"Jujur saja, aku tak peduli akan perasaanku."

"Bajingan."

"Diam. Kau sendiri yang menyarankannya, maka kerjakanlah saranmu itu, Memang seperti itulah dunia ini bekerja." kata Ranta.”Tapi… okelah, kita bisa membagi pekerjaan ini. Haruhiro, tugasmu adalah pergi mencari anggota Crimson Moon dan mendapatkan informasi tentang mereka, pekerjaan Shihoru hanyalah menjadi gadis yang tertekan, pekerjaan Yume adalah membuat Shihoru merasa lebih baik, dan pekerjaanku adalah berdiam diri di sini sambil menunggu kau kembali!"

"Ranta, Apakah kau sungguh berniat bermalas-malasan dan tinggal di sini?" Haruhiro menjawab.

"Aku senang melakukan berbagai hal, namun aku benci melakukan pekerjaan yang tidak asyik.”

"Bersenang-senang ... bukan itu intinya."

"Kesenangan adalah alasan utama! Aku adalah seorang pria yang menghabiskan setiap waktu untuk menikmati kesenangan hidup. Jika hidupku tidak menyenangkan, maka itu bukanlah hidupku. Bagaimana denganmu, Haruhiro? Kau mungkin adalah orang yang tak pernah menikmati hidup, itu terlihat jelas pada matamu yang selalu mengantuk.”

"Mataku terlihat seperti ini sejak aku dilahirkan!" Tampaknya gentian Ranta yang menghakimi Haruhiro, namun dia pun tak banyak protes, "Baik. Aku akan pergi. Aku akan berkeliling untuk mencari anggota Crimson Moon.”

"Akhirnya. Kenapa kau tidak bilang sejak awal kalau kau bersedia? Kita tak perlu banyak berdebat, kan?”

Haruhiro sangat ingin memaki Ranta sebagai balasan, namun sepertinya itu tak ada gunanya. Orang seperti Ranta hanya akan menurunkan levelmu menjadi serendah dirinya. Itu tidak layak.

"Aku akan kembali sebentar lagi, tunggu saja di sini," kata Haruhiro pada Yume dan Shihoru, lantas dia pun meninggalkan markas Crimson Moon.

Dia masih tidak tahu ke mana dia harus pergi. Matahari mungkin mengarah ke timur, itu artinya di sebelah sana adalah utara, dan di sini adalah selatan, kemudian barat ada di sebelah sana.

Pada arah utara, terdapat suatu menara besar bagaikan kastil yang menjulang tinggi ke langit. Bangunan itu adalah titik tengara yang baik, sehingga Haruhiro memutuskan untuk pergi ke arah menara tersebut. Tapi ia bukanlah seorang turis, Haruhiro mengingatkan itu pada dirinya sendiri. Apakah pergi ke sana adalah suatu ide yang baik?

Haruhiro tidak memiliki keraguan bahwa semuanya akan baik-baik saja pada Kelompok Renji. Manato mungkin masih bisa bertahan, entah bagaimana caranya. Si Kikkawa yang tak pernah susah mungkin tanpa malu bertanya pada semua orang di kota. Haruhiro berharap Mogzo tidak tertipu oleh Raghill. Jika Raghill benar-benar bisa dipercaya, maka Mogzo mungkin adalah orang yang memulai petualangan ini dengan sangat baik jika dibandingkan dengan anggota lainnya.

"... Kurasa aku tidak punya pilihan selain menemukan seseorang untuk ditanyai," Haruhiro berkata kepada dirinya sendiri. Tapi siapa? Mungkin orang-orang yang berjalan-jalan di sekitarnya ... tapi tunggu dulu. Pertama, apa yang harus ia tanyakan? Pasukan cadangan. Benar, ia harus bertanya tentang Crimson Moon. Lantas, di manakah ia akan menemukan anggota Crimson Moon?

Dia mulai mencari orang yang berlalu-lalang di sekitarnya dengan penampilan paling menjanjikan. Umur tidak masalah, tetapi seseorang yang tampak ramah adalah pilihan yang lebih baik. Namun, hampir setengah dari keseluruhan orang di kota memusatkan perhatian pada Haruhiro. Lebih tepatnya, mereka menatapnya. Apakah Haruhiro terlihat aneh? Mungkin dia memang terlihat aneh. Pakaiannya sungguh berbeda.

Tidak peduli di mana pun ia mencari, ia tidak sanggup menemukan orang yang bisa didekati. Dia punya perasaan bahwa semua orang melihatnya seperti semacam alien. Atau mungkin dia saja yang paranoid?

"Sepertinya ini adalah pekerjaan yang tidak mudah. Atau mungkin aku saja yang terlalu pengecut ...”

Haruhiro berkeliaran di jalan-jalan yang tampak asing. Dia menuju ke arah menara dan mencoba untuk mengumpulkan keberaniannya. Yah, ia punya perasaan bahwa cepat atau lambat keberaniannya pasti akan semakin meningkat. Terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali, tapi ...

Lalu ia tiba di suatu tempat. Setelah melewati alun-alun yang bersih, dia mendapati suatu menara batu yang megah. Sebagian besar bangunan di sekitarnya terdiri dari 2 tingkat, namun ada beberapa yang terdiri dari 3 tingkat. Bangunan di sekitarnya yang relatif pendek membuat kesan bahwa menara itu sangatlah tinggi, namun kenyataannya menara itu memang cukup tinggi menjulang.

Itu adalah suatu bangunan yang megah. Bangunan itu tampak sangat kokoh. Jendela dan pintu dihiasi dengan dekorasi yang dibuat halus. Di samping pintu gerbang dan beberapa tempat di sekitar alun-alun, berdiri pria yang terbungkus dengan armor besi. Ada juga para penjaga yang berdiri sambil memegang tombak pada satu tangan, dan perisai pada tangannya yang lain. Bangunan itu dijaga dengan ketat, mungkin ada seorang petinggi yang tinggal di sana. Mungkin seorang Gubernur berdiam di sana, pikir Haruhiro.

Sementara Haruhiro berdiri di tengah alun-alun dan menatap bangunan tersebut dengan mata terbelalak, seorang penjaga mendekat. Armor pria itu berdenting karena beberapa logam saling berdempet.

"Apa yang kamu lakukan di sini? Apakah kau punya urusan dengan Menara Tenbourou?”

"Tenbourou? Err, tidak ada. Aku tak punya urusan dengannya ...”

"Kalau begitu pergilah. Atau apakah kau ingin ditangkap dengan tuduhan sebagai pengacau ketenangan Yang Mulia Earl* Altana?”
[*Catatan penerjemah: Earl adalah gelar bangsawan tinggi.]
"Eh, tidak, aku tidak ingin ditangkap ... Benar juga. Maaf, aku akan pergi.”

Haruhiro buru-buru meninggalkan alun-alun. Dia tidak bisa memastikan, tapi ternyata menara yang disebut Tenbourou didiami oleh orang yang merupakan bangsawan di daerah perbatasan ini. Dia merasa bahwa ia telah berhasil mengumpulkan potongan pertama informasi tentang tempat ini. Tapi siapa pun yang tinggal di sana, dia pasti adalah sosok yang terkenal pada daerah ini.

"Altana. Earl Altana. Yang Mulia. Menara Tenbourou. Perbatasan ... Pasukan Frontier. Crimson Moon. Pasukan cadangan ...”

Haruhiro membisikkan semua kata=kata asing itu pada dirinya sendiri sembari terus melaju ke utara.

Sembari dia berjalan, semakin banyak orang muncul pada jalanan di sekitarnya. Toko. Dia telah tiba pada daerah di mana toko berdiri, dan juga terlihat warung pinggir jalan yang penuh sesak dengan pengunjung. Walaupun masih ada beberapa stan yang masih bersiap-siap, lebih dari setengah dari mereka sudah dibuka untuk berbisnis. Di sana terdapat berbagai macam stan makanan, toko pakaian, dan barang-barang kebutuhan lainnya dalam jumlah besar. Kegaduhan para pedagang yang mempromosikan barang-barang mereka bisa terdengar dan itu membuat suasana di sekitar semakin hidup.

"Suatu pasar?" Kata Haruhiro pada dirinya sendiri.

Seakan-akan sedang diarahkan, Haruhiro pun memasuki area perbelanjaan itu. Aktivitas perdagangan semakin banyak dan sesak. Harga semua item ditulis dengan kode 1C, 3C, 12C, dan sebagainya. Haruhiro bisa membaca tag harga yang cukup baik, tapi dia tidak begitu tahu makna tulisan itu. Para pedagang memanggilnya, "Kau Pak, apa yang ingin kau beli ...” ada juga yang berkata padanya, " Kamu Pak, datang dan lihatlah ...” Tapi Haruhiro menghindari mereka dan bergegas melanjutkan perjalanan. Haruhiro mengutuk dirinya sendiri karena dia bahkan tidak memiliki keberanian untuk berinteraksi dengan pedagang yang jelas-jelas tidak berbahaya.

Tiba-tiba, aroma sedap memenuhi udara. Rambut di belakang leher Haruhiro naik.

"Daging…"

Mulutnya mulai berair. Makanan ... Seseorang yang berdiri di sana sedang memanggang kebab. Ada juga stan yang menjajakan hidangan mendidih dari suatu penci besar, di stan lainnya, terlihat gunungan roti yang ditumpuk dan menggugah selera. Berbagai jenis sandwich ada di sana, ada juga roti kukus isi daging di situ ... Uap, asap, aroma. Haruhiro tidak tahan lagi. Tangannya mulai mengusap-usap perut, dan dia sadar bahwa perutnya berbentuk cekung ke dalam. Kenapa baru sadar sekarang? Dia sedang kelaparan.

