Begini Rasanya Menjadi Anak Pertama dari Keluarga yang Bercerai. Soal Luka, Sesal, dan Pendewasaan Diri yang Membentuk Diri Saya Saat Ini
- trivia.id
- rezitarani
- Diterbitkan 01.00, 01/10/2017
- Diperbarui 04:20, 21/03/2019
Perubahan terbesar dalam hidup saya terjadi ketika kedua orang tua saya harus berpisah. Saat itu saya baru berusia 16 tahun (kelas 12) dan orang tua saya sudah sering sekali bertengkar di depan anak-anaknya. Saya adalah anak pertama dari 2 bersaudara. Ketika kedua orang tua saya bertengkar, saya dan adik laki-laki yang saat itu baru berusia 13 tahun hanya bisa diam di dalam kamar, sambil menangis, dan berharap kebisingan itu segera berhenti.
Tidak hanya pertengkaran mulut yang kami dengar, tak jarang juga pertengkaran disertai jerit kesakitan ibu. Saat itu yang saya ingat, adik saya mendekati saya tanpa bertanya dan berkata apa pun, namun air matanya terus mengalir deras, tanpa suara. Kami hanya diam dan ketika pertengkaran kedua orang tua kami berhenti, kami dengan kompak pura-pura tertidur. Meski mungkin orang tua kami paham betul, terutama ibu kami, tahu kami hanya berpura-pura.
Mencari kesibukan sebagai cara saya mengatasi emosi dan perasaan yang tidak stabil ternyata berdampak negatif
Sebagai anak pertama, namun dengan usia yang masih muda dan labil saat itu, saya bahkan tidak tahu harus apa. Beruntung banyak teman yang dengan sangat baik mau menemani, mendengar, dan senantiasa bersabar meski saya sering menangis tiba-tiba. Saat itu saya sedang disibukkan kegiatan ektrakurikuler seni drama teater di sekolah. Latihan dari sore hingga malam hari.
Jadilah saya punya banyak kesempatan untuk tidak mendengarkan pertengkaran yang terkadang tiba-tiba saja muncul. Saat itu saya berusaha untuk sesering mungkin bertemu dengan teman-teman saya agar kesedihan yang saya rasakan bisa menghilang. Mereka seperti obat untuk saya. Namun, saya merasa menyesal ketika saya membiarkan adik saya menyaksikan sendiri pertengkaran itu di rumah tanpa saya temani.
Saya paham betul, pasti ia mencari saya dan merasa sangat tertekan. Saya sering berada di luar rumah, di tempat latihan teater hingga sering menginap. Adik saya selalu menunggu saya pulang, tapi kala itu saya tak menyadarinya. Jujur, saya tidak cukup berani untuk bicara pada kedua orang saya, jadi saya hanya diam dan melampiaskan emosi saya dengan sering bertemu dengan teman, menyibukkan diri ikut ektrakurikuler tersebut. Saat itu saya merasa teater jadi rumah kedua yang jauh lebih nyaman.
Tanpa saya sadari, perpisahan kedua orang tua memberi perubahan besar pada hidup dan diri saya sendiri
Saat lulus sekolah dan mau mulai kuliah, kedua orang tua saya sudah mulai mengurus perceraian mereka. Sejak mereka sering bertengkar sebelumnya, saya merasa kedua orang tua saya berusaha mencari perhatian anak-anaknya. Yang saya tahu mereka berharap, kami bisa ikut salah satu dari mereka. Kebetulan saat itu usia saya sudah 17 tahun. Saya sibuk mengurus pendaftaran kuliah, mereka mengurus perceraian, dan mengurus sekolah adik saya yang saat itu akan masuk ke pesantren.
