Kamis, 21 Maret 2019

Kembang Api Penantian

Kembang Api Penantian


Kembang Api Penantian


19 Oktober 1945,
Seperti biasa Asri mengenakan pakaian kebaya dan jarit panjang menutupi kakinya. Rambutnya ia kepang dua, sangat sederhana namun tetap tampak cantik. Satria memakai seragam tentara lengkap. Mereka berdua terduduk di rerumputan

Hasil gambar untuk kembang apijess
Terdengar suara korek api dinyalakan
”Ini apa?” tanya Asri
”Ini namanya kembang api. Lihatlah! Nanti kau pasti menyukainya.”
”Bukankah ini sejenis petasan? Petasan itu dilarang kan mas?”
Seperti kata Asri, petasan dan barang-barang sejenisnya seperti kembang api adalah barang gelap kala itu. Sejak zaman Belanda, pemerintahan Belanda telah melarang peredaran petasan.
”Tenanglah, ada aku disini. Pegang ini” perintah Satria seraya memberikan kembang api lidi di tangannya pada Asri.
Kembang Api lidi di tangan Asri mulai memercikkan bunga-bunga api kecil yang memancarkan cahaya terang di tengah kegelapan, berterbangan layaknya tarian dewi kahyangan, penghipnotis semua mata yang melihatnya. Begitu pula dengan mata Asri dan Satria. Mata mereka tak berkedip sedikitpun. Keduanya amat terpana dengan kembang api di tangan mereka. Terjerembab dalam suatu keterpukauan yang membuat mereka berada dalam suasana keheningan di tengah malam hari yang dingin. Betapapun indahnya kembang api namun semuanya hanyalah sementara. Keindahan yang amat cepat pudar akibat tiupan angin pelan. Tapi tidak dengan cinta yang mereka miliki.
”Asri, apakah kamu mencintaiku?” tanya Satria tiba-tiba kala cahaya kembang api mulai padam
Asri mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk untuk memandang kembang api, dilihatnya wajah Satria yang penuh keseriusan.
”Tentu saja Satria” jawab Asri kemudian
”Apakah kamu yakin?” tanya Satriya
Asri mengangguk pertanda bahwa ia yakin
”Jangan cuma anggukan, aku ingin mendengarnya langsung dari mulutmu” desak Satria
Asri menarik nafas sejenak. ”Aku sangat yakin” jawab Asri pasti
”Tapi, apakah kamu me…” ucapan Satria terhenti karena Asri meletakkan jari telunjuknya pada bibir Satria
”Sst. Yakinlah mas. Aku tulus mencintaimu dan aku akan terus menyayangimu sampai kapanpun. Sekarang aku ingin bertanya padamu. Apa yang sudah terjadi sampai-sampai mas menanyakan ini padaku?”
Asri tahu tidak biasanya kekasihnya seperti ini, pasti ada suatu alasan yang membuat Satria meragukan cintanya.
”Bukan sudah, tapi akan.” Satria menghela nafas sejenak kemudian melanjutkan ucapannya
“Besok aku harus pergi. Aku dipindah tugaskan ke Ambarawa balas Satria
”Kenapa harus pindah? Bukankah negeri kita sudah merdeka? Bukankah Yogyakarta adalah kota besar mas? Dan kota ini jauh lebih membutuhkan penjagaan tentara sepertimu daripada Ambarawa” ucap Asri
Satria membelai rambut di kepala Asri dengan lembut dan kemudian berkata ”Justru karena Yogyakarta kota besar. Sudah banyak tentara yang bertugas disini berbeda dengan Ambarawa, masih sedikit sekali yang berjaga disana. Aku mohon sri relakan masmu ini pergi.”
Asri menggeleng, air mata bercucuran dari pelupuk matanya. ”Aku tak ingin..hiks ber hiks pisah hiks denganmu mas” ujar Asri diselingi isak tangis
”Sri, ini sudah menjadi tugasku untuk menjaga negeri ini. Kupinta mengertilah sedikit saja.”bujuk Satria seraya merengkuh Asri dalam pelukannya. Asri menyandarkan kepalanya pada dada bidang Satria, ia masih saja sesenggukan.
”Aku hiks hiks aku hiks tak ingin mengulangi penantian itu lagi mas” Asri berkata dengan diakhiri tangisan yang semakin keras.
Suara tangisannya terdengar begitu memilukan dan menyayat hati. Kali ini amat sulit bagi Asri melepaskan Satria pergi. Dua tahun yang lalu Satria juga seperti ini. Berpamitan kepada Asri demi tugas negara. Masa itu adalah dua tahun paling menderita dalam hidup Asri. Menderita akibat kekhawatiran yang terus menghujam jantungnya bagaikan sebuah pisau tajam. Kekhawatiran akan keadaan Satria apakah ia sehat atau ia terluka. Kecemasan akan keberadaan nyawa dalam raga Satria apakah ia masih hidup atau ia telah pergi dari dunia ini. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang terus menyerang relung jiwa Asri yang paling dalam. Tiap kali ada kabar kematian tentara Asri langsung histeris. Ia bergegas berlari untuk mencari tahu apakah tentara malang itu adalah Satria. Namun dewi fortuna masih berada di pihak mereka. Satria masih bisa terus selamat sampai akhirnya kemerdekaan telah didapatkan. Dan baru satu bulan ini mereka bertemu kembali. Asri tenggelam dalam rengkuhan hangat Satria. Matanya terpejam untuk beberapa lama, ia sedang memikirkan semuanya. Setelah merasa mendapatkan jawaban dari kegundahannya Asri mulai membuka mulutnya
”Mas” panggil Asri lirih seaya mendongakkan kepalanya aga sejajar dengan Satria.
“Iya Sri” Jawab Satria
“Aku..mengizinkanmu untuk pergi asalkan engkau mau berjanji padaku bahwa Mas akan kembali lagi nanti.” Jelas Asri
“ Aku janji” Satria mengangguk tegas
Keheningan menyeruak sejenak. Namun kemudian kembali pecah karena Satria
“Simpanlah sisa kembang api ini. Tunggu aku, dan kita akan menyalakannya bersama lagi” Satria memberikan sisa kembang api yang belum dinyalakan itu kepada Asri.
Asri hanya mengangguk mengerti. Ia meletakkan kepalanya pada pundak Satria. Berusaha menikmati waktu terakhir yang ia miliki bersama kekasihnya. Sisa malam itu mereka nikmati dengan keheningan. Tanpa suara tanpa gerakan, namun tatapan mata mereka satu sama lain telah mengisyaratkan perasaan di hati keduanya
***
15 Desember 1945
“Asri” teriak salah satu tetangga di dekat rumah Asri
“Iya mbak Is. Ada apa?” tanya Asri seraya menghampiri tetangganya itu
Mereka berdua kini sedang berdiri di halaman rumah Asri
“Sudah mendengar kejadian di Ambarawa?” Mbak Is terlihat begitu bersemangat ketika bercerita. Ambarawa? Itukan tempat Mas Satria bertugas”
“Belum, memangnya ada apa disana?” jawab dan tanya Asri kemudian
“Tentara sekutu melanggar janjinya. Telah terjadi pertempuran hebat disana.” jelas Mbak Is
“Apa? Pertempuran?” Asri terlonjak kaget, pikirannya langsung tertuju pada Satria yang sedang ada disana
“Tenang saja tentara Indonesia memenangkan petempuran sehingga Ambarawa telah kita kuasai lagi” Mbak Is bercerita dengan nada bangga
“Lalu, bagaimana dengan Satria? Apa dia baik-baik saja” raut wajah Asri terlihat cemas
“Entahlah, aku tak tahu banyak tentang kejadian itu. Sebatas itu saja infomasi yang kupunya. Permisi Sri, aku mau pulang cucian telah menantiku di rumah ” pamit Mbak Is
“Iya mbak” Asri mengangguk diringi senyuman tipis dibibir
Asri masih saja terpaku di depan halaman rumahnya. Rasa cemas mulai menggelayuti hati dan pikirannya. Telah lama Satria tak memberinya kabar itulah yang membuatnya semakin resah. Kegundahannya semakin lama semakin besar namun apa daya saat ini tak ada yang bisa membantunya. Asri mengarahkan pandangan matanya ke langit sejenak kemudian berbalik dan masuk ke dalam rumah.
Setiap malam Asri lewati dengan duduk di lapangan rumput tempat ia dan Satria terakhir bertemu. Ia selalu memandang kembang api yang Satria tinggalkan untuknya. Hari demi hari berlalu. Kekhawatiran di dalam hatinya terus memuncak. Sampai suatu ketika terdengar sebuah kabar yang amat mengejutkan. Kekasihnya tercinta Satria telah tewas pada saat petempuran Ambarawa kemarin.
Deg
Jantung Asri serasa berhenti berdetak. Berulangkali Asri berteriak histeris.
“Tidak mungkin Satria tewas, aku tak percaya. Tidak mungkin. Dia telah berjanji padaku kalau dia akan kembali. Tidak mungkin” Asri berteriak-teriak seperti orang gila
Suaranya terdengar begitu parau. Siapapun yang mendengarnya pasti akan merasakan kepedihan dalam hati Asri. Mata sembab akibat kerinduan yang menyesakkan dada tak pernah lepas dari dirinya. Ia selalu menyangkal dan menolak kematian Satria.
“Sebelum aku melihat jasad Satria dengan mata dan kepalaku sendiri aku tak akan percaya Satria telah pergi.” ungkap Asri dengan berteriak pada siapapun yang menenangkannya
Setiap hari dirinya bagaikan orang linglung, berdiri di depan rumah dan memandang jalanan dengan tatapan kosong. Sesekali butiran-butiran bening itu meluncur dari pelupuk matanya. Badan Asri nampak kurus, rambutnya yang dikepang dua nampak acak-acakan. Sejak kabar itu terdengar, Asri jarang sekali makan. Jika bukan karena paksaan ibunya Asri pasti tidak akan makan. Ia hanya menunggu menunggu dan menunggu.
Satu tahun berlalu, Asri masih saja seperti itu. Dan kali ini sebuah ide gila tiba-tiba saja terlintas. Asri berjalan menuju jembatan yang ada di desanya. Jembatan itu cukup besar dan dibawahnya dialiri sungai yang mengalir dengan cukup deras. Jika kita jatuh ke dalam sana sudah pasti kita akan terbawa air dan lama-lama akan mati tenggelam. Ia berencana untuk mengakhiri hidupnya disana. Menurut Asri jika memang Satria telah pegi dari dunia ini percuma saja dia hidup. Tak ada artinya, tak ada manfaatnya. Bagaikan seorang burung yang tak mungkin terbang lagi karena salah satu sayapnya telah patah. Satria telah lama menjadi belahan jiwa Asri. Dirinya dan Satria bagaikan dua sisi logam yang seharusnya tak terpisahkan. Rencana pernikahan juga sudah mereka susun. Namun sepertinya Tuhan berkehendak lain.
Langkah gontai Asri telah membawanya sampai pada jembatan itu. Ditengoknya aliran deras dibawah jembatan. Timbul sedikit rasa takut dalam benaknya. Namun kesedihan, kesendirian, kesepian dan kerinduan yang ia rasakan telah mengalahkan segalanya. Tekatnya sudah bulat. Asri memegang besi pembatas di sisi jembatan dan mulai naik di atasnya. Kedua tangannya ia rentangkan. Asri memejamkan matanya dan mulai menghirup udara di sekitarnya.
“Mas Satria, aku akan segera menemuimu di surga. Tunggulah aku” gumam Asri dalam hati.
Hatinya semakin mantap, ia angkat kaki kanannya dan bersiap untuk melompat.
”Asri” teriak seseorang
Kerasnya suara orang itu mengusik Asri. Ia buka matanya perlahan. Kepalanya menoleh kesamping namun tubuhnya tak bergerak dan tetap setia pada posisinya.
”Turunlah!” pinta orang itu kala Asri menoleh ke arahnya.
”Kenapa aku harus turun?” tanya Asri datar
”Aku tak ingin kau mati” jawab orang itu
‘ ‘Bukankah kau tak akan merugi seandainya mati? Jadi untuk apa kau mencegahku Arya?”
Asri menatap mata Arya lekat. Sorot mata Asri penuh kebencian. Arya adalah sahabat Asri dan Satria sejak kecil. Sama halnya seperti Satria, Arya adalah seorang tentara. Kala itu Asri amat enggan bertemu Arya. Ia begitu membenci Arya karena dialah sang pembawa berita kematian Satria. Berbagai tuduhan dan pikiran buruk ia layangkan pada Arya. Asri pikir Arya telah membohongi dirinya. Asri tahu kalau Arya menyukai dirinya. Jadi walaupun terkesan besar kepala Asri terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa Arya ingin mendapatkan dirinya dan untuk itulah Arya berbohong. Meski dengan sifat lembut Arya hal itu sama sekali tak mungkin. Asri terus saja menjejali benaknya dengan gagasan itu. Karena hanya itulah, alasan masuk akal yang tersisa untuk mendukung pendapatnya bahwa Satria masih hidup.
”Kata siapa aku tak rugi seandainya kau mati? Sudah jelas aku merugi, kematianmu akan membuat keluargamu menjadi sibuk. Jikalau itu terjadi, mau tak mau aku harus membantu keluargamu. Apalagi kalau kau mati tenggelam dalam aliran deras sungai itu. Tindakan bodohmu akan memaksa seluruh warga desa termasuk aku untuk mencarimu. Dan aku tak ingin hal itu terjadi. Mengerti?” jelas Arya panjang lebar dengan nada mengejek.
Kata-kata manis sepertinya sudah tak mempan bagi Asri. berharap mendapatkan hasil yang berbeda Arya mencoba menggunakan kata-kata kasar untuk mencegah Asri.
”Sudahlah Arya berhenti mencegahku. Pendusta sepertimu tak kan mampu memahami diriku saat ini. Diriku yang sedang berkutat pada ketidaksempurnaan akibat separuh jiwaku telah hilang. Dan tahukah engkau manusia yang telah kehilangan separuh jiwanya seperti aku ini sudah tak memiliki daya lagi untuk hidup. Percuma aku hidup. Aku hanya merepotkan orang lain. Aku tak ingin menjadi manusia lemah lagi. Akan lebih baik jika aku mati.” ungkap Asri dengan nada putus asa
”Iya aku memang tak tahu. Tapi sadarkah kamu Asri, bahwa kau jauh lebih bodoh daripada aku?” sekali lagi Arya berujar dengan nada mengejek. Kedua tangan Arya ia masukkan ke dalam saku. Sikap tubuh Arya terlihat amat angkuh membuat Asri semakin muak. Meski masih berdiri di atas jembatan yang cukup tinggi, Asri tetap terlihat kokoh. Kakinya tak gemetar sedikitpun. Kemarahan dan kebenciannya pada Arya telah mengalahkan ketakutan dalam hatinya
”Cuih, kau bilang aku bodoh? Apa maksudmu? Coba Jelaskan agar aku mengerti!” perintah Asri dengan pandangan tak lagi ke arah Arya melainkan ke depan
”Baiklah, dengarkan penjelasanku baik-baik. Tadi kau mengatakan bahwa aku adalah seorang pendusta. Kita berdua sama-sama tahu, kau menganggapku begitu karena berita kematian Satria yang telah aku bawa. Waktu itu kau sangat yakin dan kekeh bahwa Satria belum mati. Lantas, kenapa sekarang kau bilang separuh jiwamu telah pergi? Bukankah kau yakin Satria masih hidup?”
Perkataan Arya secara tak langsung memaksa Asri untuk berpikir.
” Aku rasa perkataan Arya ada benarnya. Bukankah aku yakin bahwa Mas Satria masih hidup? Lalu kenapa aku ingin bunuh diri?” gumam Asri dalam hati
Kebimbangan mulai bergejolak dalam jiwa Asri. Sampai-sampai kegundahannya membuat Asri mengacak-acak rambutnya sendiri. Asri kembali menoleh kepada Arya.
“Aku rasa kau benar. Tidak sepantasnya aku ingin bunuh diri seperti ini”
Asri turun dari sisi jembatan itu perlahan. Ia berjalan menghampiri Arya dengan ragu. Seketika Arya merengkuh Asri dalam dekapannya. Tangisan Asri pecah
“Maafkan aku Asri. Aku telah membuatmu begini dengan membawa kabar burung yang belum tentu benar. Aku juga merindukan Satria. Dialah sahabat terbaikku. Aku harap Satria masih hidup dan segera kembali bersama kita.” tukas Arya seraya mengelus rambut Asri dengan lembut.
Setelah kejadian itu keadaan Asri semakin lama semakin membaik. Hidupnya mulai teratur kembali. Mata sembab tak lagi menghiasi wajahnya. Hatinya masih merindukan Satria, akan tetapi ia lebih memilih mendoakan keselamatan Satria tiap malam daripada terus berkubang dalam kesedihan seperti dahulu.
***
20 Juli 1947
Suasana kota Yogyakarta malam itu tak begitu tenang. Ultimatum yang Belanda berikan sedikit banyak memberikan kekhawatiran pada tiap jiwa yang ada. Arya merupakan seorang Tentara. Hari ini ia bertugas untuk mengamankan wilayah keraton dan sekitarnya. Sementara Asri sedang berbaring di tempat tidur rumahnya tak henti-hentinya gelisah. Setelah cukup lama berpikir akhirnya Asri memutuskan untuk menemui Arya. Lampu minyak kecil ia bawa untuk penerangan. Asri berjalan mengendap-endap agar tidak membangungkan orang tuanya. Asri telah berjalan cukup lama. Dari kejauhan Arya terlihat berdiri di pintu samping keraton dengan senjata di tangannya. Meski menggunakan jarit Asri berusaha mempercepat langkah kakinya.
”Arya” panggil Asri pelan agar tidak mengganggu tentara lainnya
”Asri” decak Arya kaget
”Untuk apa kau kemari?” Satria berdesis pelan
”Perasaanku tak enak, aku harap kamu berhati-hati. Aku tak ingin kehilangan siapapun lagi” Mata Asri berkaca-kaca
Ia sangat serius dengan apa yang dikatakannya. Cukup sekali pedih itu ia rasakan.. Mata Arya dan mata Asri beradu. Keduanya terjerembab dalam kesunyian tanpa arah. Hanya seulas senyuman tipis di bibir Arya yang tampak. Arya begitu senang pujaan hatinya mengkhawatirkan dirinya. Meski sebenarnya ia tahu hanya Satria lah yang memiliki cinta Asri. Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara dibalik semak-semak. Tak disangka-sangka sesosok pria bertubuh tegap yang sudah lama menghilang keluar dari balik semak itu.
“Asri” panggil sosok itu kala melihat Asri yang bersembunyi di balik Arya dengan masih membawa lampu minyak di tangan kanannya
“Mas Sa..tria” ujar Asri gelagapan
Lampu minyak di tangan Asri jatuh. Mata Asri terbelalak tak percaya. Begitu juga dengan Arya yang tak kalah terkejutnya dengan Asri. Asri berlari menghampiri Satria dan memeluknya dengan erat.
“Mas Satria, aku sangat merindukanmu. Kemana saja kau selama ini?” tanya Asri yang masih dalam pelukan Satria
“Maaf! Aku tak memberimu kabar sama sekali.” jawab Satria
Tangisan Asri untuk kesekian kalinya tumpah. Namun kali ini bukan tangisan kesedihan melainkan tangisan bahagia.
“Kau jahat Mas” Asri memukul dada Satria pelan
“Maafkan aku” Satria mempererat pelukannya. Ia elus rambut Asri perlahan dan terakhir ia kecup kening Asri lembut.
Arya menghampiri Satria dan Asri.
“Hei, darimana saja kau selama ini?” Arya memegang pundak Satria
Satria melepaskan Asri dari pelukannya kemudian menghapus air mata di wajah Asri. Satria beralih memandang Arya.
“Setelah kejadian di Ambarawa aku ikut Jenderal Sudirman sebagai pasukan gerilya. Karena itu aku tak bisa memberi tahu siapapun dimana aku berada. Maaf aku telah membuat kalian khawatir” Satria menunduk. Ia terlihat amat menyesal.
“Tak apa kawan. Yang terpenting sekarang kau telah kembali kesini”
Mereka bertiga bercengkerama untuk menghilangkan semua kerinduan yang selama ini dirasakan. Walau rasa cemburu sedikit menghampiri Arya kala melihat Satria dan Asri akan tetapi ia teps itu semua. Jika orang yang ia sayangi bahagia maka ia akan ikut bahagia. Namun tiba-tiba sebuah hal yang tak diinginkan terjadi.
Duarrr
Dentuman keras terdengar. Ternyata itu adalah suara bom yang dijatuhkan oleh Belanda tepat pada tengah malam hari itu. Suara tembakan terdengar dimana-mana. Asap akibat ledakan tadi mengepul. Pandangan mata menjadi kabur. Tentara Belanda melakukan penyerangan dari segala penjuru. Semua orang berhamburan keluar dari rumahnya berusaha menyelamatkan diri. Situasi semakin tak terkendali
“Asri sebaiknya kau cepat lari dari sini” pinta Arya
“Tapi, aku tak mungkin meninggalkan kalian berdua” rengek Asri
“Tidak kau tidak harus sendiri. Satria bawa Asri pergi dari sini biar aku yang melindungi kalian” Arya menyiapkan senapan di tangannya
“Tapi Arya, kau bisa mati konyol.” tolak Satria
“Tenang itu tak akan terjadi cepat pergi” teriak Arya
Duar duar
Arya menembak tentara Belanda yang tiba-tiba muncul dari belakang. Satria menarik tangan kanan Asri dengan paksa.
“Mas aku tak mau meninggalkan Arya disini” tolak Asri
“Aku tak apa, per..” suara Arya terputus
Hujaman peluru tepat mengenai jantungnya. Ia tertembak dari belakang. Dalam keadaan seperti itu Arya masih bisa berbalik dan kemudian menembaki tentara Belanda.
“Aaaaa” teriak Arya seraya mengarahkan senapannya ke segala penjuru
“Arya” Asri juga ikut berteriak. Matanya kembali basah. Ia tak tega melihat keadaan Arya yang sempoyongan dengan darah di dadanya. Namun Arya masih bisa mengangguk dan tersenyum ke arah Asri
Satria terus menahan tubuh Asri agar tidak kembali kesana. Ia tahu nyawa Arya tak mungkin tertolong lagi.
“Asri, kita harus pergi” pinta Satria
“Tapi mas..”
“Tak ada tapi, aku tak ingin kau terluka.” Satria berteriak.
Suara tembakan yang terus menderu membuat mereka sedikit kesulitan berkomunikasi
“Mas awas” Asri mendorong Satria sampai jatuh.
Duarr
Asri tertembak oleh pasukan Belanda. Tubuhnya tehempas ke tanah. Darah mengucur dari dadanya
“Asri” teriak Satria
Satria langsung mengarahkan senapannya kepada penembak Asri. Dengan sekali bidikan tentara Belanda itu terjatuh. Satria menghampiri Asri yang sudah terkulai lemas di tanah. Ia angkat kepalanya dan meletakkannya di pangkuannya.
“Sri, kenapa kau menolongku tadi? Kita baru saja bertemu tapi sekarang..” ungkap Satria diselingi dengan isak tangis
“Tak apa mas.. aku ikhlas menolongmu. Seperti Mas Arya menyelamatkanku. Ia telah menyelamatkanku sebanyak dua kali. Jadi kenapa aku harus menolak kesempatan untuk menyelamatkanmu mas?” Asri berujar dengan pelan. Bukan hanya pelan suaranya lebih mirip sebagai bisikan. Asri pergi dengan senyuman dibibir. Wajahnya nampak tenang dan tak terlihat guratan kekecewaan sedikitpun. Penantiannya telah usai. Ia telah bertemu dengannya kembali. Meski sangat singkat itu sudah cukup baginya. Satria terus menangis malam itu. Sampai-sampai ia tak menyadari ia sudah terkepung oleh tentara Belanda.
“Angkat tangan” perintah pasukan Belanda
Satria tetap duduk disitu dan tak bergeming sedikitpun. Ribuan tembakan meluncur dari senapan para tentara Belanda mengenai tubuh Satria. Namun ia tetap disitu. Duduk dan memeluk tubuh Asri yang sudah tak bernyawa lagi. Bom yang dijatuhkan tentara Belanda bagaikan kembang api di malam itu. Menutup kisah tragis cinta mereka.
Cinta tak harus memiliki
Penantian panjang juga tak selalu berujung manis
Tapi bukan berarti kita harus berhenti mencinta
Karena cinta adanya di hati bukan di raga
Setidaknya sekali rasa itu pernah hadir
Jiwa ini kan tenang kala menghadap ilahi
Meski ruh telah pergi
Meski cinta tak diraih lagi