"Tapi ... tapi Shihoru dan Yume sedang menunggu," Haruhiro menegur dirinya sendiri. ”Siapa yang peduli pada Ranta, tapi ... tidak benar jika aku meninggalkan mereka di sana sementara aku mengisi perut di sini.”

"Tapi ... pepatah lama berkata: 'Kau tidak akan bisa bertarung dengan perut kosong." Dan Haruhiro membenarkan tindakannya sendiri.”Itu artinya, aku juga tidak bisa berjalan dengan perut kosong ... dan aku tidak ingin berjalan dengan perut kosong ... Permisi!”

Karena tidak mampu menahan lebih lama lagi, Haruhiro pun langsung menuju ke arah stan daging kebab. Dia dengan panik mencari kantong kulit dan mengeluarkan koin perak. Apakah dia bisa membeli makanan dengan ini? Apakah itu cukup? Bagaimana jika itu tidak cukup?

"Tolong beri aku satu kebab!" Kata Haruhiro.

"Apa!?" Mata pria berperut buncit di belakang stan melebar. ”Satu perak?! Kau tidak perlu membayar sebanyak itu! Satu kebab harganya empat perunggu… harganya tertulis jelas di sini, apakah kau lihat? Aku tidak memberikan diskon, tapi aku juga tidak bisa menerima hal yang berlebihan! Itulah cara Kebab Dory berbisnis!"

"Empat perunggu?" Haruhiro melihat koin.”Maksudmu aku tidak bisa membeli kebab dengan ini?”

"Saru perak bernilai seratus perunggu. Kau dapat membeli 25 kebab dengan itu. Kau tidak mungkin memakan kebab sebanyak itu, kan? Lagipula, ini bukan waktunya makan siang, jadi aku hanya punya 50 perunggu sebagai kembalian.”

"Jadi perunggu adalah ..."

"Tentu saja koin berwarna perunggu ini…." Pria berperut buncit mengeluarkan koin yang tampak seperti simbol milik anggota pelatihan Crimson Moon, tapi mungkin ukurannya lebih kecil. Dia pun menunjukkan itu kepada Haruhiro.”Ini adalah perunggu. Jangan bilang kau tidak tahu? Walaupun kau memang berpakaian aneh .... kau adalah seorang anggota Crimson Moon, kan?"

"Um, tidak juga. Aku hanyalah seorang anggota pelatihan. Aku masih baru.”

"Aku paham. Nah, kau adalah anggota Crimson Moon yang sedikit 'berbeda,' mudah-mudahan kau paham apa yang aku maksudkan. Meskipun kau punya perak, apakah kau tidak punya satu perunggu pun?”

"Tidak, tidak ada perunggu. Dan satu perak seharga seratus perunggu ...” Dengan kata lain, 10 perak yang Haruhiro miliki saat ini harganya sama dengan 1000 perunggu. Dia bisa membeli 250 kebab. Tapi satu kebab saja ukurannya sudah sangat besar, dan dia pasti kekenyangan jika makan satu. Dengan demikian, 250 kebab berarti 250 kali makan. Jika dia makan 3 kali sehari, maka dia bisa bertahan hidup selama sekitar 80 hari. Itu cukup lama. ”Maaf, aku masih seorang anggota pelatihan.”

"Jadi, kau tidak paham tentang perunggu." Orang berperut buncit itu mengerutkan kening dan kemudian mengambil napas dalam-dalam. ”Kalau begitu, kau pasti juga tidak paham tentang Bank Yorozu. Mengapa kau tidak pergi ke sana dan melihat-lihat? Kau bisa menukarkan uangmu di sana untuk membeli segala sesuatu, bahkan kau bisa menyimpan uang sisa milikmu.”

"Bank Yorozu ..."

"Tempatnya terletak pada arah selatan dari pasar ini. Keluarlah dari sisi Menara Tenbourou, lewatilah 3 jalan, kemudian belok kiri. Bank itu ada di sana. Kau tidak akan kesulitan menemukannya karena ada tanda di luar bank tersebut.”


Yorozu


Bank Yorozu. Atau setidaknya itulah yang dikatakan pada tanda yang dipampang pada bagian luar suatu bangunan mirip gudang berdinding tebal. Huruf-hurufnya tertulis pada pahatan emas, dan kesannya cukup megah walaupun agak sedikit norak. Haruhiro tiba di Bank Yorozu tanpa tersesat, dan itu membuatnya merasa sedikit lebih tentang pada situasi seperti sekarang ini. Namun, satu-satunya masalah yang belum terpecahkan adalah perutnya yang masih kosong.

Dia akan mati kelaparan jika ia tidak segera mendapatkan uang, lalu kembali ke kedai Dory, dan melahap kebab-kebab yang mengenyangkan itu.

Pintu masuk utama menuju ke lorong, dan meja counter terdapat di atas serangkaian anak tangga. Haruhiro masuk pada suatu antrean yang pendek. Tak lama kemudian, gilirannya pun dipanggil dengan kata: "Berikutnya!" Pada meja tersebut terdapat seorang gadis kecil, yang tampak tenang dan bermartabat. Di sana juga tampak sejumlah besar kursi kulit. Sepertinya usianya tidak lebih dari 10 tahun.

Pakaiannya terlihat mencolok dengan warna merah dan putih, dihiasi oleh garis-garis emas. Dia mengenakan Monocle* berbingkai emas dan memegang pipa tembakau emas pada salah satu tangan. Tingkah lakunya begitu cocok dengan penampilannya yang mewah.
[*Catatan penerjemah: Monocle adalah lensa yang hanya dipakai pada salah satu mata. Monocle dijepit oleh otot-otot di sekitar bola mata agar tidak jatuh. Sumber : Kamus Oxford.]
"Hm," gadis itu menarik pipanya sembari mengamati penampilan Haruhiro.”Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya. Pertama kali datang ke sini?"

"... Ya," Haruhiro menjawab, dan tiba-tiba dia merasa takut-takut. Apa yang terjadi dengan gadis kecil ini? Dia berdeham dan melanjutkan.”Ya, aku pertama kali datang ke sini."

"Dari penampilanmu, sepertinya kau adalah seorang anggota pelatihan Crimson Moon. Aku paham. Kau baru saja tiba, kan?” Gadis itu berdiri di atas kursi dan menampar lututnya sendiri.”Namaku Yorozu. Generasi keempat. Aku bisa dengan sempurna menghafal nama pertama, nama terakhir, penampilan wajah, deposito, saldo, dan segala catatan transaksi dari semua klien bank ini. Namun, aku juga menyimpan catatan kertas untuk para pegawai bank yang ingatannya tidak sempurna seperti diriku. Cukup perkenalannya; mari kita buka rekeningmu. Siapa namamu?"

"Um ... Aku... Aku Haruhiro."

"Aku paham," Yorozu membungkuk ke depan, membuka buku rekening yang tergeletak di mejanya, dan mulai mencoret-coret sesuatu dengan menggunakan pena bulu.”Selesai. Sekarang kau dapat mulai berbisnis dengan Bank Yorozu.”

Haruhiro melirik buku tersebut, dan memang di sana tertulis nama baru, yaitu: "Haruhiro". Namanya ditulis dengan tulisan tangan yang elegan. Ketika Haruhiro mendongak lagi, wajah Yorozu sudah berada tepat di depan mukanya. Dia mungkin memang memiliki perawakan kecil, tapi sepertinya usianya bukanlah 10 tahun. Mungkin saja, usianya bahkan jauh lebih tua dari 10 tahun.

Jika Haruhiro mengabaikan tinggi badan gadis itu dan melihat lebih dekat, maka terlihat jelas bahwa gadis itu memiliki postur yang sangat berbeda. Dia memiliki mata biru sehalus kaca, dan bibir lembutnya yang berwarna pink sungguh indah.

"Apa?" Yorozu mengerutkan bibirnya dan tiba-tiba menoleh ke samping dengan gusar.”Kau tidak perlu menatap wajahku seperti itu, dasar Tuan Kurang Ajar.”

"M-maaf."

"Aku akan memperjelas suatu hal…" Yorozu mendorong pipanya tepat di depan hidung Haruhiro.”Generasi keempat Yorozu mungkin memang masih muda, tapi aku adalah seorang Yorozu yang sempurna. Camkan itu dalam-dalam di otakmu, dan jangan buat kesalahan dengan meremehkanku. Dan juga, Haruhiro, aku akan mengingat sampai kapan pun bahwa kau adalah seorang pria yang tak tahu sopan santun dan kurang ajar.”

"... Bisakah kau melupakan tentang hal itu?"

"Tidak mungkin. Yorozu adalah Yorozu, dan kami tidak akan melupakan hal terkecil sekalipun. Jika seorang Yorozu lupa akan suatu hal, maka dia harus mengundurkan diri, dan merelakan posisinya pada Yorozu selanjutnya. Itu adalah hukum yang mengatur semua Yorozu.”

"Itu cukup berat ..." Haruhiro melirik ke sekeliling ruangan. Dia adalah satu-satunya nasabah pada saat ini. Bahkan tidak ada pegawai bank lain di sekitarnya. ”Apakah kau kebetulan menjadi satu-satunya karyawan di Bank Yorozu?”