Setelah mulai perkuliahan, saya izin dengan orang tua saya untuk tinggal di kos dekat kampus. Beruntung, setelah bicara dan merayu cukup lama, saya diizinkan. Bukan tanpa alasan saya memilih untuk kos, dan saya yakin bukan tanpa alasan juga adik saya memilih untuk masuk pesantren. Kami hanya sulit untuk memilih akan ikut dengan siapa ketika mereka benar-benar berpisah. Sejak kedua orang tua saya sering bertengkar dan akhirnya bercerai, saya merasa dipaksa untuk dewasa sebelum waktunya. Saya berusaha menjadi sosok yang harus madiri, harus melakukan segala hal dengan baik tanpa cela. Tujuannya, agar orang-orang di sekitar saya tidak mencibir saya dan adik atau pun kedua orang tua kami.
Saya benci ketika semua orang terlalu memanjakan saya karena mungkin mereka beranggapan kami butuh kasih sayang lebih karena orang tua kami bercerai. Saya memaksa diri untuk bisa menjadi anak yang setidaknya tidak mempermalukan kedua orang tua. Saya anak pertama mereka, saya hanya tidak mau membuat mereka kecewa karena kelakuan saya di luar sana. Yang saya tahu, saya hanya perlu menjadi anak yang baik.
Seandainya saya bisa kembali ke masa lalu, saya ingin sekali menyampaikan ini kepada orang tua dan adik saya
Saya ingin bilang kalau saya sedih, tapi saya bersyukur lahir dalam keluarga ini, karena saya dapat pelajaran yang tidak semua orang dapatkan. Saya jadi salah satu orang yang dipilih Tuhan menjadi anak yang kuat. Saya ingin meminta maaf kepada mereka kalau mungkin dulu saya anak yang nakal, sehingga mereka harus bercerai. Meski hingga kini saya tidak tahu pasti apa penyebab mereka bercerai. Saya ingin bilang, saya sayang banget sama Mama dan Ayah.
Saya ingin ibu dan ayah saya bahagia dan tidak terbebani karena anak-anaknya. Saya juga ingin minta maaf kepada adik saya, karena ketika orang tua kami bertengkar hebat, mungkin saya tidak bisa ada di sampingnya, sehingga tidak ada pegangan untuknya atau sosok yang menguatkan adik saya. Kini kami bahkan tidak akur seperti saat kecil dulu. Semua itu belum pernah saya katakan kepada kedua orang tua saya dan adik saya.
Jika teman atau orang terdekat kamu berada pada posisi yang serupa dengan saya, inilah yang mereka butuhkan, menurut pengalaman saya
Orang sekitar mungkin hanya perlu menemani mereka yang mungkin memiliki cerita serupa dengan saya. Karena memang kami hanya butuh ditemani, didengarkan, diarahkan untuk tidak berbuat hal yang merugikan kami. Kami tidak butuh tatapan nanar orang-orang karena hidup kami. Kami hanya butuh berada dalam lingkup yang bisa menguatkan kami, menemani meski tidak ada obrolan apa pun.
Dan, untuk keluarga yang akan selalu saya sayangi, saya ingin sekali menyampaikan ini:
Ada yang Rani paling sesali sampe sekarang, saat Rani nggak ada di samping Bintang (adik saya) waktu ayah sama mama mungkin lagi berantem, waktu Rani nginep berhari-hari di tempat latihan. Sekarang Bintang jadi anak yang sering melawan, emosian, gampang marah, kurang ajar sama mama dan ayah, cenderung nggak peduli sama keadaan kita sekarang yang kayak harus mulai menata hidup dari awal lagi. Bahkan Rani juga kayak nggak tau harus sbersikap apa supaya Bintang jadi anak yang baik. Karena kayak udah terlalu lama kita saling cuek, saling nggak peduli, saling diem-dieman kalau lagi bareng satu rumah. Rani sadar betul ada yang salah sama kita sampai kita segitunya padahal saudara kandung. Kadang iri sama kakak beradik lain yang bisa akur. Jadi anak pertama itu nggak mudah, apalagi saat menghadapi keadaan yang seperti ini. Gimanapun, anak pertama wajib jadi contoh adiknya, wajib bertanggung jawab sama keluarganya.
Untuk diri saya di masa lalu
#BeginiRasanya
Copas by today.line.me
→→→→→Clik←←←←←
Perasaan Anak Pertama dari Keluarga yang Bercerai
4/
5
Oleh
Fredi Ferdiansyah