Rabu, 20 Maret 2019

Rindu kebersamaan Keluarga dan akhir mendapatkan orang yang dicintai

   "RINDU KEBERSAMAAN"



"Saya Tan fredi ferdiansyah, anak pertama dari 4 bersaudara ingin menceritakan kisah diri saya sendiri tentang rindu kebersamaan keluarga dan akhirnya menemukan sosok wanita yang saya cintai."




😼😼😼😼😼😼😼😼😼😼😼😼😼😼😼😼😼😼😼😼😼😼😼😼😼😼
Mungkin mudah untuk kalian melihat hidupku dari kaca mata kalian, semua yang ku inginkan selalu terpenuhi apapun itu. Yaa mungkin itulah yang selalu aku perlihatkan kepada orang-orang diluar sana, indahnya hidupku, bahagianya menjadi diriku. Tak ada yang mengerti aku selama ini semuanya hanya melihat bahagiaku, melihat aku kuat tanpa tahu betapa rapuhnya aku.
Bertahun-tahun ku menahan ini. Membiarkan rasa benci ini tumbuh besar kepada kedua orang tuaku yang ku anggap telah menghancurkan hidupku, membiarkanku dalam kesepian yang teramat sakit ku rasakan, disaat teman – teman seusiaku merasakan indahnya jalan – jalan dengan kedua orang tuanya, aku hanya bisa menatapnya dari jauh dan berharap suatu saat itu akan terjadi padaku.
Dari kecil ku telah merasa jauh dari kedua orang tuaku, ku merasa hidup sendirian didunia ini melakukan apapun yang aku suka tanpa pernah takut mengecewakan siapapun, tak pernah perduli akan malunya orang tua jika yang ku lakukan mendapat cemoohan orang. Yaa, kupikir merekapun tak pernah memikirkan aku, tak pernah sekalipun mereka menanyakan berapa nilaiku hari ini, apa yang terjadi pada hidupku hari ini, adakah hal bahagia yang aku dapatkan, mereka hanya perduli hidup mereka.
mungkin memang mudah disaat mereka berpisah karena saat itu tak sedikitpun aku mengerti akan indahnya kasih sayang,



 Mungkin aku terlahir dengan keluarga yang kurang sempurna bagiku..orangtua yang hanya memikirkan ego masing-masing,hingga akhirnya hidupku menjadi seperti ini,,,.kurangnya kasih sayang dari orangtuaku, membuatku selalu ingin berbuat suatu kekonyolan dihadapan orang lain,,agarmereka memperhatikanku..

Tuhan...



jika aku boleh meminta..aku hanya ingin keluargaku utuh kembali..
Tuhan.. aku ingin keluargaku seperti keluarga-keluarga pada umumnya..
Tuhan...aku ingin hidup bahagia dengan orangtua kandungku...aku ingin ayah dan ibuku rukun kembali layaknya suami istri..
Tuhan... jika aku boleh meminta...aku tidak ingin mempunyai dua ibu...aku hanya ingin punya satu ibu,,
ibu kandungku..
Tuhan.. .akankah engkau mengabulkan permintaanku ini?
Tuhan... aku rindu keluarga yang harmonis... hingga tiada lagi tetesan air mata di wajahku setiapaku kangen salah satu diantara mereka..
Tuhan...jika Engkau mendengar rintihanku,,,kumohon,,kabulkanlah permintaanku ini Tuhan..
Tuhan.. aku rindu mereka yang dulu... semoga dikemudian hari,, orangtua kandungku bisa kembali rukun dan hidup bahagiabersama denganku lagi..



Allahumma Amiinnn...





"Tapi sekarang aku mulai mengenal yang namanya cinta dan kasih sayang dari seorang wanita, dia mulai membuat hidupku penuh dengan kegembiraan tiada tara., bila dia pun pergi apakah aku harus pergi ke sisi tuhan?
Sayangku SANTIKA NENGSIH."

(I will love you in my life and death)

→→→061018←←←←←





Copas by →Link
Perasaan Anak Pertama dari Keluarga yang Bercerai

Perasaan Anak Pertama dari Keluarga yang Bercerai


Begini Rasanya Menjadi Anak Pertama dari Keluarga yang Bercerai. Soal Luka, Sesal, dan Pendewasaan Diri yang Membentuk Diri Saya Saat Ini

CP name
trivia.id
 
Reporter
Upload Date & Time
Update Date & Time
Diperbarui 04:20, 21/03/2019


Perubahan terbesar dalam hidup saya terjadi ketika kedua orang tua saya harus berpisah. Saat itu saya baru berusia 16 tahun (kelas 12) dan orang tua saya sudah sering sekali bertengkar di depan anak-anaknya. Saya adalah anak pertama dari 2 bersaudara. Ketika kedua orang tua saya bertengkar, saya dan adik laki-laki yang saat itu baru berusia 13 tahun hanya bisa diam di dalam kamar, sambil menangis, dan berharap kebisingan itu segera berhenti. 
Tidak hanya pertengkaran mulut yang kami dengar, tak jarang juga pertengkaran disertai jerit kesakitan ibu. Saat itu yang saya ingat, adik saya mendekati saya tanpa bertanya dan berkata apa pun, namun air matanya terus mengalir deras, tanpa suara. Kami hanya diam dan ketika pertengkaran kedua orang tua kami berhenti, kami dengan kompak pura-pura tertidur. Meski mungkin orang tua kami paham betul, terutama ibu kami, tahu kami hanya berpura-pura.

Mencari kesibukan sebagai cara saya mengatasi emosi dan perasaan yang tidak stabil ternyata berdampak negatif

photo credit: Thnh Phng
Sebagai anak pertama, namun dengan usia yang masih muda dan labil saat itu, saya bahkan tidak tahu harus apa. Beruntung banyak teman yang dengan sangat baik mau menemani, mendengar, dan senantiasa bersabar meski saya sering menangis tiba-tiba. Saat itu saya sedang disibukkan kegiatan ektrakurikuler seni drama teater di sekolah. Latihan dari sore hingga malam hari. 
Jadilah saya punya banyak kesempatan untuk tidak mendengarkan pertengkaran yang terkadang tiba-tiba saja muncul. Saat itu saya berusaha untuk sesering mungkin bertemu dengan teman-teman saya agar kesedihan yang saya rasakan bisa menghilang. Mereka seperti obat untuk saya. Namun, saya merasa menyesal ketika saya membiarkan adik saya menyaksikan sendiri pertengkaran itu di rumah tanpa saya temani. 
Saya paham betul, pasti ia mencari saya dan merasa sangat tertekan. Saya sering berada di luar rumah, di tempat latihan teater hingga sering menginap. Adik saya selalu menunggu saya pulang, tapi kala itu saya tak menyadarinya. Jujur, saya tidak cukup berani untuk bicara pada kedua orang saya, jadi saya hanya diam dan melampiaskan emosi saya dengan sering bertemu dengan teman, menyibukkan diri ikut ektrakurikuler tersebut. Saat itu saya merasa teater jadi rumah kedua yang jauh lebih nyaman.

Tanpa saya sadari, perpisahan kedua orang tua memberi perubahan besar pada hidup dan diri saya sendiri

photo credit: WallDevil
Saat lulus sekolah dan mau mulai kuliah, kedua orang tua saya sudah mulai mengurus perceraian mereka. Sejak mereka sering bertengkar sebelumnya, saya merasa kedua orang tua saya berusaha mencari perhatian anak-anaknya. Yang saya tahu mereka berharap, kami bisa ikut salah satu dari mereka. Kebetulan saat itu usia saya sudah 17 tahun. Saya sibuk mengurus pendaftaran kuliah, mereka mengurus perceraian, dan mengurus sekolah adik saya yang saat itu akan masuk ke pesantren.
Setelah mulai perkuliahan, saya izin dengan orang tua saya untuk tinggal di kos dekat kampus. Beruntung, setelah bicara dan merayu cukup lama, saya diizinkan. Bukan tanpa alasan saya memilih untuk kos, dan saya yakin bukan tanpa alasan juga adik saya memilih untuk masuk pesantren. Kami hanya sulit untuk memilih akan ikut dengan siapa ketika mereka benar-benar berpisah. Sejak kedua orang tua saya sering bertengkar dan akhirnya bercerai, saya merasa dipaksa untuk dewasa sebelum waktunya. Saya berusaha menjadi sosok yang harus madiri, harus melakukan segala hal dengan baik tanpa cela. Tujuannya, agar orang-orang di sekitar saya tidak mencibir saya dan adik atau pun kedua orang tua kami.
*Saya benci ketika melihat tatapan kasihan orang-orang kepada saya dan adik saya karena orang tua kami bercerai. Saya benci ketika banyak orang berspekulasi mungkin kami akan mendapatkan kehidupan yang hancur, menjadi anak yang begajulan setelah mereka (kedua orang tua saya) bercerai. *
Saya benci ketika semua orang terlalu memanjakan saya karena mungkin mereka beranggapan kami butuh kasih sayang lebih karena orang tua kami bercerai. Saya memaksa diri untuk bisa menjadi anak yang setidaknya tidak mempermalukan kedua orang tua. Saya anak pertama mereka, saya hanya tidak mau membuat mereka kecewa karena kelakuan saya di luar sana. Yang saya tahu, saya hanya perlu menjadi anak yang baik.

Seandainya saya bisa kembali ke masa lalu, saya ingin sekali menyampaikan ini kepada orang tua dan adik saya

photo credit: WallDevil
Saya ingin bilang kalau saya sedih, tapi saya bersyukur lahir dalam keluarga ini, karena saya dapat pelajaran yang tidak semua orang dapatkan. Saya jadi salah satu orang yang dipilih Tuhan menjadi anak yang kuat. Saya ingin meminta maaf kepada mereka kalau mungkin dulu saya anak yang nakal, sehingga mereka harus bercerai. Meski hingga kini saya tidak tahu pasti apa penyebab mereka bercerai. Saya ingin bilang, saya sayang banget sama Mama dan Ayah
Saya ingin ibu dan ayah saya bahagia dan tidak terbebani karena anak-anaknya. Saya juga ingin minta maaf kepada adik saya, karena ketika orang tua kami bertengkar hebat, mungkin saya tidak bisa ada di sampingnya, sehingga tidak ada pegangan untuknya atau sosok yang menguatkan adik saya. Kini kami bahkan tidak akur seperti saat kecil dulu. Semua itu belum pernah saya katakan kepada kedua orang tua saya dan adik saya.

Jika teman atau orang terdekat kamu berada pada posisi yang serupa dengan saya, inilah yang mereka butuhkan, menurut pengalaman saya

Orang sekitar mungkin hanya perlu menemani mereka yang mungkin memiliki cerita serupa dengan saya. Karena memang kami hanya butuh ditemani, didengarkan, diarahkan untuk tidak berbuat hal yang merugikan kami. Kami tidak butuh tatapan nanar orang-orang karena hidup kami. Kami hanya butuh berada dalam lingkup yang bisa menguatkan kami, menemani meski tidak ada obrolan apa pun.
Dan, untuk keluarga yang akan selalu saya sayangi, saya ingin sekali menyampaikan ini:
Ada yang Rani paling sesali sampe sekarang, saat Rani nggak ada di samping Bintang (adik saya) waktu ayah sama mama mungkin lagi berantem, waktu Rani nginep berhari-hari di tempat latihan. Sekarang Bintang jadi anak yang sering melawan, emosian, gampang marah, kurang ajar sama mama dan ayah, cenderung nggak peduli sama keadaan kita sekarang yang kayak harus mulai menata hidup dari awal lagi. Bahkan Rani juga kayak nggak tau harus sbersikap apa supaya Bintang jadi anak yang baik. Karena kayak udah terlalu lama kita saling cuek, saling nggak peduli, saling diem-dieman kalau lagi bareng satu rumah. Rani sadar betul ada yang salah sama kita sampai kita segitunya padahal saudara kandung. Kadang iri sama kakak beradik lain yang bisa akur. Jadi anak pertama itu nggak mudah, apalagi saat menghadapi keadaan yang seperti ini. Gimanapun, anak pertama wajib jadi contoh adiknya, wajib bertanggung jawab sama keluarganya.

Untuk diri saya di masa lalu

*Kamu sebenarnya bisa melakukan hal yang mampu membuat kedua orang tua kamu tidak jadi bercerai. Tapi jangan menyesal, karena kamu cukup baik melewatinya. Hanya cukup jalani hidup yang tersisa dan belajar dari mereka. *
#BeginiRasanya
Copas by today.line.me
→→→→→Clik←←←←←

Selasa, 19 Maret 2019

Hai to Gensou no Grimgar (Indonesia):Volume 1. +1/-1 Warrior, Permulaan yang Lambat, Keuletan, Ketegasan yang Berat, & Damroww

Hai to Gensou no Grimgar (Indonesia):Volume 1

Contents


+1/-1 Warrior.


Untuk saat ini, mereka tidak punya pilihan selain mengikuti berbagai hal yang sudah berubah. Haruhiro sempat mempertimbangkan niatnya untuk meninggalkan Guild Thieves, kemudian bergabung dengan Guild Warrior, tapi itu tidak praktis. Dia tidak bisa membuat rekan-rekannya menunggu tujuh hari lagi, sementara dia harus menghabiskan waktu untuk pelatihan. Lagipula, masalahnya ada pada biaya pendaftaran.