"Mungkin sulit dipercaya, namun aku adalah perwakilan bank ini, sekaligus Presiden bank, dan sekaligus Direktur bank. Transportasi uang dan barang, berbagai bidang khusus, pemeliharaan gudang, dan sejenisnya ditangani oleh sejumlah besar pegawai, pekerja, dan orang magang yang bekerja di sini. Apakah kau tahu jenis bisnis macam apa yang sedang kami jalankan di sini?”

"Err, deposito uang, pertukaran uang, dan hal-hal semacamnya."

"Bukan hanya uang. Barang juga. Dalam kasus uang kas, kami menagih biaya deposit sebesar 1% dari jumlah total. Sedangkan untuk barang, biayanya adalah 2% dari nilai objek yang ditentukan oleh para juru taksir kami yang profesional.”

"Satu persen ..." Jadi untuk setiap seratus perunggu yang ditabung, maka akan diambil 1 perunggu sebagai biaya.”Bukankah itu terlalu mahal?"

"Jika kau berpendapat demikian……." Yorozu menarik pipanya,"….. maka jangan setorkan uangmu di sini. Tidak ada kulit pada hidungku*. Tapi ijinkan aku untuk memberitahumu bahwa seorang pasukan cadangan sepertimu akhirnya akan memahami betapa berharganya pelayanan dari kami. Jadi, Tuan Kurang Ajar, urusan macam apa yang membawamu ke sini hari ini?”
[*Catatan penerjemah: ini adalah konotasi yang bermakna: “aku tidak memaksa, dan itu sama sekali tidak ada hubungannya denganku”. Sumber : Kamus Oxford.]
"Tuan Kurang Ajar ...” ulang Haruhiro. Apakah dia akan disebut seperti itu mulai dari sekarang?

Dia mengambil satu…. Tidak… lebih baik dia menyetor dua perak dari kantong kulitnya.”Aku ingin menukar ini menjadi pecahan perunggu.”

"Hmph. Hebatnya, kami menawarkan jasa pertukaran uang secara gratis. Dua perak setara dengan dua ratus perunggu, tetapi tidakkah kau menyadari bahwa uang sejumlah itu sangat sulit untuk dibawa, wahai Tuan Kurang Ajar?”

"Ah," Haruhiro mengingat kembali koin perunggu yang ditunjukkan kepadanya oleh Pria berperut buncit dari Kebab Dory. Uang itu cukup kecil, tapi 200 keping uang seperti itu mungkin akan sulit dibawa karena cukup berat. ”Aku paham. Berkeliling kota sembari membawa benda sebanyak itu sepertinya cukup berbahaya. Jadi, itu sebabnya orang membayar biaya untuk menyimpan uang mereka di sini."

"Memang. Aku langsung dapat menghitung jumlah 1% dari banyaknya perunggu yang hendak kau simpan, dan 1 % itulah yang akan menjadi biaya penabungan. Aku menghafal itu, dan akan segera kucatat pada buku tabunganmu. Ketika jumlah potongan genap bernilai 1 perunggu, maka tabunganmu akan secara otomatis berkurang sebesar itu. Jumlah biaya terkecil adalah 1 perunggu, itu artinya jika kau menyetor kurang dari 100 perunggu, maka kau tidak akan dikenai biaya. Namun, biaya sebesar 1 % itu akan terus tercatat, jadi jangan coba-coba bertingkah licik dengan menyetor 99 perunggu.”

"Dengan kata lain, jangan mencoba untuk menipu sistem bamk ini. Okeh, aku akan mengingatnya." Haruhiro mengatakannya, dan dia menempatkan satu koin perak di meja counter. ”Bisakah kamu menukar ini dengan perunggu?”

"Tentu saja." Yorozu memukul lonceng di meja dengan menggunakan pipa tembakaunya.

Seorang pria mengenakan pakaian berlapis perak muncul dari pintu di belakang ruangan. Yorozu tidak mengatakan sepatah kata pun, dia hanya mengisyaratkan sesuatu dengan tangannya. Pria itu mengangguk tanpa kata, kemudian menghilang melalui pintu sekali lagi. Setelah beberapa saat, dia muncul lagi dengan membawa nampan hitam. Pada nampan itu tersebar koin-koin perunggu. Dia menempatkannya di atas meja, kemudian pergi begitu saja.

"Seratus perunggu. Kau dapat mengambilnya sekarang juga, wahai Tuan Kurang Ajar."

"Bisakah kau berhenti memanggilku dengan sebutan itu?" Haruhiro bergumam sembari mengambil koin, dan memasukkannya ke dalam kantong kulit. Satu koin perunggu ukurannya hanya sebesar ujung jari kelingking, namun ketika itu berjumlah sebanyak 100 keping, maka kantong kulitnya seakan-akan mau meledak. ”Cukup berat. Ini semua mungkin tidak muat di dalam sakuku.”

Yorozu mendengus. ”Kau dapat menyimpan sebagian uangmu sekarang juga jika kau mau. Kau mungkin tidak memiliki sopan santun, tapi moto kami adalah menghargai setiap pelanggan.”

"Tidak masalah untuk saat ini. Memang kurang nyaman, tapi aku masih bisa mengatasinya."

"Aku paham," Yorozu mengisap pipanya.”Kau boleh datang lagi setiap kali kau membutuhkan jasa kami, wahai Tuan Kurang Ajar. Jam kerja kami adalah dari pukul tujuh pagi sampai tujuh malam, dan buka sepanjang tahun. Apa pun yang kau butuhkan, kapanpun kau membutuhkannya, generasi keempat Yorozu siap melayani anda di meja counter.”

"Kapanpun? Bagaimana dengan istirahat makan siang?”

"Mana ada. Aku ada di sini dari pukul tujuh pagi sampai pukul tujuh malam. Itulah hukum yang mengatur para Yorozu.”

"... Kalau begitu, selamat bekerja."

Itu adalah pekerjaan yang sulit, pikir Haruhiro sembari ia meninggalkan Bank Yorozu. Tapi walaupun tubuhnya kecil, dia adalah seorang pekerja keras. Perut Haruhiro masih keroncongan. Daging. Kebab daging sedang menunggunya. Haruhiro bergegas kembali ke Kebab Dory di pasar. Dia menghirup, dan mengisi paru-parunya dengan aroma daging panggang yang masih segar, sebelum akhirnya dia membeli kebab itu. Karena tidak mampu menekan rasa laparnya lebih lama lagi, ia pun segera mengoyak daging itu dengan gigi-giginya. Ledakan rasa dan kesegaran daging segera memanjakan lidahnya.

"LEZAT!"

Dia melahap kebab pertama, kemudian dia sungguh ingin beli kebab yang kedua. Setelah kebingungan beberapa saat, ia akhirnya memutuskan untuk menahan diri. Dia berpikir bahwa jika dia kembali lagi ke kedai ini, dia akan membawa Yume dan Shihoru, kemudian mereka bisa makan bersama-sama. Haruhiro benar-benar tidak peduli pada Ranta.

Setelah merasa jauh lebih baik, ia meninggalkan pasar, dan pada saat itu juga dia teringat akan suatu hal yang jauh lebih penting.”Sial. Ini bukan waktu untuk menjadi makan kebab. Aku harus melihat informasi yang bisa aku temukan...”

Sembari melihat sekeliling, dia melihat jalan yang bertuliskan "Jalan Kaen" pada papan melengkung. Seorang pria tampan muda yang mengenakan Surcoat* putih sedang berjalan di bawah penanda jalan tersebut. Di bawah lapisan Surcoat, ia mengenakan armor logam, dan ada perisai yang tergantung di punggungnya. Ada juga semacam pedang yang terpasang di sabuknya. Namun, dia tidak terlihat seperti penjaga di Menara Tenbourou. Bahkan, ia mungkin sudah menjadi anggota Crimson Moon.
[*Catatan penerjemah: Surcoat adalah semacam jas atau jubah yang dipakai untuk membalut armor. Sumber : Kamus Oxford.]
Haruhiro meletakkan tangan di atas dada dan menghembuskan napas. Dia menghimpun keberaniannya, lantas berteriak, "Permisi!"

Pria itu berhenti dan berbalik menghadap Haruhiro.”Ya?"

"Maaf jika aku salah, tetapi apakah kau adalah anggota Crimson Moon?"

"Ya, tapi ..." Pria itu berkedip sekali atau dua kali, lalu tersenyum lebar. ”Aku paham. Aku menduga bahwa kau pasti salah seorang anggota pelatihan?”

"Um, y-ya! Aku masih baru. Aku tidak tahu apapun, siapapun, dan tempat apakah ini, dan ...”

"Aku dulu juga begitu. Meskipun tersesat dan bingung, kami bergerak maju selangkah demi selangkah. Majulah terus, nanti kau akan menemukan jalan yang jelas.”

"Aku pikir…. Aku pikir itu memang akan terjadi. Tapi aku tidak yakin apa yang harus aku lakukan, atau ke mana harus pergi berikutnya ...”

"Aku mengerti," pria itu mengangguk penuh simpati.”Tetapi pengetahuan yang kau peroleh dari pengalaman akan sangat berharga untukmu kelak. Tidak peduli jalan apa yang kau ambil, mereka yang tidak menemukan jalan untuk keluar dari kegelapan tidak akan pernah menemukan tujuannya.”

"Sungguh? Maksudku, aku paham apa yang kau katakan. Namun, apakah semuanya akan baik-baik saja? Kau tahu bahwa…"

"Namaku adalah Shinohara, dari Orion."

"Aku Haruhiro."

"Haruhiro, aku dan anggota lain dari Orion sering berkunjung pada Kedai Sherry. Jika kau butuh sesuatu, datang dan temui kami di sana."

"Eh? Oh, baiklah. Orion. Kedai Sherry.”

"Betul. Aku harap kau beruntung, Haruhiro. Sampai jumpa lagi.”

Shinohara pergi meninggalkan Haruhiro, dengan kesan seseorang yang ramah, murah senyum, dan berkepribadian elegan.

"Aku……gagal bertanya lagi?" Haruhiro menundukkan kepalanya. Dia seharusnya menghentikan Shinohara dan bertanya banyak hal padanya. Tapi Haruhiro juga memiliki perasaan bahwa Shinohara akan menolak untuk memberikan jawaban dengan tegas dan sopan. Mungkin Shinohara tampak sangat bersahabat, namun sepertinya dia bukanlah orang yang bisa dijadikan teman oleh Haruhiro. Atau mungkin, memang seperti itulah cara seorang senior memberikan bimbingan pada anggota baru. ”Cari dia di kedai itu?"

Haruhiro menatap langit dan memicingkan mata pada cahaya terik matahari. Dia tidak bisa memastikan, tapi dia punya perasaan bahwa kedai itu tidak buka di siang hari. Haruhiro masih tidak memiliki tempat tujuan, sehingga dia hanya melanjutkan menyusuri Jalan Kaen. Dia selalu mengamati orang-orang yang tampak seperti anggota Crimson Moon. Ia berpapasan dengan beberapa orang yang mungkin adalah anggota Crimson Moon, namun mereka tidak tampak ramah, tidak mudah didekati, atau bahkan balas melirik Haruhiro dengan tatapan mata penuh penghinaan. Dia tidak punya nyali untuk menghentikan salah satu dari mereka, kemudian mengajukan beberapa pertanyaan.

Dia tidak ingin melakukan ini lagi. Haruhiro berjongkok di ujung jalan, melewati bunga-bunga dan suatu bangunan besar yang tampak seperti penginapan. Dia berhenti di sana untuk sementara waktu. Jika dia terus bertingkah seperti ini, mungkin akan ada beberapa orang yang bersimpati padanya, kemudian mendekatinya untuk bertanya: “Hey, apakah ada yang salah denganmu?”. Bukannya dia punya niatan seperti itu…. Oke, mungkin dia harus mengakui bahwa dia punya sedikit niatan seperti itu.

Tapi itu hanya angan-angan belaka.

Apakah ada alternatif lain yang dia miliki? Dia tidak tahu di mana dia berada,dan ia tidak ingat apapun selain namanya sendiri. Haruhiro sama sekali tidak paham apa makna dibalik semua peristiwa ini. Namun, ia tiba-tiba ditawari untuk menjadi seorang pasukan cadangan. Sementara dia masih terjebak di dalam kebingungan, rekan-rekan lain yang awalnya senasib dengannya, kini sudah berusaha masing-masing untuk melangkah maju. Kini dia tertinggal sendirian bagaikan seorang pecundang.

Dan sekarang, entah kenapa, dia bersedia repot-repot berkeliling kota untuk mencari informasi apapun tentang tempat ini. Dan bahkan itu tidak berjalan dengan baik.

Ini terjadi karena aku terlalu pengecut untuk mendekati orang lain, pikir Haruhiro. Dan apakah ada yang salah dengan itu? Tidak ada. Bahkan dia tidak bisa disalahkan jika dia mengasihani dirinya sendiri dan meratapi nasibnya.

Baiklah kalau begitu. Dia akan makan kebab. Dia akan kembali ke pasar sendirian dan makan kebab sepuasnya. Bukan hanya kebab. Ada banyak makanan lezat lainnya di sana. Dia akan makan semua makanan yang dijajakan di pasar. Ketika malam datang, ia akan menuju ke Kedai Sherry. Bahkan, mungkin ada suatu tempat di mana dia akan ditemani oleh gadis-gadis cantik yang menuangkan minuman dan menemaninya semalaman. Dia akan makan, minum, dan memuaskan dirinya sendiri sampai semua uang itu habis.

"Tidak" Haruhiro bangkit untuk berdiri. Walaupun dia tidak bisa memaksakan optimisme pada dirinya sendiri, dia juga tidak mau berputus asa. Dia berbalik dan kembali ke pasar.

Apa yang harus dilakukan sekarang. Mungkin dia harus kembali ke Markas Crimson Moon. Meskipun ia tidak membawa pulang informasi berguna, banyak waktu telah berlalu semenjak dia pergi. Yang lainnya pasti juga lapar. Tetapi jika Haruhiro menunjukkan pada mereka caranya memperoleh makanan, maka mereka harus repot-repot menuju Bank Yorozu untuk mendapatkan uang, kemudian pergi lagi ke pasar. Itu terlalu lama

Haruhiro tidak ingin kembali dengan tangan hampa. Dia memutuskan untuk membelikan beberapa makanan untuk teman-temannya yang masih menunggu. Lagipula, dia sudah mendapatkan informasi yang cukup layak, seperti : letak Bank Yorozu yang berguna, dan seorang kenalan bernama Shinohara yang biasanya suka nongkrong di kedai Sherry. Setelah mereka semua mendapatkan beberapa makanan, mereka memiliki pilihan untuk mencari Shinohara di Kedai Sherry. Dia tidak perlu melakukan ini semua sendirian. Betul. Memang benar. Bagaimanapun juga, mereka adalah timnya.

Maka, sudah diputuskan. Dia mulai kembali menuju ke markas dengan semangat yang lebih tinggi daripada sebelumnya. Tapi ada sesuatu yang salah. Haruhiro menggunakan Tenbourou sebagai titik tengara, sehingga ia yakin harus menuju ke arah kanan jika ingin kembali ke markas, tetapi tidak peduli berapa banyak dia mencari, dia tidak bisa lagi menemukan lokasi markas itu.

"Apakah aku ... tersesat?"

Dia tidak mau mengakuinya, tapi tampaknya itulah kenyataannya. Sepertinya dia tak punya pilihan lain, jadi dia menuju ke Tenbourou di alun-alun sekali lagi. Dari sana, ia akan dengan hati-hati menelusuri kembali jalan yang sudah dilaluinya. Dia pun menemukan jalan yang tadi dia lewati. Pasti ini jalannya. Jika aku pergi ke arah ini, aku pasti akan kembali ke tempat semula, pikirnya. Mungkin saja.

"Atau mungkin, jalan itu ada di sana? Atau di sana? Tidak…. eh, ….. iya…. Agh, mana sih jalan yang benar? Aku sama sekali tidak ingat ...”

"Haruhiro!"

Haruhiro tidak pernah menduga bahwa namanya akan disebut di sini, sehingga dia kaget mendengarkan itu. Rasanya seperti mendengar suara malaikat yang turun dari langit. Walaupun hanya efek cahaya yang lebay, senyum orang itu bagaikan matahari yang melahirkan harapan baru di dunia ini. Orang yang memanggil namanya mengangkat tangan, seakan menyambut saudara jauh yang telah lama pergi.

"... Manato!" Haruhiro mulai berlari ke arahnya.

"Manato! Aku sedang berusaha untuk menemukan jalan kembali ke markas, tapi aku tidak bisa. Jadi, seperti inilah rasanya menemukan malaikat di dalam neraka!”

"Kau melebih-lebihkan," kata Manato. Dia melihat sekeliling. "Haruhiro, kau sendirian? Mana yang lainnya?”

"Ranta, Shihoru, dan Yume seharusnya masih tinggal di markas. Shihoru marah dan dia mulai menangis. Aku diberi tugas untuk mencari informasi apapun yang bisa aku dapatkan, sementara yang lain menunggu di markas.”

"Aku paham. Dan setelah mendapatkan beberapa informasi, kau berusaha kembali untuk menemui mereka?"

"Yah ..." Haruhiro mengusap bagian belakang lehernya. Sebenarnya Haruhiro ingin melebih-lebihkan usahanya untuk mendapatkan informasi baru, namun Manato pasti tahu kalau dia berdusta.”Sebenarnya aku tidak mendapatkan informasi yang begitu berharga. Ada Bank Yorozu… sudah, itu saja.”

"Bank Yorozu? Tidak pernah mendengar tentang itu."

"Sungguh? Kau dapat menyimpan uang, menukarkan uang, dan melakukan hal-hal semacamnya. Sepertinya itu cukup penting bagi anggota Crimson Moon. Lalu, ada suatu kios makanan di pasar yang menjual kebab lezat ... tapi aku rasa itu bukanlah informasi yang begitu penting ...”

"Aku juga sudah melewati pasar, tapi aku tidak menyadari ada kios yang menjual kebab. Jika memang enak, maka aku akan kembali untuk mencobanya nanti ...”

"Aku akan menunjukkan tempatnya. Aku ingat dengan sempurna ... meskipun aku tidak ingat jalan kembali ke markas.”

"Kita harus kembali bersama-sama," kata Manato dengan nada santai, seolah-olah semuanya terjadi dengan wajar. ”Aku juga berencana untuk kembali ke markas.”

Haruhiro tidak tahu harus berkata apa. Dia tidak pernah berharap untuk mendengar kata-kata itu dari mulut Manato. Tadi sebelum pergi, Manato mengatakan, "kalau begitu, sampai jumpa nanti", tapi Haruhiro beranggapan bahwa itu hanyalah salam tanpa makna. Apakah ia salah? Apakah Manato sejak awal memang berencana kembali lagi ke markas?