Mereka telah menerima total sepuluh perak untuk menjadi anggota pelatihan Crimson Moon, tapi delapan perak sudah dihabiskan untuk biaya pendaftaran pada Guild masing-masing. Itu berarti, hanya tersisa dua perak yang bisa mereka gunakan secara bebas. Bahkan, sisa dua perak itupun akan terus berkurang. Meskipun mereka sudah diberi fasilitas berupa kamar dan makanan gratis selama mengikuti pelatihan oleh Guild, setelah pelatihannya berakhir, mereka harus membiayai tempat tinggal dan makanan dari kantongnya masing-masing.

Jika mereka tidak membelanjakan uangnya dengan boros, maka sepuluh perunggu per hari sudah cukup untuk membuat perut kenyang. Jika mereka mau tidur di jalanan, maka tidak akan ada biaya untuk penginapan, namun agaknya itu mustahil. Haruhiro belum mensurvei harga penginapan, tetapi tampaknya rata-rata harga menyewa kamar adalah empat puluh sampai lima puluh perunggu per orang per hari. Untuk menghemat uang, mereka bisa tinggal di mana saja, tetapi mereka tetap harus makan. Itu berarti, pengeluaran minimal adalah sepuluh perunggu per hari.

Dua perak. Dua ratus perunggu. Artinya, mereka masih bisa hidup selama dua puluh hari ke depan

Mereka harus menemukan cara untuk mendapatkan uang. Sebelum mereka bisa membayar kontrak layanan Crimson Moon dari Bri, mereka harus mencari cara untuk hidup dari hari ke hari. Bagaimana bisa mereka memperoleh uang?

Tentu saja dengan bekerja.

Jadi Haruhiro dan yang lainnya meninggalkan Altana melalui gerbang utara untuk mulai bekerja sebagai anggota pelatihan Crimson Moon. Mereka belum pergi jauh ketika bertemu dengan seorang pria besar mengenakan Armor lusuh yang duduk pada rumput di sisi jalan.

"... Mogzo?" Tanya Haruhiro.

Pria besar mendongak perlahan dan berkedip. Ia membuka dan menutup mulut beberapa kali, tapi tak sepatah katapun keluar. Haruhiro dan Manato bertukar pandang.

"Huh ..." Yume mengalihkan pandangannya ke awan di langit.”Mogzo, bukankah kau diajak oleh Ragmound untuk bergabung dengan Party-nya?"

"Bukan Ragmound, tapi Raghill," Haruhiro mengoreksi sedikit, kemudian dia mendekati Mogzo.”Apakah ada yang salah? Kenapa kau berada di sini sendirian?"

Mogzo mengangkat alisnya dan mengangguk dengan lambat.

"Aku mengerti!" kata Ranta sembari menjentikkan jarinya, namun tidak ada suara yang keluar. ”Mereka membuangmu, bukan? Raghill memintamu untuk bergabung, tetapi ketika ia menyadari bahwa kau begitu dungu dan tak berguna, ia pun berubah pikiran dan menendangmu keluar!”

"Ranta ..." Haruhiro mulai memperingatkannya, tapi dia pun menghentikan kata-katanya sendiri. Tampaknya Haruhiro sudah bosan memperingatkannya karena Ranta memang sudah tak tertolong.

"Uangku," Mogzo mengerang.”Dia mengambil semuanya. Dia mengatakan kepadaku untuk menyerahkan seluruh uangku. Kemudian dia berjanji akan menolongku ...”

"Itu mengerikan," bisik Shihoru.

"Aku ‘kan sudah bilang," Ranta mengatakannya sambil menghembuskan nafas. ”Itu sebabnya aku bilang padamu bahwa jangan pergi. Aku bilang Raghill tidak bisa dipercaya. Aku tahu bahwa orang macam dia tidak lebih baik daripada tumpukan sampah.”

"Sampah dilarang mengolok-olok sampah," jawab Haruhiro.

"Diam, Haruhiro! Apa maksudmu dengan mengatakan bahwa aku seperti tumpukan sampah?! Sebutkan alasannya! Aku tantang kau untuk menyebutkan alasannya satu saja!”

"Serius? Baiklah kalau begitu. Pertama-tama….."

"Berhenti! Apakah kau benar-benar punya daftar keburukan seseorang? Kalau kau sibuk mendata keburukan orang lain, maka kau juga tak lebih dari sebongkah sampah! Kaulah sampah yang sesungguhnya!”

"Wow. Disebut sampah oleh sampah, itu benar-benar suatu hinaan ...”

"Mogzo." Manato berjongkok di samping dan meletakkan tangan di bahunya.”Kau bergabung dengan Guild Warrior, kan?"

Mogzo mengenakan armor, sarung tangan, dan sepatu bot. Ada juga pedang raksasa yang terikat secara horizontal di punggungnya. Semua peralatannya tampak seperti peralatan bekas, tapi penampilannya benar-benar seperti seorang Warrior. Penampilan itu sangat cocok dengan posturnya yang besar.

"Ya," Mogzo menjawab sembari melirik Manato sebentar.”Aku bergabung dengan Guild Warrior.”

"Benar juga!" Haruhiro menepukkan tangannya bersama-sama.”Walaupun kau sudah dicampakkan oleh sampah itu, Party kami masihlah kekurangan seorang Warrior ...”

"Haruhiro, ketika kau mengatakan ‘sampah’, kau sedang mengejek dirimu sendiri, ‘kan?"

Haruhiro mengabaikan komentar Ranta dan malah berbalik ke arah Yume dan Shihoru.”Bagaimana menurut kalian?"

"Aku pikir, ini pas sekali," Shihoru langsung saja menyetujuinya.

"Apanya yang pas?" Tanya Yume yang masih saja tidak memahami situasinya.

"Yahh, kau tahu bahwa Party kita kekurangan Warrior, sedangkan Mogzo adalah seorang Warrior tanpa Party. Maksudku, bukankah ini suatu kebetulan yang sempurna?”

"Ohh ..." Yume menjawab dengan sungguh-sungguh, dan fokus tatapannya beralih pada Mogzo. ”Mogzo, apakah kau pengen ikut Party Yume ini?"

"... Apakah….kalian…..benar-benar tidak keberatan menampung diriku?"

"Secara pribadi, aku juga menyetujuinya" Manato tersenyum lebar pada Mogzo. "Jika kau juga bersedia, maka tidak masalah, kan?"

Haruhiro dengan curiga melirik Ranta di sampingnya. Jika ada seseorang yang tidak setuju, pasti pria berambut berantakan ini orangnya. Tapi ternyata tidak begitu ...

Ranta berjalan ke belakang Mogzo dan mengunci kepala pria besar itu dengan lengannya.”Aku kira, tidak ada pilihan lain! Aku akan membimbingmu sampai kau menjadi perisai tangguh untukku! Bersiaplah untuk mati demi aku, Mogzo!”

"Oh. Jadi itu tujuanmu, " kata Haruhiro.

"Apa? Apakah aku mengatakan sesuatu yang aneh? Nggak. Sama sekali nggak. Pekerjaan Warrior adalah menjadi perisai yang berdiri tegak di garda depan, ‘kan? Mereka adalah orang-orang yang seharusnya memblokir serangan musuh. Itulah sebabnya seluruh tubuh mereka ditutupi oleh armor dengan ketahanan tinggi.”

"Benar, Ranta. " kata Manato dengan ekspresi muram sembari dia menatap Mogzo.”Aku tidak mengatakan ini untuk menakut-nakutimu, tapi Warrior memiliki tanggungan yang lebih berat daripada anggota-anggota Party lainnya. Tapi kau bisa mengandalkan kami semua untuk mendukungmu, dan jika terjadi sesuatu aku akan menggunakan Sihir Cahayaku untuk menyembuhkanmu. Jadi, yakinlah pada kami.”

Mogzo mengangguk.”Aku akan melakukan yang terbaik yang aku bisa. Tapi ...” Mogzo mengusap perutnya.”Aku tidak punya uang…"

"Aku akan meminjamkan beberapa keping. Aku akan menemukan cara untuk mencukupi kebutuhan saat ini, dan ketika kita mulai mendapatkan uang, kita tidak perlu khawatir tentang itu lagi."

"Mari kita luruskan satu hal," Ranta menyeringai dengan suara yang mengganggu sembari menepuk kepala Mogzo.”Aku tidak akan meminjami kau uang sepeser pun. Aku tidak mengembalikan uang yang aku pinjam, jadi aku tidak meminjamkan uang pada siapapun. Itulah kebijakanku!”

"Begitukah?" Haruhiro segera membalasnya.”Sifatmu memang rendahan.”

Ranta menjulurkan lidah padanya kemudian mengangkat jari telunjuknya. "Haruhiro."

"Apa?"

"Apa yang kau dapatkan jika mengalikan bilangan negatif dengan bilangan negatif lainnya? Hasilnya adalah bilangan positif, kan?”

"Terus?"

"Itulah aku."

"Apa sih yang coba kau katakan?"

"Kau memang lambat! Aku menjadi Dark Knight, bukan Warrior, iya kan? Kemudian kita menemukan Mogzo, yang merupakan seorang Warrior tanpa Party. Itu berarti, SEMUANYA BERKAT AKU.”

"Wah, aku iri dengan bakatmu, Ranta," kata Manato sambil tersenyum.”Kamu selalu memiliki cara untuk melihat sisi terang dari segala sesuatu. Itu bukanlah sesuatu yang bisa kau dapatkan hanya dengan menginginkannya. Ini sungguh kemampuan yang luar biasa."

"Betul! Tidak seperti Haruhiro yang terbelakang, aku tahu bahwa kau lebih memahamiku!"

"Terserah." Membalas Ranta dengan ejekan tidak akan mengubah keadaan. Sebagai gantinya, Haruhiro berpaling ke arah Mogzo dan mengulurkan tangannya.

"Mari kita bekerjasama, Mogzo!"

Mogzo meraih tangan Haruhiro, dan Haruhiro berusaha untuk menarik dia agar berdiri.”Mogzo," Haruhiro mendengus.”Kau harus berdiri sendiri, aku tidak kuat menarikmu ...”

"Ah, maaf," Mogzo menjawab sembari berusaha berdiri.

Mungkin, kita semua akan baik-baik saja, itulah pikir Haruhiro.


Permulaan yang Lambat.[edit]


Pada bagian selatan Altana terhampar serangkaian pegunungan terjal dan tinggi yang dikenal sebagai Gugusan Pegunungan Tenryuu. Pegunungan Tenryuu membelah benua Grimgar menjadi dua bagian. Bagian selatan adalah daratan, sementara wilayah utara, termasuk Altana, dikenal sebagai perbatasan.

Atau setidaknya, "perbatasan" adalah nama yang diberikan oleh kaum manusia. Benua Utama, Altana, wilayah perbatasan, bagian utara Pegunungan Tenryuu, semua itu berada di dalam kawasan kerajaan manusia, Aravakia. Namun, sekitar seratus lima puluh tahun yang lalu, daerah perbatasan sama sekali tidak layak disebut perbatasan. Di masa lalu, ada beberapa kerajaan manusia, dan manusia adalah ras dominan di Grimgar.

Namun, semuanya berubah setelah kedatangan Deathless King, yaitu makhluk pemilik sihir setan yang menakutkan. Selain memiliki kekuatan militer dan sihir, dia jugalah seorang politikus yang cakap. Deathless King melahirkan ras baru yang disebut Undead, kemudian para pemimpin Undead melakukan hal yang lebih kejam daripada sekedar penjajahan. Ia meyakinkan para pemimpin ras lain untuk mengakui otoritasnya, dan membentuk konfederasi raja bersama dengan mereka. Lantas, mereka berperang melawan kerajaan manusia. Manusia dengan mudah dikalahkan dan terpaksa mengungsi ke bagian selatan Pegunungan Tenryuu.

Setelah itu, Deathless King dinominasikan oleh sesama raja untuk menjadi kaisar, dan dengan demikian Kekaisaran Undead pun lahir. Sampai kematian Deathless King sekitar seratus tahun yang lalu, sebagian besar manusia tidak dapat menginjakkan kaki di wilayah utara Pegunungan Tenryuu. Akan tetapi dengan hilangnya sang pemimpin yang mempersatukan mereka, Kekaisaran Undead pun berantakan. Dengan mengambil keuntungan dari kesempatan ini, Kerajaan Aravakia mendirikan Altana sebagai kubu mereka yang terletak di utara. Dan kota ini pun bertahan sampai jaman ini.

Dan tentu saja, semua informasi ini telah diperoleh oleh Manato.

Tanah di seberang selatan Pegunungan Tenryuu, Altana, sebagian besar digunakan untuk pertanian atau memelihara ternak. Terdapat juga banyak desa yang menghiasi pemandangan. Di sebelah utara, terdapat tanah terbuka dan hutan.

"Dan di sekitar sini," kata Yume sambil mengusapkan tangannya pada rumput, "ada rusa, rubah, dan hewan-hewan lainnya. Dan karena saat ini adalah musim semi, maka beruang akan muncul. Lalu, ada makhluk kecil, berbulu, bermata bulat, dengan ekor panjang dan tipis… telinga, tangan, dan kakinya kecil. Dia melompat-lompat di sekitar. Dia imut, ‘kan? Terus, ada juga tikus lubang yang besarnya seperti kucing, dengan bulu super lembut.”

"Sungguh?" Ranta bertanya sembari menyilangkan tangannya dan melihat-lihat ke sekitar. ”Aku sama sekali tidak lihat hewan seperti itu di sini."

"Err .." Yume mengerutkan kening.”Tapi ketika Yume dan Master Guild pergi ke luar untuk berlatih, dia membuat suatu permainan dengan menggunakan busur dan panahnya.”

"Mungkin mereka hanya sedang bersembunyi," kata Manato sambil menunjuk ke wilayah hutan di sebelah kanan mereka.”Di daerah hutan."

Haruhiro mengangguk.”Kamu mungkin benar. Jika aku adalah binatang liar, aku tidak merasa aman ketika berada di tempat terbuka, yang tidak ada satu pohon pun atau semak-semak untuk bersembunyi.”

Ranta mendengus dengan nada mengejek.”Lihat? Mereka semua tahu bahwa aku adalah orang yang perlu mereka takuti.”

"Jadi, jika kita tidak menemukan seekor pun hewan buruan, maka ini semua salahmu."

"Diam, Haruhiro! Ini semua BERKAT aku! Semuanya berhutang padaku!”

"Kau saja yang diam. Meskipun mereka benar-benar berada di sekitar sini, mereka pasti akan lari setelah mendengar teriakanmu.”

"DAN ITU SEMUA BERKAT DIRIKU."

"Tidak ada gunanya, anak itu sudah tak tertolong ..."

"Um." Ini adalah pertama kalinya Shihoru yang semula diam, kini mulai bersuara. ”Apakah kita akan ... membunuh hewan?”

Semuanya tiba-tiba berhenti seketika.

Kalau dipikir-pikir, pekerjaan pasukan cadangan adalah mempertahankan kota dari serangan ras lain dan juga para monster. Tidak ada yang mengatakan bahwa pekerjaan mereka adalah berburu hewan, menjual daging atau kulit.

"Master Guild Yume mengajarkan pentingnya berterimakasih pada hewan yang kita bunuh.” Yume mengerutkan kening.”Tapi Yume suka binatang dan tidak ingin membunuh mereka. Mereka sangat imut, dan Yume akan sedih jika mereka dibunuh ...”

Ranta mengejek dengan jijik.”Simpan rasa kasih sayangmu terhadap sesama makhluk hidup, wahai Tuan Putri. Semua makhluk hidup pada akhirnya akan mati, dan berada pada naungan Skulheill. Aku tak punya simpati pada makhluk yang harus aku bunuh agar diriku bisa terus bertahan hidup.”

"Nah, kalau begitu." Yume tiba-tiba menarik panah, dan membidikkan ujungnya langsung ke arah Ranta.”Tidak akan masalah jika Yume membunuh Ranta, sehingga Yume bisa terus bertahan hidup.”

Ranta tergagap dan bergerak mundur.”B-B-bodoh! Jangan mengatakan hal-hal bodoh seperti itu, dasar cewek berdada papan cuci! Apakah kamu serius?! Sudah, hentikan! Apa yang akan kamu dapatkan dengan membunuhku?!”

"Yume akan merasa lega setelah membunuhmu. Lagipula, kau mengejek Yume dengan sebutan dada rata."

"K-Kau sendiri yang berkata begitu! Dada Yume benar-benar rata."

"Walaupun Yume berkata beitu, bukan berarti Yume mau mendengarkan kata-kata itu dari mulut orang lain. Terutama dari pria yang menyakiti perasaan Yume.”

"M-maaf! Maafkan aku!” Ranta melompat ke depan dan bersujud di atas tanah.”Lihat, aku sedang minta maaf! Ini salahku! Mohon maafkan aku! Dada Yume tidak datar! Dadamu besar! Besar! Raksasa! POKOKNYA, LUAR BIASA!”

"Ranta." Haruhiro melihat pria bodoh itu dengan ekspresi remeh. ”Kau tidak benar-benar menyesal, kan?"

"Bagaimana kau tahu ?! Bagaimana kau bisa tahu?! Apakah aku tidak terlihat seperti sedang minta maaf? Mana buktimu!”

Yume mendesah, lalu menurunkan busur dan menempatkan panahnya kembali ke sarung. ”...Buang-buang panah saja."

Ranta menarik napas lega dan berdiri, kemudian menyeka keringat dari alisnya. ”Lagian, kau pasti akan luput meskipun kau coba menembakkan panah padaku. Tapi aku minta maaf hanya untuk jaga-jaga, yah kau tau lah ... Hey! Yume, hentikan! Jangan menarik Kukri itu! Ini adalah lelucon! Terpotong oleh benda seperti itu sangatlah menyakitkan! Kau akan membunuhku! Aku sungguh akan mati!”

"Aku yakin bahwa ini tidak berbeda dengan membunuh hewan liar," kata Manato dengan senyum kecut. ”Meskipun aku tidak tahu persisnya, aku mendengar bahwa kita tidak harus pergi terlalu jauh dari Altana untuk menemukan Goblin, Ghoul, dan sejenisnya. Mereka adalah makhluk-makhluk yang mungkin bisa ditangani oleh kita, yang sejatinya masih anggota pelatihan.”

"Goblin dan Ghoul." Haruhiro memiringkan kepalanya ke satu sisi. Dia punya perasaan bahwa ia pernah mendengar nama-nama itu sebelumnya. Mungkin itu hanya imajinasinya, tapi dia membayangkan mereka seperti semacam makhluk humanoid.

"Jadi, itu artinya ..." Shihoru mulai berbicara dengan suara yang cukup kuat. Ini jarang terjadi mengingat dia selalu berbicara dengan lembut. ”Kita akan mencari Goblin dan Gholu.”

"Goblin dan Ghoul," Haruhiro mengoreksi sedikit agar gadis itu mengucapkannya dengan benar.

Wajah Shihoru berubah menjadi merah cerah, dan dia mulai meringkuk lagi.

"Apa pun itu, tidak masalah bagiku," Ranta langsung menyetujuinya tanpa pikir panjang.

"Itu lebih baik daripada membunuh hewan," kata Yume dengan gembira.

Mogzo mengangguk dengan keras.

"Kalau begitu, ayo kita pergi menuju ke hutan," kata Manato.

Manato adalah Priest sekaligus pemimpin, dia mengarahkan Haruhiro dan yang lainnya untuk menuju hutan terdekat.

Itu adalah hutan belantara, penuh dengan makhluk liar, dan tak kenal ampun. Pohon berdaun lebar dan tebal menutupi jalan di bawah kaki mereka, sehingga mustahil untuk melacak suatu jejak. Tanah berkisar dari yang keras seperti batu, sampai yang agak lembut dan benar-benar licin. Sulit untuk menemukan pijakan, sehingga mereka pun kesulitan berjalan.

Gemerisik daun terdengar ketika angin bertiup, dan nyanyian burung bergema di sekitar.

"Golin dan Goli," Yume bergumam dengan lirih.”Mungkin mereka keluar dari lubang berair yang berbentuk bulat.”

Haruhiro memenuhi perannya sebagai pengkoreksi. "Goblin dan Ghoul," lagi-lagi dia membetulkan pengucapan yang salah. ”Maksudmu seperti mata air atau sungai kecil? Atau mungkin daerah rawa?”

"Kalau begitu, ayo kita coba menemukan tempat seperti itu," kata Manato.

Manato langsung saja mengambil inisiatif, tetapi mengingat bahwa ini adalah hutan, seharusnya keahlian Yume lebih dibutuhkan. Dia seharusnya menjadi orang yang memimpin Party ini ketika berburu di hutan. Tapi, begini juga tidak apa-apa.

Masalahnya adalah, mereka tidak bisa menemukan tempat berair. Makhluk hidup yang mereka temui sampai sejauh ini hanyalah serangga. Suara burung mengelilingi mereka, tetapi tidak seekor pun terlihat.

Ranta menelan ludah secara lebay. ”Ini seperti ... Hutan Kematian.”

"Ini semua mesti salahnya Ranta," Yume menggembungkan pipinya dan menatap Ranta. Sepertinya, dia sekarang membenci Ranta karena telah memanggilnya dada papan cucian.”Ini semua karena suara Ranta terdengar begitu menyakitkan di telinga mereka, jadi mereka ndak ada yang menampakkan diri.”

"Aku sekarang sudah tenang! Aku tidak mengatakan sepatah kata pun sekarang!” Ranta memprotesnya.

"Ndak perlu bersuara, kau ada di sini saja sudah merepotkan."

"Terima kasih atas pujianmu! Dan itu tak mengubah fakta bahwa dadamu tetap saja rata!”

Yume merengut dan marah.

"Er-maaf. Itu tadi salahku. Aku hanya tidak sengaja mengucapkan fakta yang menyakitkan. Aku……" Ranta tiba-tiba melompat ke udara.”Apa! Apa apaan ini!"

Haruhiro berkedip beberapa kali. Ranta mengangkat kakinya ke atas dan ke bawah seperti sedang menari. Ada sesuatu yang menempel di kakinya, dan makhluk itu menggaruk dan merobek-robek sepatunya. Makhluk itu sebesar kucing, dan sekujur tubuhnya ditutupi oleh bulu yang berduri.

"Seekor tikus lubang," kata Yume. Dia mulai melirik area di sekitarnya. "Mereka biasanya menyerang dalam kawanan. Mungkin dia membawa teman-temannya."

Shihoru menjerit dan mencoba berbalik untuk lari, namun dia terbentur pada tubuh besar Mogzo.

"Cepat!" Manato menarik tongkat pendeknya.”Masih ada lagi!"

"Apa ?!" Ranta bergerak mundur.”Bantu aku, teman-teman! Prioritas kalian adalah menyelamatkan aku! Bantu aku! Siapapun… tolong aku!”

"Bertarunglah, Dark Knight!" Haruhiro menarik belatinya.

Tikus lubang berkerumun di sekitar tempat mereka dengan kecepatan yang luar biasa. Haruhiro tidak tahu berapa banyak jumlah mereka. Teknik bertarung yang ia pelajari dari Guild Thieves dimaksudkan untuk melawan manusia atau humanoid. Dia bahkan tidak bisa menebak apa yang harus dilakukan dalam kasus seperti ini, jadi dia membidik dan menusuk mereka dengan belati secara sporadis.

Haruhiro terus mencari tikus tersebut, namun dia sama sekali tidak menemukannya. Ternyata memang, ”Mereka terlalu cepat!"

Mogzo mencengkeram pedang raksasanya dengan kedua tangan, mengangkatnya di atas kepala, kemudian mengayunkannya ke bawah sembari mengerang ... pedangnya meluncur tepat di samping Ranta. Ranta melompat sembari menjerit, kemudian pedang Mogzo membentur tanah tepat di mana Ranta baru saja berdiri. Pedang raksasa itu menghamburkan tanah di saat menghantamnya, dan membuat celah besar di tanah.

"Mogzo, kau bajingan! Apakah Kau mencoba untuk membunuhku?!” Ranta akhirnya menarik pedangnya. Tapi, hanya itu yang dia lakukan…. Dia sama sekali tidak menggunakan pedangnya, malahan lari tunggang-langgang. ”Sial! Sial! Sial! Aku hampir dibunuh oleh rekan setim sendiri! Dan dia akan datang mengincarku lagi! Persetan dengan ini semua!”

"Mogzo mencoba menyelamatkanmu! Kau harus berterima kasih padanya!” tampaknya belati Haruhiro tidak banyak membantu, sehingga ia mencoba untuk menendang tikus lubang dengan usahanya sendiri. Mereka menghindari serangannya dengan mudah.

"Dia tidak menyelamatkanku sama sekali!" Ranta mengayunkan pedangnya dengan berteriak.” [HATRED'S CUT]! Inilah skill Dark Knight-ku! Tapi aku tidak bisa mengenai mereka sama sekali!"

"Berhenti membuang-buang teknikmu'!" Haruhiro memilih salah satu tikus lubang dan terfokus padanya. Hewan itu berlari dan menghilang di balik pohon.”Argh!" Dia mendengus dengan nada frustrasi.

"Malik em paluk ..." Shihoru menggambar suatu huruf elemental yang terbang di udara dengan menggunakan ujung tongkatnya sembari dia mengucapkan mantra.

Itu adalah mantra [MAGIC MISSILE]. Suatu bola cahaya seukuran kepalan tangan meledak dari ujung tongkatnya ... dan memukul Ranta tepat di belakang kepala.

"GAH!"

"Huh?" Shihoru membuka matanya. Sepertinya gadis itu meluncurkan mantranya dengan mata tertutup, maka jelas saja dia salah sasaran. "M-maaf! A-Aku………"

"PELACUR! Aku akan membunuhmu nanti! Atau lebih tepatnya, akan kuremas-remas dadamu nanti!” Ranta menggosok bagian belakang kepalanya, dan ia mulai mengejar Shihoru.

Tanpa ragu-ragu, Manato menusukkan tongkatnya pada kaki Ranta. Ranta tersandung dan ia jatuh dengan keras.

"Apa yang kau lakukan!?" Manato berteriak dan memarahi Ranta, sembari menusuk salah satu tikus lubang.

Sejauh yang Haruhiro tahu, Manato memiliki tongkat pendek yang bisa mengeluarkan cukup banyak skill, tapi tongkat itu tidak layak digunakan untuk serangan langsung.

"Sedikit lagi!" Yume mengayunkan Kukri ke segala arah dengan liar. Mungkin itulah sebabnya dia tidak bisa mendekat pada tikus lubang dan mendapatkan mangsanya. ”Master Guild Yume mengatakan bahwa mereka hanyalah hewan, sehingga kita hanya perlu sedikit menekan mereka, lantas mereka akan segera pergi! Semuanya, bertahanlah!"

Mogzo mengayunkan pedang raksasa, dan benda itu menghantam batang pohon. Kekuatan pukulan menyebabkan daun dan serangga menghujani kepalanya secara langsung. Mogzo, yang sekarang tertutup oleh serangga dan daun, hanya bisa melolong.

"Kalau begini terus ..." Haruhiro mengumpulkan tekad dan berjongkok rendah dengan menumpukan satu lutut di tanah.

Tanpa berjalan, dan tanpa bergerak, ia menunggu pada salah satu lubang agar para tikus mendekatinya. Di sana! Langsung di depannya. Seekor tikus lubang mendekat. Tikus itu sedang menuju ke arahnya. Haruhiro mengulurkan lengan kirinya. Datanglah! Gigitlah aku. Aku tantang kau! Dengan tubuh sebesar itu, mungkin dia seperti seekor kucing yang takut pada tikus. Tikus lubang memang benar-benar mengerikan. Mereka cepat. Ini sungguh buruk. Tapi dia menunggu, dengan sangat sabar.

Nyeri yang melumpuhkan tiba-tiba merambat pada kakinya, dan itu membuatnya menjerit.

Tikus lubang lainnya telah mendekat dari belakang dan menggigit betis kanan dengan dalam. Dia baru saja hendak mencoba untuk menusuk tikus tersebut, namun secepat itu juga tikus lainnya menancapkan taringnya pada lengan kiri.”Ahh!"

"Haruhiro! Jangan bergerak!” Manato berlari ke sisinya. Ia mengayunkan tongkat dengan suatu gerakan yang cepat.

Ada suara dentuman pelan, dan Haruhiro segera merasakan bahwa tekanan pada kaki kanan dan lengan kirinya terlepas. Sepertinya Manato berhasil menghalau tikus-tikus itu, dan mereka segera kabur dengan kecepatan tinggi. Dan bahkan saat Haruhiro melongo melihat tikus lainnya, tikus lubang yang sebelumnya Manato pukul, kini sudah lenyap.

"Apakah kamu baik-baik saja, Haruhiro?" Manato berlutut pada sisi Haruhiro, dan memeriksa luka-lukanya.

"Ya. Aku baik-baik saja ...” Setelah dia menggulung celana dan bajunya, terlihat beberapa lubang kecil pada dagingnya. Ada juga bekas gigitan pada kulitnya, dan darah mengalir keluar dari lubang itu. Cederanya tidaklah serius, tetapi tentu saja masih terasa sakit.

"Biarkan aku menyembuhkanmu." Manato menempatkan tangan kanannya di atas dahi Haruhiro, dengan jari tengah berada di antara alisnya. Jarinya membentuk pentagram.”Oh cahaya, di bawah kasih karunia Dewa Luminous ... [CURE].”

Suatu cahaya hangat tercurah dari telapak Manato. Ketika cahaya itu berkedip-kedip, luka Haruhiro pun mulai menutup. Tiga detik diperlukan untuk menyembuhkan kaki kanannya, tiga detik pula diperlukan untuk menyembuhkan lengan kirinya.

"Wow." Haruhiro menyentuh daerah di mana baru saja terdapat lubang akibat gigitan tikus. Darah masih merembes, akan tetapi tidak ada lagi luka ataupun rasa gatal di sana. Bahkan, tidak ada sedikit pun bekas luka di sana. ”Terima kasih, Manato. Kau jugalah orang yang mengusir mereka dariku ...”

“Ini semua karena kau menggunakan dirimu sendiri sebagai umpan,"jawab Manato.

"Aku hanya berniat untuk menggunakan lenganku. Aku pikir, ku bisa mengatasinya endirian…"

"Semuanya sudah membaik. Tidaklah penting siapa yang melakukannya.”

"Semuanya sudah membaik!!????" Ranta duduk di tanah sembari membanting-bantingkan kakinya, mirip seperti anak yang manja. ”Apanya yang sudah membaik? Kita tiba-tiba diserang oleh beberapa makhluk aneh! Walaupun kita mengusir mereka, kita tidak mendapatkan sepeser perunggu pun. Dan lihat! Aku juga terluka! Sembuhkan aku sekarang juga!”

"Ah, maaf," kata Manato, sembari bergegas menuju ke sisi Ranta.

"Mengapa dia harus meminta maaf kepada Ranta?" Haruhiro bergumam dengan pelan, sambil melihat sekeliling.

Mogzo juga sedang duduk di tanah, mungkin dia lelah setelah berkali-kali mengayunkan pedang raksasanya. Shihoru berusaha yang terbaik dengan menyembunyikan dirinya sendiri di balik pohon besar. Mungkin, dia merasa malu karena telah salah sasaran ketika menembakkan mantra. Yume adalah satu-satunya anggota Party yang masih memiliki semangat tinggi, dan dia melirik ke sana-sini. Haruhiro melihatnya, dan Yume membalas tatapan itu dengan sedikit senyum menyeringai.

Haruhiro juga membalasnya dengan senyuman, meskipun begitu, ini bukanlah saat yang tepat untuk saling membalas senyuman. Atau mungkin, mereka harus selalu tersenyum selagi sempat, karena tak ada seorang pun tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Grimgar L1 106.jpg
"... Ranta benar bahwa kita tidak mendapatkan perunggu sama sekali, walaupun kita sudah berhasil mengenyahkan mereka, " Haruhiro mendesah. ”Mungkin kita masih belum cukup terampil untuk berkeliaran di hutan ini.”

"Baik! Aku siap untuk pergi lagi!” Setelah sembuh, Ranta melompat dan mengayunkan lengannya.”Baik! Semuanya, ikuti aku!”

Mogzo berkedip.”P-pergi? K-Ke mana?”

"Bodoh! Kalian semua berkata bahwa kita akan mencari Goblin, kan? Kalian pasti bercanda jika berhenti hanya karena serangan tikus-tikus lubang itu! Kami tidak akan mundur hanya karena hal seperti itu!"

"Dia benar," Manato mengangguk, sembari sedikit merenung.”Persis seperti yang dikatakan oleh Ranta. Ini memang berisiko, tapi tikus lubang pasti adalah makhluk karnivora, ‘kan?"

"Aku rasa mereka adalah omnivora," jawab Yume.”Tapi ketika mereka menyerang dalam kawanan seperti tadi, mereka lebih dikenal sebagai penyerang manusia.”

"Yah, itu benar, mereka menyerang kita," kata Haruhiro. "Jadi, tikus-tikus itu makan hampir apa saja yang ada di hadapan mereka," mata Manato menyipit sembari dia mengusap dagunya.”Jika ada hewan seperti itu di sini, maka di sekitar sini juga ada perburuan lainnya.”

"Tentu saja ada," Ranta mengejeknya. ”Apa kau baru tahu sekarang? Aku sudah tahu itu dari tadi. Jika ada hewan yang bisa diburu di sini, maka pemburu lainnya juga berada di dekat sini."

Haruhiro melirik Ranta.”Kau hanya mengulangi apa yang Manato katakan.”

"Diam, dasar mata ngantuk! Pergilah tidur siang jika kau mengantuk, dasar cebol!”

"Aku sudah bilang sebelumnya! Aku terlahir seperti ini! Bukan berarti aku selalu ngantuk!"

"Haruhiro," Manato menyela dengan senyum tipis di wajahnya. ”Hal yang terbaik bagimu adalah mengabaikan apa yang Ranta katakan.”

"Hei!" Ranta balik menyela Manato.”Jangan mengatakan hal seperti itu! Apakah selama ini kau hanya berlagak sok baik, dasar pengkhianat!?”

"Mungkin saja?" Manato menjawab dengan mendesah, dan dia tidak termakan umpan Ranta. ”Kalau begitu, jika kalian bersedia, mengapa kita tidak menjelajahi daerah ini lebih jauh?”

Tampaknya semuanya setuju. Sembari terus berhati-hati terhadap serangan tikus lubang lainnya, mereka pun memutuskan untuk menjelajahi hutan itu lebih dalam. Mereka terus menjelajah hutan itu sampai senja, namun hanya seekor rusa yang mereka temukan. Yume berusaha untuk memanahnya, tapi hewan itu lari ketika dia luput.

Mereka juga menemui kawanan burung dan serangan tikus lubang lainnya. Seperti itulah yang mereka jalani.

Melanjutkan penjelajahan setelah matahari terbenam bukanlah pilihan, maka Haruhiro dan yang lainnya meninggalkan hutan dengan langkah berat.

"Apa yang akan kita lakukan?" Ranta mengerang. Kali ini, dia benar-benar kehilangan semangatnya untuk mengacau.

"Kami tidak akan melakukan apa-apa," Haruhiro memberikan desahan untuk membalasnya. Namun, ia juga mulai merasa putus asa. Rasanya seperti ada sesuatu di dalam dirinya yang dirampas .”Kita akan kembali ke Altana.”

"Ini seperti kisah Petualangan Anak Pekerja yang Menjemukkan" bisik Yume.

Lagi-lagi Haruhiro berusaha meluruskan apa yang dikatakan rekannya, "Siapa itu?" Dia punya perasaan bahwa ‘Anak Pekerja’ itu adalah tokoh yang nasibnya sama seperti mereka.

"T-tapi," Shihoru mulai berkata sembari menundukkan kepalanya. Seakan-akan, semua energinya sudah lenyap.”Lupakan. Tidak ada apa-apa."

Perut seseorang bergemuruh. Dan Mogzo berkata”Aku lapar…"

"Ketika kita kembali……." kata Manato sembari melihat semua rekan-rekannya secara bergantian "…… ayo mampir ke pasar dan mendapatkan makan malam. Setelah itu, aku tahu tempat yang murah di mana kita bisa bermalam. Di dekat Nishimachi, ada penginapan untuk para pasukan cadangan. Prajurit resmi bisa menunjukkan kontrak Crimson Moon untuk tinggal dengan gratis, tapi anggota pelatihan masih harus membayar. Meskipun begitu, harganya termasuk murah. Satu kamar untuk pria dan satu ruangan untuk wanita hanya dihargai dua puluh perunggu.”

Ranta mengejek.”Kita tidak mendapatkan sekeping pun perunggu hari ini. Kita hanya harus berkemah di alam terbuka.”

"Tidak, itu adalah pilihan terakhir," kata Manato dengan jelas. "Mereka berbagi fasilitas, tapi penginapan ini juga menyediakan kamar mandi dan bak mandi. Itu jauh lebih baik daripada tidak memiliki tempat menginap ... terutama untuk wanita.”

Shihoru menggenggam tongkatnya lebih erat, dan mengangguk beberapa kali.

"Itu benar," Yume juga setuju.

"Bak mandi dan toilet bukanlah segalanya," Ranta bergumam. Namun, Haruhiro punya perasaan bahwa Ranta akan banyak mengeluh jika dia tidak mendapatkan fasilitas-fasilitas seperti itu.

"Aku setuju dengan Manato," kata Haruhiro sambil mengangkat tangannya. Shihoru, Yume, dan kemudian Mogzo juga mengangkat tangan.