Hati Haruhiro menjadi hangat ketika dia memikirkan tentang itu.

Manato memiringkan kepalanya sedikit ke samping. ”Ada sesuatu yang salah?"

"T-Tidak!" Haruhiro menampar ringan punggung Manato dengan ramah.”Ayo pergi. Kembali ke markas. Aku tidak peduli pada Ranta, tapi Shihoru dan Yume mungkin menantikan kedatangan kita.”

"Kalau begitu, ayo pergi," Manato mengangguk dan mulai berjalan.

Haruhiro mengikutinya, dan dia menyadari betapa senang dirinya ketika berjumpa dengan Manato lagi.

Manato memimpin di depan dengan langkah cepat, sepertinya dia benar-benar hafal jalannya. Namun, jalan yang Manato pilih benar-benar berbeda dengan jalan yang dianggap benar oleh Haruhiro.

Itu karena Haruhiro sungguh tidak ingat jalan kembali.


Menikmati Kehidupan di Guild.


Berbagai hal telah terjadi setelahnya, dan sekarang Haruhiro sedang berdiri sendirian di sudut jalanan kota yang disebut Nishimachi.

"Harusnya bangunan inilah tempatnya ..." katanya kepada dirinya sendiri.

Nishimachi adalah tempat di mana kemiskinan dan kemelaratan berpadu; dengan kata lain, ini merupakan daerah kumuh. Semua bangunan tampak sudah tua dan bobrok, banyak juga serpihan bangunan yang berantakan atau berserakan, dan sisanya hanyalah bangunan-bangunan rusak. Beberapa orang yang berlalu-lalang di sekitar tempat tersebut juga berpakaian lusuh. Sebenarnya, ini bukanlah tempat yang ingin dilalui oleh Haruhiro dengan berjalan-jalan sendirian.

Lantas mengapa ia pergi ke tempat seperti ini? Dia seharusnya merubah pikirannya selagi masih punya kesempatan. Namun, sekarang sudah terlambar karena pilihan sudah dibuat.

Haruhiro memutuskan untuk melihat-lihat di sekitar bangunan yang terbuat dari campuran kompleks dari batu dan kayu, tapi dia segera menyadari bahwa itu adalah hal yang sulit. Walaupun dia memperhatikan dengan teliti jalanan di sekitarnya, seakan-akan bangunan di sekelilingnya mengepung dia dan menyembunyikan jalan untuk pulang. Namun, dia diarahkan pada suatu tempat yang terdapat pintu sangat rendah.

Di tengah-tengah pintu berkarat ini, ada suatu benda yang disainnya mirip seperti emblem. Pada emblem itu terdapat lubang kunci yang terukir. Aneh. Apakah ini benar-benar pintu masuk?

"Permisi!" Ketika salam Haruhiro tidak mendapat balasan, ia pun mencoba untuk mengetuk pintu tersebut. Itu membuat tangannya sakit, namun dia masih berusaha untuk membuka pintu tersebut. Dia genggang gagang pintunya, lalu dia putar dan dorong.Namun benda tersebut tidak bergerak.

Mungkin dia tiba pada tempat yang salah. Ketika dia hampir saja meninggalkan tempat itu, terdengar suara rendah yang bergema melalui gang.

"Sebutkan urusanmu."

Dari mana suara itu berasal? Haruhiro tidak tahu. Tampaknya tidak ada orang di sana, dan pintunya masih tertutup rapat. Namun, Haruhiro tidak yakin bahwa dia sedang berimajinasi. Dia benar-benar mendengar suara seseorang di sana.

"Mm ... Aku ingin bergabung dengan Guild," jawabnya.

"Masuklah," kata suara itu, dan pada saat yang sama suara berdenting terdengar dari pintu.

Apakah pintu itu sudah terbuka? Ketika Haruhiro mencengkeram gagang pintu kali ini, ternyata dia bisa membukanya. Dia menariknya, dan menyadari bahwa pintu itu luar biasa berat, namun benda itu bergeser dan pintu pun terbuka. Di balik pintu itu terdapat jalan sempit yang berbau dan berdebu. Pada kedua sisi jalan, berjajar rak-rak yang penuh sesak dengan : tali, logam, roda, dan benda-benda lainnya yang tampak asing bagi Haruhiro.

Ketika ia dengan gugup menutup pintu, Haruhiro menyadari bahwa bagian dalam bangunan itu tidak segelap bagian luarnya. Cahaya berasal dari lampu yang terletak di bawah jalur tersebut. Di dekat lampu, terdapat jalan berbalik dan bahkan semakin sempit. Haruhiro membalikkan tubuhnya ke samping dan, entah bagaimana caranya, akhirnya dia berhasil melalui jalan tersebut kemudian sampai pada suatu ruang.

Ruang itu cukup redup, sehingga dia tidak tahu seberapa besar ukurannya. Suatu meja telah ditempatkan pada ruangan tersebut, dan ada seorang wanita yang sedang duduk bersila di atasnya. Wanita itu dengan santai memainkan pisau yang dipegangnya. Rambutnya cukup panjang sehingga setengah wajahnya tak terlihat dengan jelas, namun tubuhnya begitu terbuka. Bahkan, lengan, kaki, dan sebagian dada…. semuanya benar-benar terpampang tanpa penutup.

"Jadi, Kau ingin bergabung dengan Guild Thieves."

"Y-ya," Haruhiro menelan ludah. Mungkin lebih baik dia tidak menatap wanita itu, maka dia pun mengalihkan pandangannya.”Rencananya sih begitu."

"Dilihat dari penampilanmu, kau adalah seorang anggota pelatihan Crimson Moon. Kau adalah orang kedua yang datang ke sini hari ini.”

"Kedua?"

"Tidak masalah. Jika kau ingin bergabung dengan kami, kau akan menjalani latihan satu-lawan-satu selama tujuh hari. Aku akan menjadi mentor-mu. Bukankah itu adalah suatu kehormatan?"

"Eh, aku ..." Haruhiro melirik wanita itu dari sudut matanya. Sepertinya dia akan mendapatkan masalah jika mengamati dada wanita itu, jadi dia mengalihkan tatapannya pada wajah. Berapa usianya? Mungkin dia tidak lagi muda. Sepertinya, usianya adalah pertengahan 30-an. Itu cukup tua bagi seorang Haruhiro yang berusia 17 tahun.

Namun, itu tidak mengubah fakta bahwa wanita itu seksi. Daya tarik seks-nya terpancarkan dengan jelas.”…Suatu kehormatan. Ya."

"Jika kau tidak puas, kau bisa diajari oleh orang lain."

"Tidak! Tidak, tidak sama sekali."

"Tapi biarkan aku memberitahumu suatu hal." Dia menjilat bibirnya dan mendorong ujung pisau ke meja.”Aku sangat menuntut. Jika kau tidak bisa memenuhi tuntutanku, kau akan dihukum.”

"... Jangan terlalu mempersulit diriku."

Wanita itu tertawa pelan dan lantas mengikat rambutnya.”Apakah kamu sudah tahu tentang aturan dan peraturan Guild Thieves?”

Di Altana, ada organisasi yang terdiri dari orang-orang yang bekerja dalam suatu profesi sama, organisasi itulah yang disebut sebagai Guild. Guild Blacksmiths, Carpenters, Mason, Chefs, dan sebagainya. Selain itu, ada Guild Warriors, Mages, Paladin, Priest, Hunters, Dark Knights, dan yang terakhir Thieves.

Guild melindungi hak individu dan menawarkan tempat untuk belajar melakukan pertukaran. Sementara itu, anggota Guild menawarkan perlindungan bagi sesama. Di Altana, mereka yang ingin mengejar pekerjaan pada profesinya masing-masing harus bergabung dengan Guild. Siapa saja yang mencoba untuk melakukan pertukaran tanpa menjadi anggota Guild, akan segera terhalangi oleh aktifitas Guild lainnya. Dan karena semua orang tahu tentang konsekuensi ini, maka tidak ada yang mau berbisnis dengan orang yang tidak berada dalam naungan suatu Guild.

Memiliki dua profesi sangatlah tidak dianjurkan. Meskipun ini adalah pembatasan yang parah, Guild berusaha keras dalam membina anggota generasi muda. Setelah seseoranh menjadi anggota resmi Guild, Guild juga akan mengajari mereka berbagai skill. Pada kenyataannya, tidak mungkin bagi seseorang mempelajari berbagai teknik dan skill tanpa bantuan dari Guild.

Tentu saja, mereka masihlah membutuhkan usaha keras untuk mendapat berbagai teknik dan skill. Seseorang yang mendaftarkan sebagai anggota, tidak serta-merta mendapatkan kemudahan untuk menguasai suatu skill. Semua anggota harus mematuhi semua peraturan, resiko, maupun sanksi yang ditetapkan oleh Guild-nya masing-masing.

Yahh, paling tidak itulah informasi yang telah diceritakan oleh Manato. Manato bahkan sudah memberitahu Haruhiro tentang suatu Guild Thieves dengan hokum yang aneh. Tetapi bahkan setelah menimbang-nimbang, Haruhiro pun memilih Guild Thieves, dan mengabaikan yang lainnya.

"Jika aku ingat, aturan di sini adalah : tidak pernah ada aturan," jawab Haruhiro.