Ranta mendecakkan lidahnya, ck-ck, tapi dia menghentikan protesnya. Dan dengan demikian, hari pertama bekerja sebagai pasukan cadangan berakhir tanpa membuahkan hasil apapun.


Keuletan.


Yume meringkuk, dan bersembunyi di balik batang pohon tebal. Haruhiro mendekatinya dengan perlahan sehingga suara langkahnya tidak terdengar, kemudian dia menepuk bahu Yume. Gadis itu berbalik dan berusaha menahan keterkejutannya.

"Apa yang sudah kau temukan?" Haruhiro bertanya dengan suara rendah.

Yume mengangguk dan membuat semacam gerakan dengan tangan dan jari-jarinya. Apakah dia sedang mengisyaratkan sesuatu? Tetapi sepertinya Haruhiro tidak memahaminya, jadi dia mengintip untuk melihat dengan mata – kepalanya sendiri.

Ada sesuatu.

Waktunya adalah setelah tengah hari, tepatnya pada hari kedua mereka bekerja sebagai anggota pelatihan Crimson Moon. Mereka telah kembali ke hutan dan menemukan sumber mata air yang mengeluarkan gelembung-gelembung. Di situlah tempatnya.

Wujudnya kurus dan tingginya seperti anak manusia. Kulitnya keriput, sedikit berwarna kekuningan, dan tertutupi lumpur. Bercak rambut yang menyerupai rumput laut tumbuh di kepala dan telinga yang runcing. Punggungnya menghadap ke arah Haruhiro, sehingga dia tidak bisa melihat mukanya. Makhluk itu tidak mengenakan pakaian, tapi di lehernya tergantung semacam tali.

Makhluk itu adalah Goblin lumpur. Dia merangkak dan membuat suara yang aneh seperti seseorang yang sedang menyeruput minuman. Sepertinya, dia sedang minum di mata air tersebut.

Haruhiro mengambil napas dalam-dalam, sehingga ia tidak membuat kegaduhan. Dia melihat ke belakang. Empat rekan lainnya, yaitu: Manato, Ranta, Shihoru, dan Mogzo berada pada posisi yang sedikit lebih jauh. Kepala mereka menjulur keluar, sementara sebagian tubuh mereka bersembunyi di balik pohon. Mereka semua memperhatikan Haruhiro.

Haruhiro mengangguk. Yang lain juga mengangguk untuk menanggapinya. Mereka akhirnya menemukannya. Mereka akan berhasil. Mereka harus berhasil. Tidak ada pilihan selain meraih keberhasilan. Bagaimana cara Haruhiro akan memberikan sinyal pada mereka? Mereka tampaknya belum siap melakukan serangan. Apakah ini benar-benar merupakan saat yang tepat? Dia mengangkat tangan kanannya setinggi-tingginya.

Ia gugup. Setiap detik berlalu, dia malah semakin gugup. Ini buruk. Tetap tenang. Ayo kita lakukan. Ayo kita selesaikan ini.

Dia mengayunkan tangannya turun dan, dengan berteriak, Ranta menyerbu keluar terlebih dahulu. Idiot! Haruhiro ingin sekali meneriakkan itu, namun dia telah dalam-dalam kata tersebut. Karena kaget, Goblin lumpur berbalik untuk melihat kea rah Haruhiro dan Yume.

"D-Dia melarikan diri ?!" kata Haruhiro.

Goblin lumpur berlari ke kanan. Yume menembakkan panah ke arah itu. Dia meleset, tapi panahnya menghujan tanah tepat di depan kaki Goblin tersebut. Dia menjerit terkejut dan tersendat.

"Bagus, Yume!" Kata Haruhiro sambil menghunus belati, lantas dia langsung saja berlari untuk memburu Goblin itu. Beberapa saat lalu, dia mengejek Ranta dengan sebutan idiot, namun sekarang dia melakukan hal yang sama dengannya. Haruhiro punya perasaan bahwa ini bukanlah serangan yang biasanya dilakukan oleh seorang Thief, tapi ah sudahlah. Ini pasti berhasil. Dia tidak bisa membiarkan Goblin itu pergi.

Goblin lumpur. Disingkat Golup. Sejak lahir, mereka tak pernah sekalipun mandi. Matanya kusam dan jelek, giginya hitam, lidahnya berwarna keunguan, dan wajahnya seperti seorang penyihir tua. Goblin ini tidak mengenakan apa-apa selain semacam tali yang tergantung di lehernya. Dengan kata lain, dia telanjang bulat. Dan "itunya" tergantung begitu saja. Golup menatap lurus ke arah Haruhiro dan menjerit. Dia tidak tahu persis apa yang terjadi, tapi makhluk itu menyerbu langsung ke arahnya. Apakah dia serius? Apakah Goblin itu benar-benar berniat melawan mereka? Bukankah 6 vs 1? Mungkin makhluk itu tidak memahami betapa kecilnya peluang menang yang dia miliki.

Bidik pergelangan tangannya. Haruhiro menyabet pergelangan tangan Golup dengan belatinya; [HIT].

Golup itu menjerit dan melompat ke belakang secara diagonal, dan dia tercebur ke dalam mata air. Apakah Haruhiro luput? Tidak, darah berwarna merah kehitaman mengucur dari luka dangkal di tangan kiri si Goblin. Belati Haruhiro baru saja menyerempet pergelangan tangan makhluk itu. Namun Golup masih hidup, dan dia melompat dari kubangan mata air, dan menyerbu tepat ke arah Haruhiro.

Dia datang? Dia benar-benar datang? TIDAK MUNGKIN. Mengapa dia melakukan hal bodoh dengan menyerang ke arahku? pikir Haruhiro, sembari dia meneriakkan raungan pelan.

Haruhiro dengan cepat mengelak ke kiri, dan entah bagaimana, dia berhasil menghindari serangan Golup tersebut.

"[HATRED’S CUT]!" Ranta melompat ke arah Goblin, sembari mengayunkan pedangnya secara agresif, tapi tanpa kontrol yang jelas. Wajar saja dia luput, tergelincir, dan jatuh di belakang .

Golup meraung, dan mulai menyerang Ranta tanpa pikir panjang. Sementara Ranta masih pada posisi roboh. Manato memukulnya tepat di bahu dengan tongkatnya, sehingga menyebabkan serangan makhluk itu meleset tipis. Goblin menjerit lagi dan melompat mundur.

"M-malik em…." Shihoru mulai melantunkan mantra sembari menggambar huruf elemental yang mengapung di udara dengan tongkatnya, tapi Ranta menyela. ”KAU MELAKUKANNYA LAGI DENGAN MATA TERTUTUP!” Teriaknya.

Shihoru kembali meringkuk.”M-maaf!"

"Mogzo, serang langsung dari depan!" Kata Manato dengan kasar sambil menunjukkan jarinya pada Golup. ”Semuanya, kepung dia! Jangan biarkankan dia lolos!”

Mogzo mendengus. Karena terbebani oleh armor yang berat, dia menyerbu ke arah musuhnya dengan lambat. Setelah musuhnya berada dalam jangkauan, ia menunjukkan ujung pedang raksasa miliknya pada Golup.

"S-Sepertinya tidak ada pilihan lain!" Ranta bergumam, bangun dan bergerak ke kanan Golup itu.

Manato bertahan di sebelah kiri. Haruhiro dan Yume, sembari menghunuskan Kukri-nya, mengambil posisi di belakang Goblin. Shihoru kini membuka matanya lebar-lebar dan menunjukkan tongkatnya secara langsung ke arah Golup yang berada jauh di depan.

Goblin lumpur melihat sekeliling dengan panik, dia berusaha bergerak tapi akhirnya dia menyadari bahwa dirinya sudah terkepung dari segala arah. Lantas dia mengeluarkan pekikan yang menusuk-nusuk telinga. Tampaknya dia putus asa karena meskipun dia ingin pergi, tapi tidak ada celah sedikit pun untuk lolos. Ini semua berjalan persis seperti rencana Manato.

"Mogzo! Sudutkan dia!” Ranta mengacungkan pedangnya ke arah makhluk itu. ”Tekan dia!"

Mogzo meneriakkan erangan dan mulai mengayunkan pedang raksasanya, sekali, dua kali, sampai tiga kali. Goblin dengan gesit mengelak dari semua tebasan Mogzo, tapi sementara dia sibuk menghindari Mogzo, Ranta mulai menusuk dengan pedangnya. Golup meraih cabang pohon dan melemparkannya pada Ranta.

"Wah!" Ranta melangkah mundur dan nyaris gagal menangkis itu dengan menggunakan pangkal pedangnya.

Formasi pengepungan mereka pun bocor. Golup mencoba untuk menyelinap melalui celah yang ditinggalkan oleh Ranta, tapi Manato mengacungkan tongkatnya. Dia masih belum menyerah untuk mengepung si Golup. Golup yang menjerit kesakitan ketika tongkat Manato menghujam bahunya.

Sebagai balasan, di mulai menyerang Manato, sembari meneriakkan pekikan mengerikan yang membuat tulang Haruhiro bergemeletak. Bahkan Manato pun mundur sedikit. Mengapa mereka ketakutan , padahal jumlah mereka jauh lebih banyak? Goblin lumpur itu putus asa. Dia tidak ingin dibunuh. Sebagai makhluk hidup, dia tidak ingin hanya berdiam diri lantas terbunuh. Setidaknya, dia ingin membunuh lawannya sebanyak mungkin sebelum nyawanya sendiri dihabisi oleh musuh. Sepertinya si Goblin sudah membulatkan tekad untuk mebunuh beberapa rekan Haruhiro.

"Kalian semua!" Ranta menjilat bibirnya beberapa kali. ”Sekarang bukan waktunya untuk ketakutan! Membunuh atau dibunuh! Aku akan membunuhnya dan mendapatkan Vice!”

"Jangan gegabah!" Manato memperingatkan Ranta sembari ia mendaratkan pukulan lainnya pada Goblin dengan menggunakan tongkat pendek miliknya. Kali ini, kepala Goblin terkena dengan telak. Tanpa memedulikan darah yang muncrat, makhluk itu melotot ke arah Manato dan mengayunkan kedua tangan padanya.

"Dia cukup keras kepala," Yume berbisik dengan suara sedikit gemetar.

Astaga, pikir Haruhiro. Meskipun darah mengalir deras dari kepalanya, tampaknya dia masih baik-baik saja.

Mogzo mengayunkan pedang raksasanya tiga kali secara berturut-turut. Golup mulai mundur, namun tentu saja itu berarti bahwa Golup tersebut semakin mendekati Yume dan Haruhiro yang mengepungnya dari sisi belakang.

"Inilah kesempatan kita, Haru!" Dan bahkan Yume tidak menyebut nama Haruhiro dengan lengkap, sehingg Haruhiro pun bertanya-tanya ... sejak kapan gadis itu memanggilnya dengan sebutan "Haru"? Tapi bukan saatnya untuk memusingkan perihal nama, karena inilah kesempatan yang tidak datang dua kali.

Ketika Haruhiro mendekat dengan belatinya, Golup membalikkan badan untuk menatapnya. Entah bagaimana, Haruhiro berhasil mengatasi rasa takut di dalam dirinya, kemudian dia tebas monster itu. Salah satu tebasan benar-benar mendarat telak pada Golup. Dia tahu bahwa serangannya berhasil karena belatinya menghantam sesuatu yang keras. Benda keras itu adalah lengan kanan Golup, tepatnya antara siku dan pergelangan tangan. Ia menarik belatinya kembali sambil terkejut.

Walaupun dia masih amatiran, ini adalah pertama kalinya dia benar-benar memotong lawan dengan menggunakan senajatanya sendiri. Perasaan itu benar-benar membuat dia sedikit sakit.

Darah berceceran ketika Golup terhuyung-huyung hendak roboh; namun lagi-lagi dia masih bisa membalas dan balik menyerang manusia di sekitarnya. Ini adalah pertarungan 6 vs 1. Dan si Goblin benar-benar dikepung oleh satu tim bersenjata yang bisa menyerang dari segala penjuru. Tapi tak satupun dari mereka bisa bergerak. Napas setiap anggota Party terasa berat. Bahkan Mogzo (meskipun dia sedang mengenakan armor berat dan memegang pedang raksasa) tidak bisa banyak bergerak.

Ada apa dengan kami? Haruhiro mencoba menenangkan napasnya. Mengapa perburuan ini tidak berlangsung dengan lancer meskipun kami hanya melawan satu makhluk saja? Apakah Golup adalah lawan yang kuat?

Atau apakah mereka terlalu lemah? Apakah mereka benar-benar mampu melakukan ini? Tidak, sepertinya mereka tidak akan sanggup melakukan ini.

Kalau dipikir-pikir secara rasional, tentu saja mereka tidak mungkin menang. Haruhiro tidak cocok untuk bertempur. Bahkan tak seorang pun pada Party itu memiliki pengalaman bertarung sebelumnya. Ini semua salah. Semua ini tak terbayangkan. Mengapa ia lakukan ini? Bukankah akan lebih baik untuk berhenti?

Apa yang akan mereka lakukan jika berhenti sekarang? Apa yang akan terjadi pada mereka?

"Tidak ada yang mengatakan bahwa ini adalah pekerjaan mudah!" Teriak Manato.”Ini adalah pertarungan sampai mati! Kita….bahkan para Goblin lumpur…. semuanya bertarung untuk mempertahankan hidup masing-masing! Hasilnya akan menentukan siapa yang layak hidup atau mati! Tak satu makhluk pun di dunia ini bersedia mati!”

"Malik-em-paluk!" Suatu bola cahaya melesat keluar dari ujung tongkat Shihoru, kemudian terbang di antara Mogzo dan Ranta. Serangan sihir itu pun akhirnya menghantam Golup tepat di wajahnya.

"GARGGG!" Dia menjerit.

"Sekarang!" Manato memerintahkan semuanya untuk menusuk Golup secara bersamaan.

Ranta mengayunkan pedang sambil berteriak. Pedangnya sedikit terbenam pada lengan kanan Golup. ”Gah! Aku mengenai tulangnya?!”

Mogzo mengangkat pedangnya di atas kepala, lantas mengayunkannya turun dengan segenap kekuatan. Dia langsung mentargetkan kepala Goblin. Kekuatan sabetan pedang Mogzo tampaknya sudah cukup untuk membelah tengkorak Goblin menjadi dua atau tiga bagian.

Sudah berakhir.

"YESSS!" Ranta mengangkat tinjunya ke langit.

Haruhiro mulai menghembuskan napas lega, kemudian menghirup udara dengan keras.

Namun…. Lagi –lagi.

Goblin yang seharusnya sudah mati, kini merangkak, kemudian berlari sekencang mungkin.

"Tidak mungkin ..." kata Yume dengan tercengang.

Pasti ada suatu kesalahan, pikir Haruhiro. Pasti ada kesalahan, tentu saja ada kesalahan. Golup itu melarikan diri, mungkin dia sengaja membuat lawannya berpikir bahwa dirinya sudah mati, kemudian memanfaatkan saat ketika lawannya lengah untuk meloloskan diri.

Bahkan Manato pun tampak tertegun sejenak, tapi kemudian dia dengan tangkas menjegal kaki Goblin dengan tongkatnya. Haruhiro terkejut ketika Golup melompat dengan gesit untuk menghindari serangan dari Manato. Dan makhluk itu menyerang lurus ke arahnya. Apakah dia mencoba untuk menyelinap dan melewatinya?

"Tak mungkin kubiarkan kau lolos!!" Haruhiro coba mengulangi serangan Manato dengan menjegal kaki Golup, dan kali ini berhasil. Monster itu tersandung dan jatuh jungkir balik.

Mogzo bergerak, dan bersiap-siap untuk menyerang dengan pedangnya, namun sesorang menyelanya. ”Mogzo, minggir!" Teriak Ranta.”Aku akan menyelesaikannya!"

Haruhiro secara tidak sengaja mengalihkan pandangannya. Ada suara memuakkan dan kemudian terdengar tawa Ranta. ”Lihatlah aku Dewa Skulheill! Dark Knight-mu telah mencabut nyawa musuhnya dengan tangannya sendiri, dan aku akan mempersembahkan tubuh monster ini sebagai Vice pada altar Guild! Telinganya cukup besar ... Jika ditambah dengan cakar, maka semuanya akan sempurna ... Oyoyoy!”

Haruhiro melihat ke arah Ranta, di mana terdapat Golup yang sudah roboh. Seharusnya monster itu sudah mati. Namun dia terkejut pada apa yang dilihatnya.

Shihoru sedikit terengah-engah, dan tampaknya dia hendak menangis.

"Dia…. masih belum mati ..." kata Yume dengan lembut. Dia meletakkan kedua tangannya dan menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. Tampaknya dia sedang berdoa.

Haruhiro sedikti ragu-ragu sebelum akhirnya akal sehatnya kembali. ”Tidak, dia memang belum mati ..."

"Kita harus segera menghabisinya," kata Manato sembari mengangkat tongkat di atas kepalanya. ”Jika tidak…. kita hanya akan memperpanjang penderitaanya."

Haruhiro tidak ingin melihat pemandangan tragis ini, akan tetapi dia tak mau melewatkan saat-saat genting ini sedetik pun. Manato memberikan serangan terakhir pada Goblin itu dengan kejam dan akurat, dan kali ini dia memastikan bahwa lawannya benar-benar berhenti bernapas. Lantas Manato membentuk semacam heksagram, dan tampak dia mengucapkan beberapa kata perpisahan pada lawannya. Namun Haruhiro tak mendengar apapun. Mungkin Manato masih tidak percaya bahwa menghabisi nyawa suatu makhluk adalah pekerjaan halal baginya.

"M-Manato!" Ranta menunjukkan jari padanya.”Kau bajingan! Kau mencuri mangsaku! Aku bilang, aku harus mengumpulkan Vices!”

Manato memaksa tersenyum kemudian menggaruk kepalanya.”Maaf. Aku tidak tahu."

"Maaf tidak menyelesaikan masalah!"

"Meski begitu, aku sungguh tidak bermaksud melakukan ini."

"Nggak bisa! Aku ingin ini semua diulang! KEMBALIKAN SEMUANYA PADAKU! Bagaimana? KITA TIDAK BISA MENGULANGNYA!” Keluh Ranta. ”Perayaan Vice pertamaku ... LENYAP.” Dia meratapi nasibnya dengan terjerembab di tanah dan menghentak-hentak dengan tinjunya.

Kemudian Ranta mengatakan, "Ah…. sudahlah."

Haruhiro berkedip.”Sudah ikhlas?"

"Yang sudah terjadi, biarlah berlalu" kata Ranta, lantas dia bangun dan berjongkok di dekat jasad Golup. ”Ew, ini kotor. Jadi, gantungan di lehernya ini adalah hadiah kita? Apa ini?"

Haruhiro berjongkok di samping Ranta. Dia berusaha untuk tidak melihat tubuh monster yang berada tepat di hadapannya, melainkan dia fokus pada tali di leher Goblin itu. "Benda apa ini?"

Tali tipis dilingkarkan untuk menggantung beberapa benda kecil. Salah satu dari benda-benda itu tampak seperti semacam taring hewan, yang sudah dilubangi. Benda lainnya cukup kotor tapi ... memang, itu adalah semacam koin.

"Sekeping perak?" Haruhiro menduga.”Meskipun sudah dilubangi ..."

"Bagus!" Ranta mengulurkan tangan untuk menarik tali itu, lalu dia dengan cepat menarik tangannya lagi. ”Haruhiro, bersihkan itu. Benda itu terlalu kotor, aku tidak sudi menyentuhnya ...”

"Baik." Haruhiro memotong tali dengan belatinya, kemudian dia melepas taring dan koin. Koin itu sudah rusak, namun itu benar-benar sekeping perak. ”Aku ingin tahu apakah kita bisa menjual ini ... Bagaimana bisa mereka membuat lubang pada benda sekeras ini?”

"Apapun itu……." kata Manato sembari meletakkan tangan pada bahu Haruhiro, "…. Ini adalah kemenangan pertama kita."

"Dan ini semua berkat diriku!" Jika Ranta membusungkan dadanya lebih tinggi, maka dia akan jatuh ke belakang.

"Benar," kata Yume dengan nada dingin.

Ranta menjulurkan lidah padanya.”Jadi kau masih memiliki dendam padaku, hanya karena aku pernah memanggilmu dengan sebutan dada rata. Dasar keras kepala.”

"Keras kepala tidak ada hubungannya dengan ukuran dad Yume!” teriak Yume.

"Terserah! Kalau memang tidak ada hubungannya, ya lupakan saja! Air di bawah jembatan*! Aku beritahu kau, semakin keras kepala seorang gadis, maka ukuran dadanya akan semakin kecil…. Itu sudah takdir!”
[*Catatan Penerjemah : Itu adalah konotasi yang bermakna, "yang sudah berlalu biarlah berlalu”. Sumber : Kamus Oxford.]
"Tak peduli besar atau kecil…. Payudara tetaplah imut!"

"DADA-RATA-RATA-RATA-RATA-RATA-RATA-RATA-RATA-RATA-RATA-RATA-RATA-RATA-RATA! Hello Nona Dada-Rata, selamat tinggal Nona-Dada-Rata! DADA RATA!”

Wajah Yume berubah merah terang dan pipinya menggembung bagaikan ikan buntal. Dia menarik anak panah dan membidikkannya pada Ranta. ”Yume akan menembakmu, dan Yume punya perasaan bahwa kali ini tidak akan meleset ...”

"T-tunggu! Maafkan aku! Maafkan aku!” Ranta memutar tubuhnya beberapa kali, dan bersujud di tanah.”Aku akan berhenti! Aku akan menghentikannya, jadi maafkan aku!”

"Yume tidak mendengar kata 'mohon'. Yang ingin Yume dengarkan adalah : “Aku mohon dengan sepenuh hati, wahai Tuan Putri Yume yang bijaksana!' "

"T-Tuan Putri Yume! Tolong berilah aku pengampunan. Aku akan melakukan apapun yang kau minta!”

"Tidak, Yume tidak yakin." Pipi Yume masih menggembung, tapi tiba-tiba dia menurunkan panahnya dan membungkuk sedikit. Dia mengarahkan dagunya pada sumber air panas.”Kalau kau memang ingin minta maaf, loncatlah ke sana."
"A-pa……?"

"Sumber air panas. Loncatlah ke sana. Setelah kau lakukan itu, barulah Yume mau memaafkanmu.”

"I-Idiot…. Apa sih yang kau pikir….."

Yume mengangkat busurnya lagi.”Baik. Kalau begitu, Yume akan menembakmu.”

"... Aku akan dengan senang hati melompat."

"Hati-hati ya." Haruhiro menepuk bahu Ranta.

"Hati-hati ya," kata Manato kepadanya sambil menyeringai.

"Aku sidah tahu, idiot ..." Ranta bergumam.

Ketika ia siap untuk melompat ke dalam kolam, Shihoru berbisik, "Dia benar-benar melakukannya."

Haruhiro menangkap apa yang dikatakan oleh Shihoru, tapi Ranta sudah melompat di udara, sehingga Ranta mungkin tidak mendengarnya sama sekali.

"D-Dia pasti akan masuk angin nanti," kata Mogzo.


Ketegasan yang Berat


Yang tersebar di wilayah Altana adalah toko-toko yang menjual berbagai macam barang, tapi tak peduli apapun alasannya, harga tertinggi yang bisa diberikan pada 1 perak dengan lubang di tengahnya hanyalah 30 perunggu. Haruhiro, yaitu orang yang menemukannya, lebih mengerti bahwa nilai koin itu dipotong sebesar dua pertiga, hanya karena sedikit rusak. Sementara itu, anehnya taring binatang dihargai 1 perak.

Tiga spesies serigala berdiam di kawasan hutan perbatasan. Ada serigala hutan, kadang-kadang disebut serigala abu-abu, ada juga serigala putih Eldritch, yang dijuluki Dewi Putih. Kemudian, jenis terakhir adalah musuh dari serigala putih, yaitu serigala hitam Rigel, yang juga dijuluki Dewa Hitam. Rupanya, taring yang mereka temukan di kalung Golup adalah taring serigala hitam.

Dipercaya bahwa taring serigala hitam mengandung kekuatan magis, dan sering kali dibuat untuk jimat untuk menangkal kejahatan. Sehingga, total pendapatan hari ini adalah 1 perak + 30 perunggu.

Dua puluh perunggu dibayarkan untuk sewa penginapan malam itu, sementara sisanya dibagi secara merata pada enam anggota Party. Artinya, setiap orang mendapatkan 18 perunggu, sementara Manato berhak menyimpan sisa 2 perunggu. Itu akan disimpan sebagai uang kas.

Setelah masing-masing dari mereka membeli makan malam di pasar, mereka kembali ke pondok reot, yang merupakan tempat penginapan para pasukan cadangan. Tempat itu terletak di dekat Nishimachi. Entah kenapa, walaupun tempat itu jelek, rasanya seperti kembali ke rumah. Terlepas dari kenyataan bahwa pasukan pasukan cadangan yang mengikat kontrak dengan Crimson Moon bisa mendapatkan tempat tinggal gratis, nyatanya tempat itu sekarang masih kosong.

Pemandian umum adalah satu area di mana terdapat lubang yang digali pada tanah, dan sekelilingnya dilapisi dengan batu sebagai bak mandi. Yang berhak mandi terlebih dahulu adalah para pria, kemudian Yume dan Shihoru masuk setelahnya, sebelum akhinya kembali ke kamar bersama. Haruhiro agak lelah, sehingga ia berbaring di tempat tidur berlapis jerami dan dia pun memejamkan mata.

Pondok itu menawarkan dua jenis kamar; satu kamar bisa menampung hingga 4 orang, sementara ada kamar lainnya yang bisa menampung hingga 6 orang. Harga kedua jenis kamar tersebut sama saja, yaitu 10 perunggu per malam. Ukuran kamarnya tidak jauh berbeda satu sama lain. Satu-satunya perbedaan adalah kamar berisikan 6 orang memiliki 6 tempat tidur, sehingga itu sangat sempit. Tentu saja, tempat tidur itu lebih sempit daripada ukuran normal.

Tempat tidur di kamar berisikan 4 orang saja sudah cukup sempit, maka tempat tidur di kamar berisikan 6 orang lebih sempit lagi, bahkan bagi seorang Haruhiro yang tubuhnya tidak begitu tinggi. Itu artinya, si raksasa Mogzo pasti tidak cukup ketika tidur di tempat tersebut. Tidak ada perabotan sama sekali pada kamar itu, kecuali tempat tidur berlapiskan jerami dan lampu yang menggantung di dinding. Itu benar-benar suatu kamar yang hanya bisa digunakan untuk tidur, toh mereka juga tidak berniat menggunakannya untuk hal lain.

Besok mereka harus bangun pagi-pagi, sehingga Haruhiro mengakhiri hari ini dengan memejamkan mata. Suara lembut dari gemerisik jerami bisa terdengar di sampingnya. Tampaknya Mogzo pun juga bersiap untuk tidur. Tempat tidur itu bertingkat, di mana Haruhiro berada di tingkat paling atas, sedangkan di bawahnya adalah milik Manato. Mogzo tidur di tingkat bawah pada susunan tempat tidur di sebelahnya, sedangkan Ranta berada di atas Mogzo.

"... Manato? Apakah kau masih bangun?” Bisik Haruhiro. "Ya, aku masih terjaga. Ada apa?"

"Tidak apa-apa…. sungguh ..." Tapi itu tidak sepenuhnya benar.

Mereka hanya mendapatkan 18 perunggu hari ini. Dari 10 perak yang Haruhiro terima dari Bri, 8 di antaranya telah dibayarkan kepada Guild, dan ia telah menghabiskan 4 perunggu untuk makan kebab. Sehingga, sisa uangnya adalah 1 perak dan 96 perunggu. Itulah yang dia dapatkan setelah selama seminggu penuh menjalani kursus pelatihan dengan Guild Thieves. Kemarin, ia telah menghabiskan 4 perunggu untuk penginapan, kemudian 10 perunggu untuk makan, tanpa mendapatkan sekeping pemasukan pun. Kemudian hari ini, ia menghabiskan 12 perunggu, dan memperoleh pemasukan sebesar 18 perunggu. Totalnya, saat ini dia memiliki 1 perak dan 88 perunggu.

Namun, membawa uang itu kemana-mana bukanlah suatu tindakan yang praktis, sehingga ia menyimpan 60 perunggu di Bank Yorozu. Itu artinya, dia punya kewajiban untuk membayar biaya deposito.

Haruhiro masih baik-baik saja dengan keadaan seperti itu, tapi yang lebih mengkhawatirkan adalah Mogzo. Biaya penginapan Mogzo ditanggung bersama-sama oleh semua anggota Party, dan Manato meminjamkan uang kepadanya untuk makanan. Mungkin karena ukuran tubuhnya, dia makan lebih banyak daripada yang lain. Mogzo pun hidup dengan berhutang.

Berapa lama kah waktu berlalu sampai akhirnya Haruhiro kehabisan uang dan harus meminjam pada orang lain? Tidak, dia bukanlah orang sekuat Mogzo yang mampu melunasi hutangnya dengan kekuatan fisik, Haruhiro bahkan tidak boleh kehabisan tabungan, kecuali jika dia menemukan pemberi pinjaman. Uangnya hanya akan mencapai nol dan dia pun bangkrut. Ketika itu terjadi, apa yang akan dia lakukan?

Mereka harus menemukan cara untuk meningkatkan pendapatan. Biaya makanan dan penginapan setiap hari adalah sekitar 15 perunggu. Sebaiknya, mereka menghasilkan 30 perunggu setiap harinya agar kebutuhan itu bisa terpenuhi. Tunggu… hanya 30 perunggu? Hanya 30 perunggu? Pondok tempat mereka tinggal saat ini sangatlah kumuh dan kotor. Tempat tidur beralaskan jerami tidaklah nyaman, dan mereka bahkan tidak memiliki selimut. Lubang dangkal di tanah yang berfungsi sebagai toilet sangatlah bau karena adanya kotoran manusia di dalamnya. Dinding pemandian sangatlah tipis, dan ketika musim dingin tiba, air di dalamnya mungkin akan membeku.

Dia ingin penginapan yang lebih baik. Tapi bahkan sebelum itu didapatkan, ia ingin setidaknya satu set pakaian cadangan. Dia hanya memiliki sepasang pakaian sekarang. Salah satu pakaiannya sudah dicuci di kamar mandi, dan digantung sampai kering semalaman. Itu berarti, saat ini dia tidak mengenakan pakaian dalam. Manato, Ranta, dan dirinya sendiri tidak perlu sering-sering mencukur, tapi wajah Mogzo terlihat sangat tidak terawat.

Mereka harus setidaknya dapat membeli pisau cukur, atau bahkan pisau kecil. Mereka harus mendapatkan cukup uang untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Golup yang mereka kalahkan hari ini kebetulan memiliki taring serigala hitam yang dihargai satu perak, tetapi bagaimana jika itu hanyalah suatu keberuntungan? Apakah itu berarti pendapatan esok hari tidak selalu sebesar hari ini? Atau justru pendapatan mereka besok lebih besar?

Walaupun besok mereka mampu menemukan dan membunuh Goblin lumpur, itu tidak menjamin bahwa mereka mendapatkan penghasilan yang lebih baik. Perak rusak dihargai 30 perunggu, yang berarti masing-masing anggota Party hanya mendapatkan 5 perunggu.

Walaupun mereka menghabiskan malam di jalanan, uang sebesar itu tetap saja tidak cukup untuk bertahan hidup. Sekarang ia memikirkannya, Haruhiro menyadari seberapa buruk situasi yang tengah mereka hadapi.

Dia ingin mengatakan hal itu pada Manato secara terang-terangan, tapi lidahnya berhenti. Jika dia membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, ia benar-benar harus mengusahakan hal itu. Hari ini bukanlah hari yang buruk karena setidaknya mereka mampu membunuh seekor monster, namun tak seorang pun tahu apa yang akan terjadi keesokan harinya. Apakah keadaan akan semakin membaik, ataukah justru memburuk…..

"Tidak apa-apa," Haruhiro berkata.

"Aku paham," jawab Manato.”Kalau begitu….."

"Okkeeeeehhhh!" Ranta tiba-tiba melompat turun dari tempat tidurnya. "Aku akan keluar sebentar!"

Haruhiro duduk.”Apa? Ke mana?"

"Kemarin, aku memutuskan untuk melewatkannya." Senyum gelap muncul di wajah Ranta. ”Tapi tidak hari ini! Seorang pria harus melakukan hal yang biasa dilakukan seorang pria!"

"Aku tidak tahu apa yang sedang kau bicarakan," kata Haruhiro.

"Dasar lambat! Ini semua tentang pemandian, dasar idiot… Peeemaaaaaannnndiiiiiaaan.”

"Ada apa dengan pemandian?"

"Gadis-gadis sedang berada di sana, kan? Mereka sedang mencuci tubuh dan rambut... dalam keadaan telanjang bulat. Maka, sebagai seorang laki-laki, ada suatu hal yang harus aku lakukan."

"K-Kau ... J-jangan bilang ..."

Ranta tertawa.”Aku pergi dulu!"

"Tidak mungkin! Kau tidak bisa melakukan itu!” Haruhiro turun dari tempat tidurnya dan mengejar Ranta.

Hanya pada saat-saat seperti ini Ranta bisa bergerak secepat rubah, dan sangat gesit. Haruhiro tidak mampu mengejarnya sampai dia tiba di tempat pemandian. Tempat pemandian terletak di suatu bangunan yang berbeda dari pondok utama, tetapi kedua bangunan tersebut masih menempel. Pemandian didirikan sebagai terusan dari bangunan utama, maka lebih tepat jika kita menyebutnya “rumah pemandian” daripada “tempat pemandian”.

Ranta berjongkok rendah di pintu masuk dan menempelkan telinganya pada pintu.

"Ranta-" Haruhiro mulai berkata, tapi terputus oleh isyarat Ranta yang menempelkan jari di mulut.

Ekspresi Ranta jelas-jelas mengatakan bahwa ia akan membunuh Haruhiro jika ia tidak sependapat dengannya. Karena terintimidasi, Haruhiro pun hanya bisa menutup mulut. Apa dia akan lakukan? Dia meringankan langkah kakinya dan mendekati Ranta.

"Kau tidak boleh melakukan ini," Haruhiro berbisik di telinga Ranta. ”Ini bukan sesuatu yang setiap manusia biasa lakukan ...”

"Aku tahu." Ranta mengucapkan kata-kata itu dengan tenang pada Haruhiro.”Aku tidak peduli jika aku kehilangan rasa kemanusiaan. Selama aku mencapai tujuanku, aku tidak peduli jika aku menjadi setan atau Asura.”

"Setan, Asura, atau apa pun, terserah padamu…. Tapi, tindakanmu ini berlebihan. Tidak punyakah kau suatu pengendalian diri?”

"Pengendalian diri?" Ranta mengangkat bahu.”Tidak pernah mendengar hal seperti itu. Kau harus menggunakan kata-kata yang ada di kamus hidupku.” Dia tiba-tiba mendengus dengan keras.

"Apa?"

Ranta menunjuk ke arah pintu.”Kau bisa mendengar suara mereka." Dia tertawa pelan.

Tanpa berpikir, Haruhiro mulai menempelkan telinganya pada pintu. Lalu ia berhenti, karena akal sehat menahannya untuk melakukan tindakan bodoh ini. Ini tidak benar. Dia memang penasaran, tetapi jika ia menyerah pada pengendalian diri, maka ia akan menjadi sama seperti Ranta.

Ranta tertawa tanpa suara.”Sekarang bukan waktunya untuk menahan diri, Haruhiro. Lagipula, kau sudah terlanjur mengikuti hawa nafsumu. Jika kau tidak mengikuti hawa nafsumu, maka mengapa kau tidak menyeret aku kembali dengan paksa, atau meneriakkan peringatan pada mereka?”

Aduh. Ranta memang ahli menyinggung dengan tepat sasaran. Haruhiro menempatkan tangan di dada, melihat sekeliling, dan hampir berteriak. Ada orang lain di sana, tapi orang itu masih bersembunyi di dalam kegelapan. Ada dua orang. Dan mereka datang mendekat.

"Hei." Pendatang baru itu mengangkat tangan sembari memberikan salam. Itu adalah Manato, dan di belakangnya ada seorang raksasa bernama Mogzo.

Ranta berkedip, seakan-akan dia tidak percaya dengan apa yang sedang dia lihat dengan mata-kepalanya sendiri. ”Kalian…"

"A-Aku bisa menjelaskan……nya" Haruhiro mulai beralasan, namun perkataannya terputus di tengah jalan karena Manato menempelkan jari telunjuk pada bibirnya. Haruhiro tidak yakin, tapi tampaknya Manato menyuruhnya untuk tenang.

Tidak mungkin. Manato juga ikut-ikutaaann…..!!??

Ya, Manato juga ikut-ikutan. Apakah ini benar-benar tidak masalah? Haruhiro menatap Manato dengan penuh tanda tanya, dan Manato hanya memberinya anggukan tanpa kata. Mogzo juga mengangguk. Haruhiro tertawa tanpa suara. Mereka telah kalah.

Selamat… Terimakasih hawa nafsu…. Sekali lagi terimakasih. Kami harus bersulang padamu.

Jujur, dia sendiri juga agak penasaran. Namun, mereka tidak bisa melihat apapun, jadi ini tidak bisa dibilang “mengintip cewek mandi”, ‘kan? Kebetulan, jendela yang terletak di atas mereka tidak memiliki panel, dari jendela tersebut muncul cahaya dan uap air. Seakan-akan jendela itu mengatakan: "ke sinilah, ayo mengintip" atau semacamnya ... tapi letaknya terlalu tinggi untuk bisa digapai oleh salah satu dari mereka.