"Tepat sekali." Wanita itu mencabut pisau dan memutar-mutarnya. "Tentu saja, itu tidak berarti kita boleh seenaknya sendiri. Misalnya, kita tidak beroperasi di daerah yang diklaim oleh orang lain, dan juga tidak melakukan bisnis pada sesama anggota. Syarat itu juga berlaku untuk pasukan Crimson Moon. Satu Party hanya diperbolehkan memiliki satu Thief, dan kita tidak boleh mencuri barang dari sesama Thief atau sesama anggota pasukan cadangan. Kau akan diajarkan kode etik ini secara bertahap. Jika kau benar-benar ingin menjadi seorang Thief, maka ingat itu baik-baik.”

"Sepertinya….. aku bersedia."

"Ini bukan perkara apa yang kau inginkan ..." wanita itu menoleh untuk menatap Haruhiro secara langsung, dan dia mengulurkan tangannya sembari melebarkan telapak tangan. ”... Jika kau tidak mampu…..."

Bergabung dengan Guild tidak se-simpel mengisi formulir pendaftaran. Haruhiro merogoh sakunya, mengeluarkan kantong kulit yang dia buntalkan, dan melonggarkan tali pengikat kantong tersebut. Menurut Manato, diperlukan pembayaran sejumlah uang untuk bergabung dengan Guild apapun. Dan menurut perjanjian sebelumnya, dikenakan biaya sama untuk mendaftar di Guild manapun. Para anggota baru juga diwajibkan mengikuti kursus selama 7 hari penuh untuk belajar dasar-dasar pertukaran atau berdagang.

Haruhiro mulai menarik beberapa perak dari kantongnya. Satu perak, dua perak, tiga perak ... menurut pendapatnya, biaya keanggotaan sangatlah mahal, tapi ia tidak punya pilihan selain membayar. Mustahil untuk menjadi anggota Crimson Moon tanpa pengetahuan atau skill. Haruhiro mengakui pentingnya kebutuhan ini, tapi tetap saja harganya mahal. Empat perak, lima perak, enam perak, tujuh perak ... Totalnya, dia harus membayar 8 keping perak.

Delapan perak. Sama dengan delapan ratus perunggu. Jika harga kebab adalah 4 perunggu, maka dia bisa membeli dua ratus kebab. Apakah dia benar-benar harus bergabung dengan Guild? Ya, tidak ada jalan lain. Semuanya telah mendengarkan penjelasan Manato dan menyepakati cara ini. Semuanya harus bergabung dengan Guild masing-masing, sekarang juga.

Haruhiro mengambil napas dalam-dalam, dan tanpa berpikir lebih jauh, dia menempatkan delapan perak di telapak tangan wanita itu.

Wanita itu menutup tangannya dan tersenyum ramah.”Moto kami adalah : tanggung jawab pada diri sendiri, kebebasan, dan pembatasan yang sedikit. Kami akan membuatmu bersumpah nanti. Kau sekarang adalah anggota Guild Thieves. Apakah kau lega?"

"Sepertinya begitu. Sekarang aku adalah anggota, lantas bagaimana dengan julukanku?"

"Julukan adalah sesuatu yang kau buat sendiri sebagai Thief. Sekarang, kau hanya dipanggil dengan sebutan Anggota Baru. Nama aslimu tidak berguna saat ini. Setelah tujuh hari pelatihan, aku, sebagai mentormu, akan memberikan julukan yang cocok. Jika kau ingin nama yang terhormat, maka bekerja keraslah dan belajar lebih cepat.”

"Um, tidak apa-apa jika kau kupanggil Master?"

"Aduh…aduh…." wanita itu bersandar di dekatnya, dan dia menangkap dagu Haruhiro. Posisi dia cukup dekat, dan dadanya……. Bahkan terlihat semakin besar, sampai-sampai Haruhiro hendak terbenam di antaranya .”Itu tidak buruk sama sekali. Kau ini cukup baik, ya.”

Wanita itu tersenyum lebar dan membelai dagu Haruhiro dengan ujung jarinya.

"Namaku Barbara. Ini akan menjadi tujuh hari yang menyenangkan.”


Pertemuan


Pada kenyataannya, tidak peduli apakah tujuh hari berikutnya menyenangkan ataukah tidak ... bahkan Haruhiro sekalipun tidak bisa memahaminya.

Siapapun dan kapanpun, setiap anggota boleh keluar dari Guild Thieves yang cinta akan kebebasan. Dan jika seseorang sudah keluar, maka dia bisa kembali menjadi anggota hanya dengan membayar 8 perak. Namun, mereka yang tidak memenuhi syarat untuk menjadi mentor dilarang berbicara pada orang lain tentang teknik mencuri, teknik serangan mendadak, teknik membunuh, dan skill rahasia lainnya yang pernah diajarkan oleh Guild.

Tentu saja, semua yang diajarkan dalam kursus 7 hari juga tidak boleh dibocorkan pada pihak lain. Jadi, Haruhiro tidak bisa membicarakan tentang semua itu. Dia juga tidak boleh menyebutkan nama mentor yang telah diberikan padanya. Itu adalah nama julukan yang hanya diketahui dan digunakan oleh sesama Thief, orang luar pun tidak perlu tahu akan hal itu. Haruhiro akhirnya mendapatkan suatu nama julukan, namun agaknya dia tidak mau orang lain mengetahui nama tersebut.

... Itu karena dia akhirnya mendapat nama julukan : "Kucing Tua." Menurut Master Barbara, julukan itu disematkan padanya karena mata Haruhiro selalu tampak ngantuk, seperti kucing tua. Ketika Haruhiro memikirkannya lagi, ia mengakui bahwa hal itu mungkin saja benar, tapi bukan berarti wanita itu boleh menyebutnya sesuka hati. Barbara bisa menamainya "Panther," atau "Jaguar," atau "Serigala," atau "Elang," atau sejumlah nama lain yang terkesan lebih keren. Toh, lebih banyak nama lain yang lebih baik daripada "Kucing Tua."

Apapun itu, sekarang Haruhiro telah menyelesaikan pelatihan tujuh hari, yang termasuk penginapan dan makanan gratis. Dan dia pun sudah menjadi anggota Guild Thief seutuhnya.

Mungkin juga tidak…..

Master Barbara menjejelkan pelajaran tentang peraturan dan ideologi seorang Thief padanya, sekaligus skill Thief yang paling dasar,

[PICK LOCK] itu adalah skill paling dasar dari semua skill pertempuran, [HIT] itu adalah skill penting untuk melakukan serangan kejutan. Namun, Haruhiro tidak yakin bahwa dia sudah menguasai skill-skill tersebut. Ia masih harus menggunakan skill itu berulang kali agar benar-benar terbiasa dan menguasainya.

Ketika tiba saatnya untuk belajar skill baru, ia harus kembali ke Guild dan berlatih dengan Master Barbara lagi. Tentu saja, diperlukan pembayaran, dan dia harus menjalani pelatihan selama 7 hari lagi.

Saat ini, satu-satunya skill yang Haruhiro telah pelajari adalah [PICK LOCK] dan [HIT], tetapi tingkat kemahiran keduanya sangatlah rendah. Dia tidak yakin bisa menggunakan skill tersebut pada pertarungan yang sebenarnya.

Sebagai hadiah karena telah menyelesaikan pelatihannya, ia menerima jubah bekas, belati bekas, satu set peralatan Thief bekas, dan sepasang sepatu tua… barang-barang butut itulah yang dia kenakan sekarang. Dia memang tampak seperti seorang Thief dengan mengenakan barang-barang itu, tapi masih kurang meyakinkan.

Master Barbara melatihnya dengan kejam, dan dia memastikan bahwa Haruhiro harus mengerti bahwa jalan untuk menjadi seorang Thief sangatlah curam dan berat. Haruhiro adalah pemula yang hendak berubah menjadi bibit Thief yang unggul.

Apakah dia benar-benar akan baik-baik saja?

"Kucing Tua" menghela napas berat dan dia pergi menuju ke tempat pertemuan. Masih dini hari, sehingga pasar belum begitu ramai. Hanya ada dua orang berdiri dalam antrean di Kebab Dory. Salah seorang diantaranya mengenakan baju kulit dan pedang panjang yang dia sarungkan pada sabuknya. Rambutnya cukup acak-acakan. Orang lainnya memegang busur dan terdapat sarung anak panah yang digantungkan di punggungnya. Dia juga memiliki Kukri* yang digantungkan pada pinggangnya. Rambutnya diikat dengan model kepang.
[Catatan penerjemah : Kukri adalah sejenis pisau melengkung, atau kita biasa menyebutnya sabit.]
"Ranta! Yume!”

"Hm?" Ranta berbalik menghadap Haruhiro.

"Hrmph," kata Yume sembari menggigit sepotong kebab, dan dia juga memutarkan wajahnya ke Haruhiro.

Yume adalah seorang gadis yang selalu berekspresi ceria, namun pemandangan itu rusak akibat Ranta berambut berantakan yang selalu tampak cemberut. Sudah lama dia tidak bertemu dengan mereka, karena Haruhiro harus menghabiskan seminggu penuh untuk latihan. Ya, Master Barbara memang seksi, tapi dia benar-benar sadis dan tidak pernah membiarkan Haruhiro malas-malasan.

Setiap malam, Haruhiro harus tidur meringkuk dengan menggunakan selimut kotor dan tipis. Dia tidur pada lantai keras dan sel yang terisolasi. Ia membayangkan bahwa pasti rekan-rekannya yang lain juga mengalami masa-masa sulit seperti dirinya. Pemikiran itu tidak memberinya banyak dorongan, tapi itu cukup membuat dia merasa nyaman.