Jika ia naik bahu orang lain, atau jika seseorang mendorongnya, mungkin jendela itu bisa diraih , tapi sebenarnya Haruhiro tidak memiliki niatan semacam itu. Tidak, tidak sama sekali. Pikiran seperti itu tak pernah terlintas di benaknya. Dia tidak sudi melakukan hal seperti itu. Tidak, tidak, tidak.

Haruhiro dan yang lain berkerumun di pintu masuk pemandian dan menempatkan telinga mereka pada pintu. Mereka bisa mendengarkan suara-suara, namun hanya suara samar-samar. Berkonsentrasilah lebih keras. Dia pasti mampu mendengarnya lebih baik. Ya, itu saja. Sekarang, dia bisa mendengar mereka, dan cukup jelas.

"Meskipun kau makai itu ..." kata suara Yume.

"A-apa?" Balas Shihoru.

"Shihoru, itu begitu besar ..."

"A-Apanya….?"

"DADAMU. Begitu besar ... imut… dan bulat ...”

"I-Imut?"

Tak peduli apakah itu kebetulan ataukah tidak, yang jelas suara Shihoru bergema pada kepala Haruhiro. Mungkin tidak hanya Haruhiro yang mengalami itu. Ranta, Mogzo, Manato…. Semuanya mungkin memikirkan hal yang sama. "Besar, bulat, dan imut ..." Bagaimana sih bentuk sebenarnya?! Dia bahkan tidak bisa membayangkan itu ...

"Ya, imut. Bolehkan aku menyentuhnya? Sedikit saja lah?”

"I-Itu…u-ummm…. O-ohh..."

"Whoa. Aku yakin bahwa dadanya pasti enak sekali ketika diremas…. Sudah pasti!"

"Tunggu-ahh ... nyaaa ..."

" 'Nyaa, nyaa kau terdengar seperti kucing, Shihoru."

"Y-Yume, mohon ... jangan ... jangan menyentuh ... itu ..."

"Ini seperti boing-boing, BOING-BOING ..."

"J-jangan ... Ini m-memalukan ..."

"Akan sangat menyenangkan jika Yume memiliki payudara yang bisa memantul-mantul seperti itu, tapi payudara Yume hanya bisa melakukan ini ...”

"Ah, A-Aku pikir, payudara Yume ... j-juga imut ..."

"Tidak, itu tidak benar ... Bagaimana bisa payudata Yume imut?"

"Uh ... Payudaramu tidak gemuk seperti punyaku, tapi itu masihlah tampak lembut ..."

"... Tapi kau tidak gemuk sama sekali. Yume lah yang lembek ...”

"Punyamu juga lembut ... aku yakin ... itu s-sangat lezat."

"'Lezat?' Shihoru, jangan mengatakan hal-hal aneh seperti itu. Yume bukan makanan.”

"Ahh ... Umm ... Aku tahu, itu ... itu hanya ... perumpamaan."

"Tapi…. Bagaimana kalau kita coba untuk sedikit menjilatnya? Sini…"

"Uhh ... T-tapi ..."

"Tapi, boleh kan aku menggigitnya ... mungkin, di sekitar sini? Sini, biarkan aku cicipi...”

Apa yang sedang terjadi? Ada apa ini? Haruhiro melangkah jauh dari pintu dan menggeleng. Ini tidak baik. Tidak baik. Tidak baik sama sekali. Apa yang Yume dan Shihoru lakukan di sana? Apa yang sedang terjadi? Imajinasinya semakin liar.

Sebenarnya, apa yang biasa dibicarakan oleh para gadis ketika tak ada seorang pun pria di sekitarnya? Dia tidak tahu. Mengapa dia harus tahu jawaban dari pertanyaan seperti itu?

Haruhiro melihat sekeliling, dan menyadari bahwa Ranta, Manato, dan Mogzo sudah menjauh dari pintu. Rangsangan ini….. terlalu parah. Ini adalah sebuah teka-teki, berbalut misteri, dengan penuh tanda tanya, dan itu semua campur aduk tidak karuan di dalam kepalanya. Tatapan Manato dan Harhiro saling bertemu. Mari kita kembali. Ke kamar, Haruhiro memberi isyarat demikian. Tapi Manato sudah melihat ke arah lain.

Haruhiro mengikuti tatapannya dan melihat bahwa Ranta sedang mendongak pada langit malam. Tidak….. bukan. Dia tidak sedang melihat langit malam, melainkan dia sedang melihat ke arah jendela. Ranta menatap jendela pemandian dengan tatapan mata rakus, layaknya seekor serigala yang kelaparan. Ranta berdiri setinggi-tingginya, dan menjulurkan tangannya sejauh-jauhnya untuk meraih jendela. Namun, dia tidak bisa. Dia menatap rekan-rekannya yang lain dengan wajah seseram Asura.

"Kalian tidak ingin mengintip? Serius? Apakah tidak masalah bagi kalian membiarkan kesempatan ini lewat begitu saja? Apakah kalian tidak akan menyesal di kemudian hari nanti? Sungguh?"

"Yah ..." Haruhiro mengertakkan gigi.”Itu ..."

"Aku mungkin menyesal," kata Manato dengan terus terang.”Aku tidak bisa mengatakan dengan pasti bahwa aku tidak akan menyesal. Tapi apa yang akan terjadi jika kita melanjutkan ini lebih jauh?”

Ranta menaikkan alisnya sembari mengerutkan kening.”Apa yang kau maksud dengan : ’apa yang akan terjadi’?”

"Pikirkan tentang itu. Walaupun sekarang kita sangat ... bersemangat, akan terjadi suatu hal yang buruk jika kita melanjutkan ini lebih jauh. Tidak akan ada jalan kembali jika kita teruskan ini. Kemudian, kalau kita berempat kembali ke kamar, maka kita akan mendapat penghargaan sebagai pria sejati yang mampu menahan nafsu. Tapi, jika kita benar-benar berhenti di sini…"

Haruhiro bergidik. Manato memang hebat, dia benar-benar memikirkan hal ini dengan jeli. Akan terjadi hal yang mengerikan jika ini terus dilanjutkan. Bahkan jika mereka berhenti sekarang, mereka masih bisa membawa pulang kenangan yang penuh dengan kepuasan ... atau sesuatu semacamnya. Seharusnya memuaskan. Mungkin memuaskan. Atau mungkin sama sekali tidak memuaskan.

Ini adalah saat yang kritis untuk menentukan pilihan. Jika mereka melewati garis ini, maka mereka tidak akan kembali lagi. Jika Haruhiro mengatur semuanya, maka ketiga rekannya pasti sudah mundur. Namun, dia sudah melintasi suatu batas ... Dia tidak ingin menyesali hal ini di kemudian hari nanti.

"Mari kita kembali." Haruhiro meraih lengan Ranta. Dia berniat menyeretnya kembali dengan paksa jika perlu. Tapi Haruhiro tak pernah memprediksi bahwa ancaman sebenarnya berasal dari arah yang benar-benar berbeda.

Mogzo berdiri perlahan dan bergerak ke arah jendela. Ketika dia sudah berada di bawah jendela, dia membungkuk sambil menahankan tangannya pada dinding. Suatu tunggangan? Mogzo telah merelakan dirinya sebagai tunggangan? Dia mendongak pada Haruhiro dan yang lainnya sembari mengacungkan jempol.

"Jangan khawatir padaku, semuanya….. naiklah."

Haruhiro melihat Ranta, kemudian mengalihkan pandangannya pada Manato. Mereka berdua seolah-olah tampak seperti tersambar petir. Tidak mungkin, pikir Haruhiro. Tapi tekad Mogzo sudah mengeras layaknya beton. Dapatkah mereka menolak tawaran langka ini? Tidak, mereka tidak bisa. Tidak mungkin.

Tidak ada pilihan lain.

Haruhiro mengangguk pada Manato. Tapi, siapakah yang akan duluan? Haruhiro tidak masalah jika dia harus mengintip belakangan, atau bahkan urutan terakhir. Seseorang yang paling antusias terhadap hal ini adalah Ranta. Tapi Ranta malah menangis. Dia benar-benar menangis, dengan air mata yang bercucuran di pipinya sembari hidungnya dipenuhi ingus. Tanpa repot-repot mengusap ingusnya, dia pun menepuk punggung Mogzo.

"Sialan, Mogzo. Jangan membuat aku menangis seperti ini!”

"Oy!" Kata Haruhiro, lalu dia berbalik menghadap jendela untuk mengintip. Namun, Manato dengan sigap menyela di depan Haruhiro.

"Mengapa Yume mendengar suara Ranta!?" kata Yume dari dalam pemandian.

"Sial!" Ranta mulai bersiap-siap untuk kabur sembari meneriakkannya dengan suara lantang.”Itu bukan aku! Aku tidak ada hubungannya dengan ini semua! Itu adalah suara Mogzo! Ini semua adalah kesalahan Mogzo! Aku tidak melihat atau mendengar apapun!”

Mogzo berbalik dengan cepat, dan terdengar jeritan Shihoru dari dalam.

"Ranta bodoh!" Yume menendang dinding dari dalam.”Cabul! Idiot! Dasar pembersih alat kelamin! PERGILAH KE NERAKA DAN JANGAN BALIK LAGIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII!”


Damroww


Mereka mengakui segala kesalahannya pada Yume dan Shihoru, dan kemudian meminta maaf dengan sepenuh hati. Haruhiro, Manato, dan Mogzo, melakukan hal itu. Namun Ranta masih bersikeras bahwa dia tidak melihat apa-apa. Jadi, tidak perlu membuat keributan tentang hal itu. Dan dengan demikian, baik Yume maupun Shihoru masih murka pada Ranta, dan mereka mengabaikannya sejak saat itu.

Namun, sepertinya kerjasama tim tidak memburuk hanya karena insiden itu. Bahkan, mungkin tidak berefek. Keesokan harinya, hari setelah itu, dan hari setelah itu, mereka tidak mendapatkan penghasilan yang banyak. Maksud dari "tidak mendapatkan banyak penghasilan," adalah : "mendekati nol". Dan maksud dari "mendekati nol" adalah : "benar-benar nol."

Haruhiro tidak ingin ada orang yang bertanya tentang keadaan keuangannya saat ini, jadi dia juga tidak tahu keadaan keuangan teman-temannya. Tentu saja, ia sangat menyadari berapa banyak uang yang masih ia simpan. Selama tiga hari terakhir, ia telah menghabiskan empat belas, tiga belas, dan dua belas perunggu setiap hari. Itu berarti, tiga puluh sembilan perunggu telah melayang tanpa ada sepeser pun pemasukan. Jika dia masih harus membayar 1 perunggu untuk biaya deposito pada Bank Yorozu, maka total jumlah uang yang Haruhiro miliki adalah 1 perak + 49 perunggu.

Semua pertimbangan untuk kebutuhan sehari-hari seperti pisau cukur atau cadangan pakaian, kini telah lenyap. Keinginan untuk tinggal di pondok yang lebih baik? Itu bagaikan mimpi konyol sekarang. Jika ia menghabiskan satu perunggu untuk makanan per hari secara berturut-turut, maka berapa lama lagi dia bisa bertahan? Itulah fakta yang membuatnya tertekan.

Pendapatan mereka benar-benar nol selama tiga hari berturut-turut, ini menyebabkan keputus-asaan menginggapi anggota Party tersebut, dan mereka tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun ketika pulang ke pondok di malam hari. Mereka semua hanya langsung menuju ke tempat tidur, tapi bukan berarti mereka bisa tertidur secara langsung. Tak seorang pun di antara mereka bisa tenang pada situasi macam ini.

Seperti itulah yang Haruhiro pikirkan, sampai akhirnya ia mendengar dengkuran Ranta dari tempat tidur di sampingnya. Anak itu benar-benar luar biasa. Walaupun pada awalnya Haruhiro merasa jijik padanya, namun sekarang dia menemukan sesuatu yang bisa membuatnya terkesan pada Ranta. Mungkin akan lebih baik baginya untuk pergi tidur saja, daripada terus berpikir tentang masa lalu. Hari ini sudah berakhir, dan ia tidak bisa berbuat apa-apa. Mungkin besok akan terjadi sesuatu yang lebih baik. Menyongsong esok hari adalah hal yang lebih penting daripada memikirkan hal yang sudah terjadi hari ini. Jadi, apa yang akan mereka lakukan besok?

Memperbaharui perburuan mereka untuk monster. Walaupun mereka hanya mendapat satu perunggu, itu lebih baik daripada tidak ada. Tidak juga….. 1 perunggu benar-benar hasil yang buruk. Dia ingin mendapatkan lebih banyak uang. Uang sebanyak-banyaknya. Dia bertekad untuk memiliki lebih dari apapun. Saat ia mulai terbenam pada tempat tidurnya, ia merasa gerakan seseorang yang masih terbangun.

"Manato?" Haruhiro memanggil dengan ragu-ragu.

"Ada apa?"

"Mau pergi ke mana? Ini sudah larut malam. Atau, mungkin kau mendapatkan mimpi buruk. Mau pergi ke kamar mandi?"

"Tidak" Manato berdiri.”Aku akan keluar sebentar. Tidak penting, jadi jangan mengkhawatirkan aku. Aku akan segera kembali."

"Pergi keluar di tengah malam? Mau ke mana?"

"Ini masih belum terlalu larut malam," kata Manato, ia pun melintas sembari tersenyum.”Aku akan segera kembali. Hari ini cukup panjang dan melelahkan, jadi istirahatlah dengan baik.”

"Ah, baiklah kalau begitu." Walaupun dia mengatakan demikian, Haruhiro berpikir bahwa mungkin akan lebih baik jika dia tidak membiarkan Manato pergi sendirian. Tapi sudah terlambat. Dia sudah pergi.

Masih sedikit khawatir, Haruhiro pun mengajak berbicara santai pada Mogzo yang masih terjaga, dan setelah beberapa saat, akhirnya dia jatuh tertidur. Ketika ia terbangun, Manato telah kembali, dan sudah bangun terlebih dahulu.

"Pagi, Haruhiro," Manato mengucapkan selamat pagi.”Aku pikir, kita harus mencoba pergi ke tempat yang berbeda hari ini. Bagaimana menurutmu?"

Rupanya, Manato tadi malam pergi ke Kedai Sherry yang terletak di Jalan Kaen, untuk mengumpulkan informasi dari Anggota Crimson Moon lainnya. Pada kedai itu, tampaknya dia saling traktir minum dengan orang-orang lainnya, sehingga pagi ini dia masih tampak sedikit mabuk. Tapi ini bukan masalah mabuk, hal yang jauh lebih penting adalah, Manato menghabiskan sejumlah uang untuk mentraktir minum, agar mendapatkan informasi.

"Kau harusnya mengajak aku tadi malam," kata Haruhiro.

"Haruhiro, kau bisa minum?"

"Aku tidak tahu." Haruhiro mengusap bagian belakang lehernya.”Aku tak pernah ingat apakah aku kuat minum ataukah tidak.”

Manato tersenyum nakal.”Aku tidak membenci minum, jadi aku pergi ke sana untuk setengah bersenang-senang. Mungkin sebagian dari diriku memang ingin mabuk-mabukan sedikit dan melupakan semua ini."

Kemudian, ketika Manato mengajukan saran untuk mengubah lokasi dengan yang lainnya, mereka semua langsung setuju. Semuanya sudah muak dengan berburu di hutan.

Ada suatu kota yang terletak sekitar satu jam perjalanan, yaitu kira-kira dua setengah mil ke arah Barat Laut Altana. Pada kenyataannya, itu adalah suatu kota terbengkalai. Saat ini, tidak ada seorang pun, bahkan seorang anak pun yang hidup di sana. 80% dari tembok pertahanan yang mengelilingi kota itu sudah hancur. 60 – 70 % bangunannya juga sudah hancur, bahkan runtuh. Puing-puing berserakan di mana-mana, tanaman liar tumbuh di sana-sini, pedang berkarat, tombak, dan senjata lainnya berbaring berserakan, atau mencuat dari tanah. Dan yang paling menakutkan, sisa-sisa kerangka manusia juga bisa dilihat di seluruh area tersebut.

Hewan yang tidak mirip seperti anjing ataupun kucing berkeliaran pada dinding-dinding yang runtuh dan atap rusak. Tapi mereka segera menghilang karena merasakan kehadiran Haruhiro dan yang lainnya. Suara mengaok yang nyaring bisa didengar, dan ketika mereka berbalik pada sumber suara itu, mereka melihat belasan burung gagak sedang bertengger pada sisa-sisa bangunan.

Dahulu kala, Damroww adalah kota terbesar kedua pada Kerajaan Aravakia, bahkan jauh lebih besar daripada Altana. Namun, ketika Deathless King dan konfederasinya menyerang, tempat itu berubah menjadi kota Undead. Sekarang, semuanya berbeda. Setelah kematian Deathless King, para Goblin yang sebelumnya menjadi budak, memberontak dan mengusir para Undead keluar dari kota. Lantas mereka mengklaim kota tersebut sebagai wilayah kekuasaannya. Damroww sekarang menjadi kota Goblin.

Namun, tempat yang terletak di wilayah tenggara kota itu adalah “Kota Tua Damroww”, yaitu bagian kota yang sudah diabaikan oleh para Goblin. Meskipun begitu, masih ada beberapa Goblin yang seliweran di sana. Ada beberapa.

"Hanya ... satu?" Haruhiro bersembunyi di balik dinding yang seakan-akan dinding itu bisa roboh kapan pun jika dia menumpukan berat badan padanya. Dia sedang berada pada reruntuhan suatu rumah, yang hanya tersisa pondasinya saja.

Dia adalah seorang Thief, sehingga tugas pemanduan telah diserahkan kepadanya. Namun, ia tidak memiliki skill [STEALTH WALK] atau [STEAL]. Yang paling dia kuasai hanyalah [PICK LOCK], dan itu membuat dirinya tak berbeda dengan seorang pencuri yang hanya bisa merampas dompet milik nenek tua. Apakah orang seperti dia layak mendapatkan tugas pengintaian untuk kepentingan Party?

Goblin lumpur yang pernah mereka bunuh di hutan hanyalah salah satu dari sekian banyak spesies Goblin. Salah satu yang Haruhiro ditemukan di sini tentu menyerupai Goblin lumpur dengan kulit kekuningan, tetapi monster itu tidak tertutup dalam tanah. Dan juga, dia berpakaian dan memiliki semacam senjata mirip pentungan yang digantungkan pada pinggang. Ada juga semcam kantong yang diikatkan secara horizontal pada tubuhnya.

Bedanya adalah, Goblin lumpur cenderung lebih suka menggantungkan barang-barang mereka pada kalung di leher, sedangkan Goblin ini menyimpan benda-benda tersebut di dalam kantong. Segala sesuatu yang mereka anggap berharga disimpan di sana, setiap saat.

Goblin yang Haruhiro amati, kini sedang duduk sendirian di tanah. Dia dengan kasar menyilangkan tangan pada dada, dan bersandar pada dinding. Dia menundukkan kepalanya ke bawah dan menutup mata. Waktunya masih siang hari, jadi sepertinya dia sedang menikmati tidur siang. Haruhiro bergegas kembali ke tempat di mana anggota Party lainnya sedang menunggu. Dia begitu berhati-hati agar tidak membuat kegaduhan apapun.

"Salah satu Goblin tampaknya sudah tertidur," lapornya.

"Baiklah kalau begitu. Mari kita pergi untuk membunuhnya.” Ekspresi Manato menegang ketika ia melanjutkan perkataannya.”Armor milik Mogzo akan membuat suara, tidak peduli seberapa pelan langkah kakinya. Oleh karena itu, Haruhiro, Ranta, dan aku akan mendekat terlebih dahulu. Mogzo, Yume, dan Shihoru mengikuti dan mendekat setelah kami pergi. Kami bertiga akan mencoba untuk mendekat dan membunuhnya dengan satu kali serangan tanpa membangunkannya. Namun, jika dia benar-benar bangun, Yume, kau bidik dia dengan menggunakan busurmu, dan Shihoru, bidik dia dengan sihirmu. Mogzo, datang dan dukung kami secepat yang kau bisa. Jika terjadi perkelahian sengit, maka gunakankan formasi yang sama seperti sebelumnya. Semuanya mengelilingi si Goblin, dan jangan pernah memberikan kesempatan lolos padanya."

Semuanya mengangguk sebagai balasan. Mereka tidak menghasilkan uang sepeser pun dalam tiga hari terakhir, sehingga bahkan Ranta sekalipun sangatlah serius kali ini.

Haruhiro dan Ranta berangkat terlebih dahulu dengan dipimpin oleh Manato. Mereka sampai pada sisa-sisa bangunan dalam waktu singkat, kemudian berbagai hal akan semakin sulit. Reruntuhan bangunan penuh dengan puing-puing material, sehingga setiap kesalahan akan berakhir dengan bencana. Bergerak menuju Goblin yang tertidur ternyata menghabiskan lebih banyak waktu daripada yang mereka duga sebelumnya. Beberapa kali, langkah kaki mereka membuat kegaduhan.

Akhirnya, mereka berada pada 2 atau 3 langkah dalam jangkauan serang. Mogzo dan yang lainnya masih berjaga-jaga di luar kawasan puing-puing bangunan. Manato, Haruhiro, dan Ranta saling bertukar tatapan. Ranta kemudian menunjuk dirinya sendiri. Haruhiro bertanya-tanya, apakah tidak masalah jika Ranta mendapatkan hak untuk menyerang terlebih dahulu, tapi Manato melambaikan tangan untuk mengisyaratkan agar terus maju.

Ranta melepaskan nafas yang sudah dia tahan sejak tadi ketika mendekati Goblin. Daripada repot-repot mengayunkan pedangnya dengan keras, dia lebih memilih untuk menusukkannya tepat pada kepala Goblin agar monster itu mati seketika. Goblin pun membuka matanya dengan kasar. Begitu dia melihat Haruhiro dan yang lainnya, dia langsung sadar apa yang sedang terjadi.

Dengan teriakan keras, dia mengulurkan tangan untuk mencengkram kepala Ranta. Ranta merunduk sembari berteriak pada Manato, "Awas!" Dan Manato pun langsung memutarkan tongkat pendeknya untuk memukul Goblin pada lengan dan kepala secara berurutan.

"Sialan!" Ranta mendorong pedangnya ke arah Goblin, kemudian menusuknya dengan gerakan memutar.

Haruhiro tidak bergerak sedikitpun bagaikan pria lemah syahwat. Jika dia menyerang sekarang, ia memiliki perasaan bahwa dia hanya akan mengganggu Ranta dan Manato yang sedang berkosentrasi penuh untuk bertarung. Goblin itu meronta-ronta, dan mengumpat dengan menggunakan bahasa yang sama sekali tidak mereka pahami, namun secara bertahap dia berhenti bergerak.

Goblin lumpur itu terdiam tanpa gerak. Apakah karena mereka menangkap yang satu ini dalam keadaan tertidur dan tidak sadar? Tak lama kemudian, dia masih tertidur.

"... Apakah kita membunuhnya?" Ranta bernapas berat sembari ia membungkuk ke depan dan melihat wajah Goblin dari jarak dekat.

Haruhiro membayangkan bahwa si Goblin akan bangun seketika dan menggigit hidung Ranta, tapi itu tidak pernah terjadi. Manato memejamkan mata sebentar dan menggambar heksagram di udara. Sudah berakhir.

Mogzo, Yume, dan Shihoru memasuki area puing-puing bangunan. Ranta menempelkan sepatunya di kepala Goblin dan menariknya pedangnya sembari bergumam, "Kita dapatkan cakarnya, atau sejenisnya ... Harus mendapatkan Vice, harus mendapatkan Vice ...”

Manato dengan semangat melepas kantong Goblin dari tubuhnya, lantas membukanya. Mata Haruhiro melebar.”Perak!"

Apakah Goblin memiliki kegemaran untuk mengumpulkan koin buatan manusia? Dan bukan hanya satu perak koin, tapi ada empat di sana. Tidak seperti koin yang sebelumnya mereka temukan pada Goblin lumpur, kali ini tidak ada lubang pada perak-perak tersebut. Ada juga batu seperti gelas yang bentuknya ramping, dan tulang yang bentuknya seperti jari hewan.

Mata Yume menyipit, dan dia mendesah.”Wow. Ini adalah rekor. Dan kita mendapatkannya hanya dengan membunuh Goblin kedua ...”

"Empat perak." Shihoru berkedip lagi dan lagi, dan dia pun kehabisan kata-kata.

Mogzo hanya ternganga tanpa kata.

Manato mendongak ke langit. Lalu ia menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya. ”Tidak, belum. Kita harus terus maju. Kali ini memang lebih mudah, tapi kemudahan tidak datang selamanya. Sekarang bukan waktu untuk bersantai. Kita perlu mencari target berikutnya.”

"Manato," Ranta menepuk punggung Manato.”Jangan terlalu tegang. Kita akhirnya mendapat kemenangan besar pertama! DAN INI SEMUA BERKAT DIRIKU! Kenapa kita tidak merayakannya?”

Ekspresi Manato menjadi tegas untuk sesaat, tapi kemudian, senyum lebar langsung merekah di wajahnya. ”Kau benar. Bukannya aku keberatan merayakan kemenangan ini. Dan kerjamu hari ini sangat bagus, Ranta.”

"Memang! Itu karena aku sungguh menakjubkan! Terutama, ketika senyum kejam muncul di wajahku sembari aku tujuk Goblin itu. Aku terlihat seperti Super Dark Knight!”

"Ah." Haruhiro mengibaskan tangan. ”Kau hanya mengayunkan pedangmu dengan penuh keputusasaan.”

"Bodoh! Aku menghancurkan kepala Goblin itu dengan gampangnya! Apa sih yang kau lihat?! Ohhh, tentu saja! Kau tidak melihat apa-apa karena matamu selalu ngantuk!”

"Selalu saja mengatakan hal yang sama berulang-ulang. Maaf, tapi kali ini aku tidak termakan umpanmu.”

"Tidak! Kumohon, termakanlah oleh umpanku…. Kalau tidak, aku akan sedih ...”

Untuk sementara waktu, semuanya tertawa dan menikmati saat-saat itu. Kemudian, seperti yang Manato sarankan, mereka meneruskan perburuan berikutnya dengan serius. Semuanya berjalan dengan baik di daerah Kota Tua Damroww. Jika diingat kembali apa yang terjadi sebelumnya, maka ini adalah suatu pencapaian yang tak terlupakan.

Menjelang malam, mereka telah membunuh empat Goblin termasuk yang sedang tidur tadi, dan telah terkumpul 8 perak dari 4 kantong yang berhasil mereka rampas. Ada juga batu mirip kaca, batu hitam, batu kemerahan, tulang, taring, semacam benda mirip kunci, gigi kecil, dan beberapa jenis benda logam. Mereka menjual semua barang (kecuali koin perak) di pasar, dan mendapatkan tambahan sebesar 2 perak dan 45 perunggu.

Pendapatan dibagi rata, sehingga setiap orang mendapatkan 1 perak dan 74 perunggu. Tersisa 1 perunggu untuk dijadikan uang kas. Haruhiro menggunakan 15 perunggu untuk makan dan biaya penginapan sehari, berarti dia sekarang memiliki total 3 perak dan 8 perunggu. Jika perburuan besok berjalan lancar, Haruhiro memutuskan bahwa ia akan membeli cadangan pakaian dan pisau kecil.

Namun, hari berikutnya tidak berjalan selancar kemarin. Mereka telah menemukan kelompok lima Goblin tapi, meskipun Ranta ingin menyerangnya, semua anggota Party memutuskan untuk menghindari mereka. Tanpa strategi serangan kejutan, mereka hanya akan melawan mereka 1 vs 1. Dua Goblin saja sudah berbahaya, apalagi lima.

Haruhiro berpikir bahwa itu adalah keputusan yang benar, tapi seakan-akan malam datang lebih cepat pada hari itu, dan mereka tidak lagi menemukan kawanan Goblin. Akhirnya, ketika mereka hendak kembali ke Altana, mereka tak sengaja bertemu dengan seekor Goblin, sehingga terjadilah suatu pertarungan.

Pada akhirnya, pendapatan mereka untuk hari ini hanyalah sekeping perak. Hanya sekeping tunggal ... tapi jika tidak disyukuri, sepertinya hanya akan menambah beban pikiran. Ketika mereka berpikir bahwa mereka akan pulang dengan tangan kosong, ternyata masih ada rezeki 1 perak. Dengan demikian, Haruhiro pun harus ikhlas. Sedikit lagi, uangnya akan cukup untuk membeli berbagai kebutuhan pribadi.

Pada hari ketiga mereka di daerah Kota Tua Damroww, mereka memutuskan untuk menggambar peta lokasi perburuan. Yahh, Manato lah yang pertama kali mengagaskan ide untuk menggambar peta. Dia menggambarnya pada buku catatan dan kuas. Manato bersikeras untuk mencatat setiap gambar daerah dan tempat-tempat di mana Goblin sering muncul. Itu akan menjadi informasi berharga suatu hari nanti.

Ternyata, membuat peta sembari berjalan-jalan di sekitar wilayah kota tua adalah pekerjaan yang cukup menyenangkan.”Ayo kita melihat-lihat di sini ...” atau "kita belum pernah lewat sini...” Mereka secara alami sanggup menghafalkan jalan karena mereka telah menjelajahi banyak tempat. Mereka akan gugup ketika memasuki daerah yang tidak ada pada peta. Sebaliknya, mereka merasa rasa aman jika melewati daerah yang sudah mereka petakan.

Mereka membunuh tiga Goblin hari itu, dan setelah menjual hasil rampasan, laba yang mereka peroleh berjumlah 74 perunggu untuk masing-masing anggota Party. Mereka belum puas dengan uang sejumlah itu. Namun, Yume dan Shihoru masih ingin pergi berbelanja, sehingga Haruhiro menemani mereka ke pasar.

Kebetulan, dia menemukan pedagang yang menjual pakaian dalam. Dia sudah menawarnya sekuat tenaga, namun pada akhirnya dia harus membayar 25 perunggu pakaian dalam yang tampak seperti barang bekas. Meskipun begitu, sekarang ia memiliki pakaian cadangan. Ia juga memerlukan sesuatu untuk membawa barang-barangnya, sehingga Haruhiro memutuskan untuk membeli ransel. Anehnya, ransel bekas berharga murah lebih mudah ditemukan, dan Haruhiro hanya perlu membayar 30 perunggu untuk mendapatkan suatu ransel yang tampaknya cukup kokoh. Dibandingkan dengan pakaian, dia merasa bahwa ransel itu lebih baik.

Ketika mereka kembali ke pondok, semuanya berbicara tentang apa yang dijajakan oleh toko, jenis barang apa yang ingin mereka beli selanjutnya. Ketika semakin banyak bicara, maka semakin banyak pula keinginan yang terbersit di benak mereka, sampai-sampai mereka susah tidur. Namun, Ranta yang sebelumnya banyak omong, tiba-tiba mendengkur. Dan Mogzo pun menyusulnya.

Haruhiro juga sudah memutuskan bahwa inilah waktunya untuk beristirahat. Dia lelah dan merasa agak mengantuk, tapi entah kenapa kesadarannya menolak untuk memejamkan mata.

"Manato?" Dia coba memanggil rekannya, dan seperti yang sudah diduga, Manato juga masih terjaga.

"Ya?" Terdengar balasan dengan cepat.

Meskipun Haruhiro lah yang memanggil terlebih dahulu, bukan berarti dia memiliki topik khusus yang ingin dibahas. Tidak juga, seharusnya ada banyak hal yang bisa menjadi topik pembicaraan. Namun, tak satu pun terlintas pada pikirannya. Tetapi, memanggil tanpa memulai percakapan adalah hal yang aneh, sehingga dia pun harus membicarakan sesuatu.

Setelah beberapa saat kebingungan memilih topik pembicaraan…..

"Terima kasih." Kata itu terucap secara tak sengaja dari mulut Haruhiro, sampai-sampai dia merasa sedikit malu.

"Kenapa tiba-tiba berkata begitu?" Manato menyeringai. ”Akulah orang yang seharusnya berterimakasih pada kalian.”

"Kau ... berterimakasih? Mengapa?"

"Terimakasih untuk semuanya. Dan juga untukmu, karena telah menjadi sahabat sejati. Aku benar-benar bersyukur. Mungkin terdengar aneh jika aku mengatakan hal seperti ini sekarang, tapi aku benar-benar bersyukur."

"Tidak, itu sama sekali tidak terdengar aneh, tapi ..." Haruhiro menggigit bagian dalam pipinya.”Hanya saja, kami selalu saja membuatmu kerepotan setiap hari. Jika tanpamu…. Mungkin kami tidak bisa tidur di tempat seperti ini sekarang."

"Aku pun demikian. Jika bukan karena dirimu dan yang lainnya, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku. Tidak peduli berapa kali aku memikirkannya, tidak mungkin aku bisa bertahan hidup sendirian.”

Haruhiro ragu-ragu tentang apa yang ingin ia katakan selanjutnya, tapi dia bukanlah tipe orang yang pandai memendam perasaannya, dan dia juga tidak sanggup selalu memendam perasaannya. ”Mudah-mudahan kau tidak salah sangka, tapi menurutku, kau bisa mencari teman sebanyak yang kau mau. Kau bisa meminta untuk bergabung dengan Party manapun, dan mereka pasti tak keberatan menerima orang dengan kemampuan seperti dirimu.”

"Party anggota Crimson Moon lainnya? Jujur, aku tidak pernah mempertimbangkannya. Aku tidak terlalu suka merepotkan orang lain, dan aku sendiri tidak yakin bisa melaksanakan perintah dari bosku. Namun, tentu saja aku tak ingat seperti apa diriku sebelum terjebak di tempat ini, jadi aku tidak benar-benar paham.”

Dan dengan terkejut, Haruhiro tiba-tiba teringat. Perasaan itu datang ketika ia mencoba untuk mengingat sesuatu pada kehidupannya sebelumnya. Perasaan itu, seolah-olah suatu memori hilang tanpa jejak tepat ketika dia hendak mengingatnya. Sejauh ini, dia sudah disibukkan oleh banyak hal, sehingga dia lupa akan hal itu.

"Aku juga," kata Haruhiro.”Aku tidak ingat apa-apa."

"Tapi aku punya perasaan ..." Kemudian Manato berhenti, tampaknya dia sedikit ragu-ragu untuk melanjutkan. ”……bahwa aku bukanlah tipe orang yang memiliki banyak teman.”

"Itu ..." yang Haruhiro benar-benar ingin katakan adalah : Tidak, kau salah. Tapi dia terdiam. Bagaimanapun juga, ia tidak tahu orang seperti apakah Manato sebelum datang ke sini. Begitu pun sebaliknya. Manato juga tak pernah mengenalnya.

Baik Haruhiro maupun Manato tidak tahu apapun tentang diri mereka sendiri. Semakin ia mencoba untuk mengingatnya, maka dia akan semakin bingung. Sehingga, ia memutuskan bahwa lebih baik dia tidak memikirkannya sama sekali. Saat ini, tidak ada gunanya memikirkan tentang hal itu, dan dia juga tak tahu harus mulai dari mana. Lagipula, mereka punya masalah yang lebih menyita pikiran, yaitu mendapatkan uang untuk melanjutkan kehidupan.

"Tidak peduli siapapun kau di masa lalu," kata Haruhiro sambil mengupayakan nada bicara yang penuh dengan semangat. ”Dan tak seorang pun ingin mengetahui bagaimana dirimu di masa lalu. Yang penting adalah, kau sekarang adalah rekan sekaligus pemimpin kami. Kami akan berada dalam kesulitan jika kau tidak berada di sekitar kami.”

"Aku juga tidak akan mampu melalui ini semua tanpa kalian."

Haruhiro mengangguk, walaupun Manato tidak bisa melihatnya karena dia berada di bawah. Haruhiro harus mengatakan sesuatu sebagai respon. Apa pun itu. Namun, ketika Haruhiro mencoba memutar otaknya untuk merangkai kata-kata, Manato terkikik dengan lembut.

"Tapi, bukankah itu aneh?" Lanjut Manato.”Semua yang kita lakukan selama ini adalah hal yang aneh, bukan? Berburu dengan pedang dan melantunkan sihir…. Bukankah ini semua mirip dengan suatu permainan?”

"Suatu permainan, huh?" Haruhiro berkedip dan memiringkan kepalanya ke satu sisi.”Permainan. Kok bisa?"

Beberapa saat, Manato terdiam untuk berpikir. ”Aku tidak tahu. Tapi seperti yang telah aku katakan…. Ini begitu mirip permainan. Paling tidak, seperti itulah yang aku pikirkan.”

"Tidak…. kau benar juga….. aku baru sadar. Suatu permainan ... Tapi permainan macam apa?"

Rasa ketidaknyamanan mulai menginggapi pemikiran mereka. Seolah-olah, ada sesuatu yang menyangkut di tenggorokan, namun tidak bisa dimuntahkan. Namun, sepertinya akan jauh lebih baik jika dia “menelannya” dalam-dalam. Ini bukan waktu dan tempat yang tepat. Besok mereka akan menuju ke Damroww lagi.

Haruhiro menguap. Sepertinya, kali ini dia benar-benar akan tertidur.

Lanjutannya akan saya update Nanti:

Hai to Gensou no Grimgar Volume 1

      • Jangan Pergi
      • Sekarang, Ke Mana Harus Berbelok?
      • Potongan yang Penting.
      • Koin Perak Adalah Emas.
      • Permohonan Maaf
      • Bertujuan Meraih Puncak.
      • ........................................