Dia benar-benar dewa yang teramat-amat mengerikan. Inilah yang terburuk, Haruhiro berpikir demikian. Setelah malampaui batas daya tahan dan tidak sanggup meneruskan, Haruhiro sempat beberapa kali berpikir untuk melarikan diri dari kamp pelatihan. Namun, rasa takutnya terhadap Master Barbara menghentikannya berbuat demikian.

"Ranta ...! Yume ...!” Haruhiro berlari ke arah mereka, sembari mengangkat tangan dengan lima jari terbuka.

"Oh?" Ranta juga melambaikan lima jari padanya, tapi ekspresi Yume jelas mengatakan bahwa dia tidak tahu apa yang harus dilakukan, sehingga Haruhiro pun melambaikan tangan padanya dengan hampa.

Apakah ia terlalu bahagia? Karena sedikit malu, dia pun berdehem dan memulai topik pembicaraan baru.”Hei. Bagaimana kabar kalian berdua? Di mana yang lainnya?"

"Sepertinya kabarku baik-baik saja," jawab Ranta sembari melihat sekeliling.”Tidak ada yang lain di sini kecuali kami berdua.”

"Hrmphermmurphm," kata Yume sembari menelan kebabnya dengan terburu-buru, dan dia pun tersedak. Dia mulai batuk-batuk.

Haruhiro menatapnya.”Yume, kau baik-baik saja?"

"Baik. Berhenti bicara ...”

"Benar-benar tidak baik jika kau mencoba berbicara dengan mulut penuh. Lebih baik kau nikmati terlebih dahulu makananmu, telan dengan benar, kemudian mulailah bicara dengan santai.”

"Yume tidak tahu mengapa, tapi Yume suka makan dengan terburu-buru."

"Sungguh?"

"Master Guild Yume selalu bilang : Yume, kau harus mencoba untuk makan selambat mungkin. Yah, mungkin itu lebih mirip teguran, seperti : YUME MAKANLAH DENGAN LEBIH LAMBAT.”

Ranta menatap Yume dari samping, dan ekspresinya penuh dengan tanda tanya. "Apakah kau benar-benar bisa menggunakan busur panah itu? Bagiku, kau sungguh tidak mirip seperti seorang Hunter.”

"Maksudmu, apakah Yume tahu tentang memanah?" Yume memiringkan kepala ke samping dan menggembungkan pipinya. ”Kata Master Guild Yume, Yume mungkin tidak memiliki bakat untuk itu. Tak peduli seberapa banyak Yume berlatih, kemampuan Yume tak pernah berkembang.”

"Tapi, seorang Hunter yang tidak bisa menggunakan panah tidak bisa disebut Hunter, kan? Semua Hunter dapat menggunakan panah," jawab Ranta.

"Tapi Yume menginginkan seekor serigala sebagai pendamping, maka dari itu Yume memilih untuk menjadi seorang Hunter."

"Serigala, eh?" Haruhiro mengusap bagian belakang lehernya. Rupanya Hunter berpengalaman mampu menjinakkan dan berkomunikasi dengan serigala. Meskipun begitu, sebenarnya serigala bukanlah hewan pendamping yang umum. Haruhiro bisa melihat dan sedikit mengerti tentang kepribadian Yume.

"Di sini ada Hunter tidak berguna, ditambah lagi Thief yang sama saja," Ranta menyemburkan kata-kata itu dengan ekspresi jijik. ”Pasti akan sulit untuk bertualang di luar."

"Tutup mulutmu, hei rambut acak-acakan," Haruhiro membalasnya.

"Jangan panggil aku dengan sebutan itu!"

"Um, permisi," sela seorang gadis mungil yang mengenakan topi segitiga kehitaman dan pakaian berwarna sama. Dia berdiri langsung di belakang Ranta.

"GAH!" Karena kaget Ranta tersontak, melompat dan memutar di udara.

Topi gadis itu berbentuk lingkaran dan cukup lebar. Dia bersandar pada tongkat sambil menundukkan kepalanya, sehingga tak seorang pun bisa melihat wajah gadis itu. Meskipun begitu, Haruhiro langsung saja mengenalinya.

"Shihoru?" Tanyanya.

Gadis itu mengangguk diam-diam. Bagaimanapun juga, dia adalah Shihoru. Ranta membuka matanya lebar-lebar, dan meletakkan tangannya di atas dada.

"Kau membuatku takut dengan menyelinap di belakangku seperti itu!" Kata Ranta. "Kau menjadi seorang Mage, akan tetapi tindakanmu lebih mirip seorang Thief."

"Maafkan aku. Tak seorang pun dari kalian menyadari kedatanganku, jadi aku tak tahu bagaimana harus mendekati kalian…"

"Tidak bisakah kau mengucapkan salam seperti orang lain pada umumnya? Seperti, 'hey' atau 'hi' atau 'oy.' "

"Maafkan aku, tapi aku memang tidak bisa berkata normal. Aku benar-benar menyesal ...”

"Berhenti meminta maaf! Kau membuatku terlihat seperti orang jahat!"

"Kalau dibandingkan dengan Shihoru…." kata Haruhiro sembari menyela di antara mereka berdua.”….. kau memang lebih mirip orang jahat, jadi kau tidak perlu marah seperti itu.”

"Oh, jadi kau adalah orang baik, Haruhiro? Mungkin Shihoru bisa menyembunyikannya dengan baik, tapi aku tahu bahwa kau sedang mengincar DADA RAKSASA miliknya.”

"Apa? Menyembunyikannya?” Tatapan Haruhiro secara otomatis langsung beralih ke dada Shihoru.

Shihoru segera memeluk dadanya, sehingga Haruhiro tidak tahu apakah dadanya memang besar ataukah tidak ... Tunggu dulu, apa sih yang sedang aku lakukan? Dia tidak seharusnya melihat ke arah itu. Wajahnya terasa panas.

"Maaf," katanya sambil menundukkan kepala.

"Tidak apa-apa ..." jawab Shihoru.

"Kau menyembunyikan dadamu!" Ranta menunjukkan jarinya pada Shihoru. "Kau tidak bisa menipu mata-mata ini! Mataku bisa melihat tembus ke dalam bantalan-bantalan itu!”

Haruhiro memelototi Ranta.”Skill macam apa itu?"

"Ini bukan skill, itu adalah bakat alami!"

"Payudara Shihoru memang begitu besar," kata Yume sembari meraba dadanya sendiri.”Pasti enak ya punya dada yang besar. Dada Yume datar. Itu tidak akan menjadi masalah jika Yume ramping, namun Yume lembek dan berdada rata. Itu membuat Yume sedih ...”

"... I….i…..ini….hanya ..." Shihoru meringkuk, seakan-akan dia ingin lenyap dari hadapan mereka .”Ini hanya terjadi karena aku gemuk… itu saja."

"Sungguh?" Jawab Yume.”Tapi bagiku, Shohoru sama sekali tidak terlihat gemuk."

"Pakaian aku menutupinya, itu saja ..."

Ranta mendengus.”Shihoru. Gadis-gadis lain pasti membencimu.”

"…Mengapa?"

"Kau tidak gemuk, tapi kau berpendapat bahwa dirimu sendiri gemuk. Pemikiran seperti itu hanya akan membuat gadis-gadis lain iri padamu.”

"Aku tidak bermaksud untuk ... Maksudku ..." bahu Shihoru mulai gemetar.”Maksudku, aku benar-benar gemuk ..."

"Tunggu," kata Ranta yang tampak malu.”Tunggu sebentar ... Itu bukan alasan untuk menangis.”

"Aku-aku tidak m-m-m-menangis," Shihoru tergagap.

"Ya, kamu menangis! Lihatlah air matamu itu! Kau pasti menangis!”

"Tidak apa-apa, Shihoru," kata Yume sembari membungkuskan lengannya di sekitar tubuh Shihoru.”Jangan menangis. Yume tidak membenci Shihoru. tapi Yume hanya belum memahami sifat Shihoru ...”

Haruhiro mengerutkan kening.”Itu ... Itu tidak akan menenangkannya,Yume.”

"Oh? Begitukah? Tapi tubuh Shihoru terasa nyaman. Lembut dan licin.”

"Ahh, jangan sentuh itu ... Itu memalukan ..."

"Hei, kalian berdua." Ranta menghela napas dengan keras. Sangat keras.”Kalian berdua sungguh menakjubkan! Melakukan hal seperti itu di tempat terbuka! YEAH! Lakukan lagi!”

"Kalian sedang bergembira rupanya," seseorang menyela.

Haruhiro berpaling ke arah suara tersebut.”Manato!"

Manato mengenakan jubah dengan garis-garis berwarna biru. Di tangannya, dia menggenggam semacam tongkat.

"Sepertinya aku terlambat datang," Manato tersenyum lebar dan memandang semuanya secara bergiliran.”Aku adalah seorang Priest, temanku Haruhiro adalah Thief, temanku Yume adalah Hunter, si gadis baik Shihoru adalah Mage, dan yang terakhir Ranta adalah Warrior. Sepertinya Party ini sudah siap untuk pergi bertualang.”

"Benarkah?" Kata Ranta sambil mengerutkan kening.”Ranta adalah Warrior? Kau memanggil Ranta saja?"

"Oh, maafkan aku. Kalau begitu, Ranta adalah…..”

"Persetan dengan profesi! Setelah kupikir lagi, sebaiknya kau memanggil aku dengan sebutan Tuan Ranta.”

"Haha tidak mau."

"Jangan hanya mengatakan 'tidak mau', lantas tertawa begitu saja!" Teriak Ranta.

"Yah, kita kan teman. Yume tidak masalah kok," kata Yume.

"Aku…. Ah… aku tidak keberatan kau panggil apapun," kata Shihoru dengan malu.

"Terima kasih, Yume, Shihoru," jawab Manato.

"Yep!" Kata Yume sambil melambaikan tangannya. Tampaknya Shihoru mengatakan sesuatu sebagai balasan, tapi Haruhiro tidak mendengarnya karena suara gadis itu teramat pelan.

"Manato." Haruhiro mengangkat tangan kanannya, dan Manato juga mengangkat tangannya yang memegang tongkat untuk membalas salam Haruhiro. Mereka melakukan toss, dan terdengar suara yang meyakinkan.

Haruhiro memukul bahu Manato dengan ringan.”Aku senang sekali melihatmu hari ini, Manato. Disebut apa pelatihanmu? Pelatihan Priest?"

"Ya. Dan, bagaimana dengan Guild Thieves-mu?” tanya Manato sebagai balasan.

"Gampang kok," Haruhiro langsung menjawab sembari mengerutkan kening, tampaknya dia cukup canggung karena telah berbohong.”... Sebenarnya, itu bohong. Pelatihanku cukup mengerikan. Mentorku sangat mengerikan. Dia benar-benar seksi, tapi sangat menakutkan.”

"Seksi, ya? Wah, pasti menyenangkan. Master-ku hanyalah orang tua pemarah, dan keras kepala. Jika dia marah, suara kerasnya cukup membuat kepalaku pusing.”

"Kepala pusing? Manato, seberapa keras sih dia berteriak padamu?”

"Aku tidak ingat. Tapi dia kuat marah seharian sembari terus membentakku. Dia sanggup marah sepanjang waktu.”

Haruhiro, terus digembleng oleh Master Barbara, sampai-sampai dia kehilangan semua kepercayaan dirinya sebelum bisa mengembangkan skill apapun. Jujur saja, itu cukup menyedihkan. Tapi sepertinya, Manato mengalami hal serupa. Mungkin semua orang juga mengalami hal yang sama ketika pertama kali berlatih di Guild apapun. Setelah menyadari bahwa dia bukanlah satu-satunya orang yang kesusahan, suasana hati Haruhiro menjadi sedikit lebih lega. Sepertinya itu bukanlah hal yang perlu dimasukkan dalam hati.

Berkat Manato, ia merasa cukup lega. Manato juga merupakan orang yang menginformasikan tentang sistem Guild, dan mendorong mereka bergabung dengan mereka. Tanpa Manato, mungkin mereka sekarang sudah jadi gelandangan. Haruhiro bahkan tidak ingin berpikir tentang hal itu.
Grimgar L1 084.jpg
"Aku kira, sekarang adalah waktu yang tepat," Ranta mendesah. Ekspresinya agak aneh.”Sebenarnya, aku punya pengumuman untukmu semua. Suatu pengumuman yang sangat penting.”

Haruhiro mengangkat alisnya.”Seperti apa?"

"Apa itu?" Kata Yume sambil berkedip karena terkejut. Shihoru menatap Ranta dengan gugup dan Manato melihat peralatan dan armor Ranta dengan curiga.

Ada sesuatu yang aneh. Ranta mengenakan armor kulit yang keras dan ada juga pedang yang menggantung pada sabuknya. Tapi penampilannya cukup mirip dengan seorang Warrior.

"Hm," kata Manato, matanya menyipit.”Bukankah seharusnya seorang Warrior mengenakan peralatan berupa rantai-"

"Dengar!" Ranta membusungkan dadanya dengan dorongan kuat, sampai-sampai Haruhiro khawatir dia akan terjatuh.”Aku sudah memberitahu semuanya bahwa aku akan menjadi Warrior, tapi aku berubah pikiran! Sudah jelas bahwa kejeniusanku tidak akan banyak dimanfaatkan jika aku bergabung dengan Guild Warrior, maka aku pun urung bergabung dengan mereka!”

"Ap…." Manato mulai berkomentar, tapi kemudian dia seakan kehilangan kata-kata. Wajahnya pun menjadi pucat.

Haruhiro tidak bisa menyalahkan dia. Sejauh apa yang Manato mampu pahami, suatu Party tidak akan bisa terbentuk tanpa kehadiran 2 kelas, yaitu Priest dan Warrior. Warrior adalah petarung garis depan, sekaligus raksasa yang menghadapi musuh secara langsung dengan mengandalkan kekuatan dan amarahnya. Priest adalah penyembuh Party, yang mendukung rekannya selama pertarungan berlangsung. Karena itu, Manato merelakan dirinya untuk menjadi Priest sementara menganjurkan Haruhiro atau Ranta menjadi Warrior.

Awalnya, Ranta bersedia karena dia pikir itu adalah kelas yang keren, sehingga Haruhiro memutuskan untuk bergabung dengan Guild Thieves.

"Hm?" Ranta ekspresi benar-benar tak acuh. "Kehilangan sesuatu yang-penting? Kau benar-benar terkejut, kan? Sungguh terkejut, kan”

"Tidak mengejutkan," kata Haruhiro sambil menggosok pelipisnya.”Lebih seperti kecewa. Mengapa kau memutuskan untuk bergabung dengan Guild berbeda tanpa berdiskusi dengan kami?”

"Suatu perasaan. Firasat. Intuisi. Indra ke enam. Para dewa yang bersemayam di dalam diriku berbisik kepadaku: Kau tidak lahir sebagai seorang Warrior. Itu tak pantas. Kau adalah seorang pria dengan kemampuan yang lebih besar daripada itu."

"Lalu," kata Manato, tampaknya dia mulai tenang, meskipun ekspresinya masih sedikit gelisah, "Guild apa yang kau masuki?”

"Lihatlah!" Ranta mengeluarkan kalung yang bermotif tengkorak…. Tidak…. itu benar-benar kumpulan tengkorak yang dijadikan kalung… kemudian dia menunjuk pada dadanya. Pada Armornya juga tampak simbol mirip tengkorak.”Aku adalah seorang Dark Knight! Puja Penguasa Kematian, Dewa Kegelapan Skulheill!”

Yume menempatkan jari telunjuk pada bibir bawahnya.”Ini sedang tren, ya?”

"Tidak!" Ranta berteriak sembari menyemburkan kata-kata itu.”DARK KNIGHT! Bukan nama itu mengagumkan? Aku lebih unggul daripada Warrior biasa!”

"Tolong jangan bilang bahwa…." Shihoru dengan lembut berbisik, "…. kau menjadi Dark Knight hanya karena namanya terdengar keren ...”

"Hanya?'" Ranta mendesah dengan lebay.”Apakah aku perlu alasan lain? Tidak, aku tidak perlu alasan lain. Bahkan, memang tidak perlu ada alasan lain tak peduli berapa kali kau berpikir.”

Haruhiro sangat ingin menghajar pria berambut semrawut itu. Dia benar-benar tergoda untuk melakukannya. Tapi dia tidak melakukannya. Walaupun ia menghajar Ranta, tidak aka nada solusi dari situasi ini.

"Guild Dark Knight memiliki aturan khusus, bukan?" Haruhiro malah bertanya.”Setelah Kau bergabung, Kau tidak diizinkan untuk meninggalkan Guild. Jika kau mencoba pergi, mereka akan datang untuk mencarimu.”

" 'Sampai engkau dinaungi oleh Dewa Kegelapan, maka engkau tidak diijinkan untuk menyembah Dewa selain dirinya ", dan itu adalah perintah. Paham? 'Dinaungi oleh Dewa Kegelapan' berarti kematian," kata Ranta.

"Jadi, apa yang bisa dilakukan oleh seorang Dark Knights?" Tanya Haruhiro.

"Aku bisa memanggil Demon!" Ranta mengangkat tangannya yang terkepal, kemudian menurunkannya.”Tapi tidak saat ini. Pada siang hari, kekuatan Dewa Cahaya Luminous terlalu kuat.”

"Jadi kau hanya bisa memanggilnya di malam hari."

"Untuk sekarang! Dia semakin kuat karena aku mengumpulkan Vices!”

"Jadi, Demon itu bisa melakukan apa?"

"Dia berbisik kepadaku, dan memberitahuku ketika musuh mendekat. Sesekali, dia akan meledak dengan lelucon setan!”

"Apa?"

"Apa maksudmu apa? Dark Knight benar-benar sempurna untukku!”

"Kau benar," Manato mengangguk sembari tersenyum dengan sinis. Terdengar nada ejekan pada tawa Manato. ”Itu sungguh cocok untukmu."

"Itu benar!" Ranta berkata dengan bangga tanpa mempedulikan maksud sesungguhnya dari Manato.

Betapa bebal pria ini, pikir Haruhiro. Ranta mungkin tidak pernah merasa susah dan tidak peduli pada apapun, namun itu tidak baik untuk Party secara keseluruhan. Apakah mereka bisa disebut idiot karena telah mempercayakan berbagai hal pada pria macam ini? Haruhiro menunduk.

Iya, mereka memang idiot.

Lanjutannya akan saya update Nanti:

Hai to Gensou no Grimgar Volume 1


Artikel Terkait

Hai to Gensou no Grimgar (Indonesia):Volume 1. Kehilangan dan Tak Punya Pilihan., Yorozu, Menikmati Kehidupan di Guild dan Pertemuan
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email